Archive for the ‘string’ Category

Penyerbukan

January 4, 2012

Siang-siang gini, enaknya ngomongin tentang penyerbukan.  Yang mana menurut wikipedia, adalah ..

jatuhnya serbuk sari pada permukaan putik. Pada sebagian besar bunga, peristiwa ini berarti “jatuh pada bagian kepala putik“. Penyerbukan merupakan bagian penting dari proses reproduksi tumbuhan berbiji. Penyerbukan yang sukses akan diikuti segera dengan tumbuhnya buluh serbuk yang memasuki saluran putik menuju bakal biji. Di bakal biji terjadi peristiwa penting berikutnya, yaitu pembuahan..

Kadang diperlukan cara yang aneh biar penyerbukan berhasil, kayak penyerbukan pada salak, bunga jantannya harus dipotong terus di letakkan di bunga betina.

Ada juga yang perlu bantuan hewan lucu semacam lebah, kumbang ataupun kupu-kupu, atau malah burung.

Ada pula yang harus pakai bantuan angin, juga pake perantara air, biar sukses.

Untungnya, manusia bukanlah tumbuhan. Yang tak perlu perantara untuk menyerbuk *halagh*

Demikianlah.

*postingan opo iki 😐

Advertisements

Tukang Warung itu..

January 3, 2012

Kadang sebelum berangkat sekolah, si bungsu minta mampir ke warung di tengah perjalanan menuju sekoahnya, minta jajan.  Seperti halnya barusan pagi ini.

Warung tempat membeli jajan tadi lumayan lengkap, dan yang menyenangkan adalah pelayanannya yang cepat dan yang melayani pun ramah, full of senyum, yang wajar, tulus dan tak dibuat-buat. 

Beda dengan beberapa minggu yang lalu, mampir beli jajan di sebuah minimarket, dan suasananya bikin males.  Pintu minimarket memang sudah dibuka, dan dua pelayannya sibuk ngobrol, seakan tak peduli dengan pelanggan yang datang, kemudian masih sibuk nyapu-nyapu.  Bayangin tuh, hasil nyapu-nyapu di minimarket yang relatif tertutup dan tak sebegitu luas, debu euy !  Dan endingnya lebih parah, tak ada senyum sama sekali dari kasir, plis deh, jualan kok kayak ga niat toh..

Beda lagi di, kala berada di sebuah pusat pertokoan, ketemu dengan pelayan toko yang terlalu aktraktif nawar-nawarin dagangannya.  Atau kadang malah menguntit kemana pun saya melangkah, iya sih itu langkah preventif terhada hal-hil yang tak diinginkan terhadap pelanggan yang mungkin berniat ga baik.  Tapi tetap saja jadi tak nyaman.

Nah jadi kesimpulannya, tempat berbelanja yang nyaman itu seperti apakah ? *malah nanya*

 

catatan :

*cerita di atas berdasarkan survei eh pengalaman pribadi pada beberapa warung/toko.

Sunat Tahun Baru

January 2, 2012

Selamat tahun baru, bagi yang merayakan.  Marilah saya posting yang bermanfaat di tahun baru ini.  Tentang topik yang berkenaan dengan kelangsungan hidup umat manusia di atas bumi ini, yaitu : sunat.

Kalau urusan sunat menyunat pasti konotasi, implikasi, dan konjugasinya ke lelaki, padahal perempuan juga disunat juga, paling ngga di kampung saya sepertinya masih begitu adanya.

Cuma membandingkan saja sunat jaman sekarang dengan jaman saya dulu, sekarang sudah canggihh, yang paling sederhana pun sudah menggunakan jarum suntik dan peralatan medis yang steril.

Belum lagi sekarang ada bermacam metode semacam metode laser, metode cincin, yang mempermudah proses dan mempercepat penghentian darah yang keluar dari proses sirkumsisi.

Kalau dulu, dan sekarang juga masih ada sih, ahli sunat yang terkenal di kampung saya disebut habib.  Peralatannya sederhana, sepasang kayu yang dibentuk jadi semacam sumpit apa pinset ya ? pokoknya semacam itu lah.  Trus ga pake jahitan.  Dan alat pengeksekusinya pun bukan gunting, melainkan pisau yang amat tajam.

