Sore yang belum benar-benar menghampiri senja, udara biasa-biasa saja, sudah tak lagi menyisakan sedikit pun dingin, menyerah dengan kekuasaan matahari sore. Di teras rumah dari kayu itu, sebuah keluarga menghabiskan sore harinya, seorang wanita, seorang anak kecil yang tak lelah minta digendong ayahnya, tampaknya. Berlari-lari saja dihalaman yang tak seberapa luas itu. Sementara wanita itu, ibu dari gadis cilik itu,isteri dari lelaki yang masih tertawa-tawa itu, duduk saja di kursi kayu, sambil tersenyum melihat tingkah ayah-anak itu.
“Ayah, besok belikan Putri mainan lagi ya, yah..” Setengah berbisik dia pada telinga lelaki yang sudah mulai terengah-engah itu.
“Mainan apalagi, mput ? Bukannya kemarin sudah, buku aja ya, biar tambah lancar membacanya, eh, turun bentar ya, capek nih…” Gendongan pun diturunkan .
“Gimana kalau dua-duanya aja, yah ? “ Tawar gadis kecil itu, sambil mendelik lucu dengan ayahnya.
“Eh sudah pinter nawar ya sekarang, siapa yang ngajarin nih, ibu bukan yang ngajarin ?” Bertanya sambil nuduh dia dengan wanitanya, melirik ke wanita yang sibuk saja dengan tabloidnya.
Yang ditanya tertawa pelan saja, sambil menggoyang-goyangkan telunjuk kanannya, sebagai ganti kata tidak.
“Satu aja ya..” Balik si ayah yang menawar.
“Ok, ayah, satu buku, satu mainan. Deal ?” Duh, anak seusia lima tahun, sudah mengerti kata deal. Lelaki itu membalasnya dengan gelitikan di pinggang Putri.
Sungguh, sore itu terhabiskan dengan gelak tak henti.
. . .
“Gimana kabarnya, cowokmu “ Si pullover coklat bertanya, sambil menghirup pelan lattenya.
“Baik-baik saja.terlampau baik, malah” Cardigan marun, yang ditanya, menjawab datar.
“Ya, bagus, kan ?”
“Akunya yang nggak enak, akhirnya. Apa-apa yang kuminta, di iyakan terus sama dia” Sahutnya lagi, sementara kedua jemari tangannya sibuk, tak lepas mempermainkan smartphone.
“Dasar kamu, aneh.. Eh, itu cincin baru, bukan ?” Pullover coklat setengah terbelalak, melihat benda baru yang melingkar di jemari kelingking sahabatnya itu. “Tapi kok di kelingking sih ?”
“Gak muat” Sahut pemilik jemari dimaksud, tak mampu menyembunyikan senyumnya yang perlahan terbit, ada rona bahagia di situ.
“Jadi, kalian ? .. “ Sekarang, pullover coklat berambut coklat itu, ternganga saja. Kalimatnya menggantung di udara.
“Iya, aku dilamar. Tadi malam..” Sekarang senyumnya merekah. Wajahnya pun merona merah.
. . .
Sebuah motor berhenti di depan sebuah rumah berpagar cukup tinggi, di komplek perumahan mewah di selatan kota itu. Lelaki gempal berjaket jins hitam di belakang turun, menghampiri pintu gerbang. Ada pos satpam di bagian dalam, sebelah kiri. Tapi tak ada orang disitu, bel di sudut sisi kiri gerbang di tekan. Sekali. Dua kali. Dan ada langkah yang menghampiri kemudian.
Seorang satpam, berseragam putih, menghampiri pemencet bel yang berambut rapi itu, helm full facenya dipegang dengan tangan kiri.
“Pak Irawannya ada, pak?” Lelaki itu bertanya, tersenyum.
“Kebetulan lagi ke kantor, mas. Ada apa ya, mas ?”
“Ada paket buat beliau, saya disuruh bos mengantarkanke alamat ini, tunggu sebentar pak.” Menghampiri motor yang masih hidup, pengendaranya pun masih berdiri di atas motor 150 cc itu. Mengambil sesuatu dari daypack di belakang pengendara motor itu, sebuah kotak kecil berbungkus coklat dari saku depan. Tak lama kembalike pintu gerbang.
“Sebentar, mas. Saya buka dulu ..” Pintu gerbang pun tergeser ke sebalah kanan