Nah kalo dipikir-pikir, malah lebih canggih metode gitu ya, ga perlu gunting, jarum suntik dan bius.  Hasilnya juga nganu, ya sama lah, intinya kan membuang lapisan preputeum, demi kebersihan begitulah.

Di seputaran Jogja juga ada katanya tradisional, bong supit namanya, yang konon hasilnya malah jauh lebih canggih dari metode konvensional.

Dan ah iya, sudah tahun baru aja, semacam sunat itu, tahun baru ini semoga lapisan yang tak penting bisa dibuang, menyisakan hal-hal terpenting hingga bisa mencapai tujuan yang diinginkan.

*sungguh perumpamaan yang aneh

—-

catatan :

*maaf tak ada skrinsut ataupun gambar dari proses maupun hasil dari sunat di postingan ini

Awal yang tak baik bukan berarti tidak baik nantinya

December 30, 2011

Saya jadi terinagt akan sebuah episode Amazing Race, balapan keliling dunia, satu-satunya mimpi yang tampaknya jelas tak terwujud *hloh malah curcol*

Di episode itu, biasalah menuju sebuah titik tempat, yang kalau nggak salah menuju mbuh dimana saya lupa *hening*, nah taksi yang ditumpangi salah satu tim ternyata rusak.  terpaksa lah berjalan kaki menuju tempat yang sudah ditentukan.

Ternyata, setelah menyelesaikan tugas yang sudah ditentukan, sebelum menuju titik berikutnya, semua tim harus membayar ongkos taksi terlebih dahulu, sementara jarak antara taksi dan tempat mereka berada lumayan jauh.  Jadi makan waktu lagi.

Akhirnya, sementara yang lain sibuk bayar taksi, tim yang tadi berjalan kaki, langsung aja melenggang ke tempat berikutnya.

Jadi kesimpulannya, hal yang awalnya dirutukin, dikira kesialan, siapa tahu justru awal dari keberuntungan.

*catatatan

*mudah-mudahan udah pada pernah nonton acara keren itu
*susah ternyata ngegambarin lewat tulisan, jadi kalo ga ngerti saya maklum kok
*judulnya ternyata mbulet, ya semoga saja paham walaupun saya juga bingung

Merasa Sedikit

December 29, 2011

Mari istirahat sejenak dari siang yang tampaknya adalah mau hujan tapi nyatanya tidak jadi.  Saya malahan teringat akan sepotong kalimat dari ustadz Maulana, yang masih terekam dari cuplikan acara tadi pagi di televisi.

Kata beliau .

‘merasa sedikitlah kala memberi,
dan merasa banyaklah saat diberi’

Saya sendiri, sering ngerasa kebalik aja euy.  Dikasih apapun sama siapapun, rasanya kadang ‘kok cuma segini sih ya?

Di lain waktu, kala ngasih apapun asma siapapun, mikirnya beraat amat.  Jadi teringat perkataan entah siapa, asli lupa. Katanya kadang ngasih buat parkir enteng aja, tapi giliran ngasih buat selain tukang parkir, rasa ngga relanya ampun-ampunan.  Tambah mikir yang macem-macem lagi, ya begitulah.

Demikianlah adanya, selamat melanjutkan makan bagi yang lagi makan siang-siang, dan mari saya teruskan lagi untuk ngapa-ngapainnya.

—–

*catatan

*ya ya ngomong dan ngetik emang kadang lebih enakan daripada ngelakuinnya
*terlalu banyak pertimbangan dalam apapun sering tak baik juga
*baru nyadar tumben ga inget inpotenmen pagi2 tadi

Diet Sederhana ala Orangtua Jaman Dulu

December 27, 2011

 

Kemarin mampir sebentar di toko buku, yak sekedar mampir, cuma melihat-lihat, tak membeli satupun jua *ga ada yang nanya woi*

Kebetulan ada diskon akhir tahun padahal, sangat menggoda, ya paling tidak survei dulu lah.  Dan ada satu buku tebal dengan cetakan lux yang menarik perhatian saya.

Yaitulah biografi Titiek Puspa, artis senior di negeri ini, ya ya salah satu bacaan favorit saya kebetulan adalah biografi seseorang, siapapun itu. Dan karena ada salah satu buku yang dipajang tidak terlapisi segel plastik, maka saya baca-baca saya bab pertamanya.

Isi awalnya  adalah tentang masa-masa kecil beliau yang sungguh merupakan sejarah hidup yang luar biasa, hidup di jaman penjajahan memang tak ada senang-senangnya.

Lalu ada bagian kecil yang menarik perhatian saya, yaitu kebiasaan bapak dan ibu beliau, yaitu puasa.  Tak cuma puasa yang biasa dijalankan sebagai ibadah, tapi juga puasa terhadap beberapa jenis makanan tertentu.  Mungkin kalo bahasa kerennya sekarang adalah diet.

Yang saya tahu sebelumnya sih ada yang namanya mutih, yaitu cuma makan nasi putih seharian.  Eh ternyata ada lima macam puasa lagi.

Kebiasaaan orang tua beliau yang lainnya adalah *saya lupa istilah-istilahnya* puasa makan yang mengandung garam, kemudian puasa dari makanan lain selain buah-buahan, cuma makan sayur-sayuran, dan cuma makan umbi-umbian.

Dan saya pikir itu logika kebiasaan orang-orang jaman dulu yang sudah teramat jarang dilakukan sekarang, yang membuat badan sehat, soalnya makanan yang dikonsumsi terkontrol secara tak langsung.

Contohnya puasa makan tanpa garam seharian, logikanya kan mengatur kadar garam dalam tubuh, kira-kira demikian.  Katanya kalo kebanyakan garam bisa darah tinggi pula.

Dan memang, program diet itu kan intinya adalah mengatur pola makan, biar pun pake program secanggih apapun, pake olahraga sekeras apapun, kalau tak bisa menahan diri dari godaan makanan ya ambyar semua programnya.

Tak pelak lagi, program ‘puasa’ adalah cara yang bagus buat diet, mungkin kalau sekarang ditambah lagi dengan puasa junkfood K

Demikianlah.

—–

*catatan*

*buku biografi mbak Titiek Puspa itu harganya lumayan euy, layak dibeli
*menahan godaan dari makanan enak itu memang .. sungguh..

*diet buku bagus itu juga kadang berat.. apalagi pas akhir tahun..

Tanggapan Iseng

December 23, 2011

Menengok tulisan cerdas punya Pokijan kemarin, jadi tertarik untuk menelaahnya, halagh menelaah, melihat kritik halus yang dibalut percakapan para tokoh yang namanya unik-unik.

Mari lihat pada cerita pertama, tentang Urban lifestyle? Iya jarang, soalnya lebih banyak dibahas di keluarga salingsiang yang lain, di curipandang.com ranahnya.

Kemudian tentang gender yang encouraging? Ah ide bagus ini, semoga suatu saat masbak Pokijan tersebut mau ngasih contoh yang keren.  Asli ditunggu sekali.  Walau kadang, sejak dulu ada yang membahasnya, tapi dengan gaya bahasa mereka masing-masing, tak seserius jurnal tentunya.

Dan soal diskusinya,iya bener sekali, kalo yang lebih mengasah otak, apalagi soal politik di Politikana kadang memang asik sih, tapi ya disini sekali lagi banyak yang bercerita dengan gaya masing-masing dan berwarna warni, itu mungkin bedanya 😀

Lalu soal …gak mencerdaskan ?. Isinya ngalor-ngidul
Hmm ini maksudnya nyindir saya ya ya ? karena sering nulis ga jelas ya ya ? *esmosi sendiri huehehehe
Saya rasa takada standar kan untuk sebuah tulisan itu cerdas apa nggak.  Semuanya punya caranya sendiri, ah kembali ke kalimat itu lagi hehehe maklumlah, saya juga susah merangkai kalimat cerdas, mudah-mudahan ntar ada yang mau ngasih contohnya ? 😀 
dan soal sekitar cinta-cintaan, patah hati, kesepian, kayak websites remaja , ya tapi isinya emak-emak?. Ya ga ada batasan kan untuk bercerita apa saja disini, semacam menjaga hak asasi manusia, termasuk untuk bercerita apa saja  😀

Kemudian .. seputar buku, film, DVD, CD, konser?  Nah, soal ini silakan tengok di curipandang.com dan bicarafilm.com , silakan aja tengok kesana, gan 😀

Trus , ..info kenceng soal sale, best buy or recommended products .. nah ide bagus juga, walo soal ginian jg sering dibahas di CP juga kayaknya, dan kalo soal info hangout itu sering dibahas di jalansutra.co.id…. Berkunjunglah kesitu bila sempat 😀.

Nah, kemudian soal seks duri lunak kayak bandeng presto ?. Itu dia tantangannya, bikin tulisan gituan tapi ya ga segitu-gitunya *bahasa apa ini*, keren kan ? :))

Terus tentang  Kesan selintas Ngerumpi tuh eksklusif banget, orangnya kayaknya saling kenal, jadinya kurang welcome sama orang baru apalagi sama debat. Lah justru kebalikannya lah, disini semua welkam, dan wajarlah kalo kadang saling kritik tapi sekaligus emang cara menyampiakan kritiknya ya beda-beda, termasuk cara yang nulisnya masmbak Pokijan itu.

Dan katanya Negeri Ngerumpi memang menjauhi yang gemerlap, dan kurang suka dengan kontroversi yang memicu konflik, sekalian doyan topik ringan karena kehidupan sudah ruwet jangan dibikin tambah kusut  Lah hidup memang untuk dinikmati kan, tapi kadang sesekali rusuh juga kok, ayo aja sok kalo mau bikin kerusuhan disini, malah tambah rame *hloh :)).

Bagian terakhir, soal judulnya, hedeh mana bisa saya komen, wong saya lelaki euy *halagh dibahas juga

Demikianlah,

————-

catatan

*iseng nanggapin sekilas tulisan orang itu kadang menyenangkan
*udah aja ah catatannya, keliatan sekali ga bisa nulis kalo kebanyakan catatan kaki, memalukan sekali
*dan salingsilang.com semakin berwarna warni saja sekarang

I’m not cinderella

December 21, 2011

Hari sabtu, summer yang indah, area bernama Rotterdam centrum tampaknya adalah pilihan yang menarik untuk menghabiskan sepanjang sore,  dan sepeda biru berkeranjang itu sudah sabar menunggunya.

Kakinya sudah saja melangkah, menuju titik yang seperti terpetakan jelas di otaknya.  Sekilas rayuan diskon beberapa hari yang lalu cukup menggodanya, saat tak sengaja, oke sebenarnya sengaja menatap tulisan sederhana di balik kaca Shoeline, saat bergegas memasuki stasiun metro.

Ya ya wanita tak bisa menahan godaan sepasang sepatu cantik, rupanya.  Paling tidak berlaku bagiku‘  Pikirnya sendiri.

Sesampainya di Beurstraverse, matanya berbinar,  melihat wedges marun yang entah sejak kapan cuma merayunya itu, sekarang disitu, iya disitu, dengan harga cuma seperlimanya saja dari label awal yang dulu sempat sekilas dilihatnya.

Sigap, mengambilnya, dan..

“Maaf, yang kirinya ada nggak ya ?”  Dia mengangsurkan sepatu kanan yang tanpa ada pasangannya itu ke panjaga toko.
Tanpa menjawab, penjaganya cuma mengangguk, lalu mengambilnya, mengamatinya, lalu berlalu ke bagian dalam. 

Katrina menunggu, wajahnya tak bisa menyembunyikan isi hatinya, tersenyum-senyum sendiri. Dan tak lama, si marun kanan itu kembali ada ditelapak tangannya, dan senyum cerahnya pun meredup.
“Nggak ada ? ”  Tanyanya lagi, memastikan. “Sudah dicari?”

“Iya, nona.  Maaf, adanya nomor delapan.”
“Saya kan maunya yang nomor tujuh..”
“Atau kalau memang nona mau, bawa saja”. Penjaga toko itu tersenyum lebar.  “For free” Lanjutnya kemudian.

“Terimakasih, but Im not cinderella..” Sahutnya, manyun.  Dan penjaga toko itu tak bisa menahan tawanya.

 

—-

*catatan

*nggak ada catatan dulu kali ini
*terimakasih pada gugel maps
*beberapa kali posting barusan gagal terus, sentimen nih 😐

 

I’m not cinderella

December 21, 2011

Hari sabtu, summer yang indah, area bernama Rotterdam centrum tampaknya adalah pilihan yang menarik untuk menghabiskan sepanjang sore,  dan sepeda biru berkeranjang itu sudah sabar menunggunya.

Kakinya sudah saja melangkah, menuju titik yang seperti terpetakan jelas di otaknya.  Sekilas rayuan diskon beberapa hari yang lalu cukup menggodanya, saat tak sengaja, oke sebenarnya sengaja menatap tulisan sederhana di balik kaca Shoeline, saat bergegas memasuki stasiun metro.

Ya ya wanita tak bisa menahan godaan sepasang sepatu cantik, rupanya.  Paling tidak berlaku bagiku‘  Pikirnya sendiri.

Sudah di Beurstraverse saja, dan matanya berbinar,  melihat wedges marun yang entah sejak kapan cuma merayunya itu, sekarang disitu, iya disitu, dengan harga cuma seperlimanya saja dari label awal yang dulu sempat sekilas dilihatnya.

Sigap, mengambilnya, dan..

“Maaf, yang kirinya ada nggak ya ?”  Dia mengangsurkan sepatu kanan yang tanpa ada pasangannya itu ke panjaga toko.
Tanpa menjawab, penjaganya cuma mengangguk, lalu mengambilnya, mengamatinya, lalu berlalu ke bagian dalam. 

Katrina menunggu, wajahnya tak bisa menyembunyikan isi hatinya, tersenyum-senyum sendiri. Dan tak lama, si marun kanan itu kembali ada ditelapak tangannya, dan senyum cerahnya pun meredup.
“Nggak ada ? ”  Tanyanya lagi, memastikan. “Sudah dicari?”

“Iya, nona.  Maaf, adanya nomor delapan.”
“Saya kan maunya yang nomor tujuh..”
“Atau kalau memang nona mau, bawa saja”. Penjaga toko itu tersenyum lebar.  “For free” Lanjutnya kemudian.

“Terimakasih, but Im not cinderella..” Sahutnya, manyun.  Dan penjaga toko itu tak bisa menahan tawanya.

 

—-

*catatan

*nggak ada catatan dulu kali ini
*terimakasih pada gugel maps
*demikian

Little Cinderella

December 20, 2011

Jam dua belas siang di kota ujung timur pulau Jawa itu sedang mendung, tapi udara di atas jalanan masih saja hangat, belum rela menggantikan gilirannya dengan air hujan.  Jalanan masih terlihat sangat kering, dan titik air pertama dari langit sudah dirindukan bumi sejak akhir Oktober, paling tidak itu yang dirasakannya.

Sebenarnya lebih singkat dari Dharmawangsa menuju Delta dengan menumpang bemo –begitu orang sini menyebut angkot– yang warnanya tak beda jauh dengan kulit telor asin, dengan label huruf E.  Tapi berjalan kaki adalah terlampau lebih menyenangkan untuk dilakukan dikala tak ada jadwal kuliah. 

Menyusuri jalan kecil di sisi parit yang sudah dikenalnya, urutan tanda-tanda jalanan sedari mesjid di sudut jalan sehabis gang tempat dia tinggal, terus ke barat, melewati perlintasan rel kereta api yang teramat dekat dengan stasiun Gubeng, hingga menyeberangi jalanan selepas hotel Sahid, dan terus saja melewati jembatan, melewati Monkasel yg belum pernah dimasukinya hingga tiba di Delta, sebuah plasa yang kadang menjadi tempatnya melihat-lihat kehidupan lain selain seputar gang ke empat bernomor duabelas itu.

Rencana awal sebenarnya adalah menelusuri jalur angkot oranye C Indrapura, ke THR, seperti biasanya, kalau tidak melihat-lihat harga pheriperal komputer yang tak habis-habis menarik minatnya, tentu ke lantai teratas, menikmati hiburan sekelas cineplex dengan harga tiket yang selalu membuatnya ringan untuk menikmati tontonan disitu, bahkan untuk dua film sekaligus pun.  “Kota ini terkadang sungguh menghibur” Pikirnya. Iya, cuma terkadang.

Tapi sebaris pesan singkat, mengurungkan niatnya semula, seorang Katrina mengajaknya menghabiskan separuh hari di pusat perbelanjaan di sisi Kalimas itu.

Keningnya berkeringat, perjalanan santai selama dua puluh menitan itu ternyata lumayan juga, rasanya begitu lama tak melewatinya, padahal baru dua minggu, ya dua minggu yang tak terasa, untuk lebih akrab dengan jalur Indrapura, demi menyelesaikan proposal risetnya, dan hari ini dia mau rehat dulu sejenak, sembari berharap ada ide yang semakin menyala, dan dia yakin selalu begitu setiap bertemu dengan si rambut sebahu itu, seorang kawan yang entah kapan akrabnya dia tak begitu ingat, yang jelas selalu ada rasa nyaman jika bercengkerama dengannya.

Sesampai di teras gerai fastfood, lalu memasukinya dan melewatinya begitu saja.  Kemudian terus menuju eskalator menuju lantai dua sembari menengok kiri kanan, melihat-lihat orang yang lalu lalang membawa berbagai plastik belanjaan.  Sementara dia sendiri, hanya daypack abu-abu yang setia kemana-mana, tak peduli isinya apa, rasanya ada yang kurang kalau berjalan tak membawaserta ‘sahabat’ yang satu itu.

Telepon genggam di saku jins kanannya bergetar, diambilnya dan ada pesan masuk yang terlihat ‘aku sudah di toko buku’.  Dia hanya tersenyum, membalasnya singkat ‘Iya, tunggu aja

Memasuki toko buku, seakan sudah tahu yang dicarinya, setelah menitipkan ranselnya, langsung melangkah ke deretan buku filsafat.  Dan benar saja, sosok berkemeja krem dengan rambut dikuncir itu sedang melihat-lihat sebuah buku.

“Hey!” Iseng menarik tas selempang biru yang dibawanya.
“Hey, baru nyampe?”
“Iya, sori rada lama, aku jalan kaki aja tadi”
“Dari kos? Kurang kerjaan amat sih”  Sahutnya sambil tersenyum lebar.
“Daripada kamu..”
“Eh, kenapa aku..”
“Tuh, kayak aku nggak tau aja kebiasaanmu itu”

Katrina terkikik pelan, tanpa ada perasaan berdosa, buku yang beberapa menit yang lalu masih rapi terbalut sampul, sekarang sudah telanjang, siap untuk diintip isinya.

“Emang boleh gitu ?” Sembari menggerakkan dagu ke arah buku yang sudah terbuka di halaman delapan itu.
“Ya boleh-boleh aja toh”
“Kata siapa ?”
“Kataku..” Lalu sama-sama tergelak.
“Dasar..”
“Dasar apa?”
“Dasar aneh..”
“Kamu tuh lebih aneh..” dan jemari tangannya tak henti membuka lembaran demi lembaran buku yang  seakan miliknya itu, tanpa berhenti.

“Aneh dimananya?” Bertanya sembari melihat-lihat deretan buku yang belum menarik perhatiannya itu, melihat-lihat saja.
“Siang-siang, panas-panas malah jalan kaki kesini..”
“Kan demi kamu..” Sahutnya sembari nyengir.
“Aduh , aku tersanjung..”  tergelak lagi, tapi ada sedikit semburat memerah di sisi wajahnya, tak kentara.  Kemudian sibuk lagi dengan bukunya.

“Ke fiksi, yuk..”
“Nanggung nih..”
“Udah tinggal aja, ntar kalo belum puas, balik lagi kesini.”
“Okay, tuan..”  Tangannya kemudian menyelipkan buku yang barusan dibacanya itu ke tumpukan paling belakang.
“Dasar..”
“Kamu ngeliat aja sih”

 

catatan :


*Ide judul diambil dari halaman. 160 buku The Big Four – Agatha Christie
*rencananya sih bersambung, mudah-mudahan ketemu rencana sambungannya *hloh
*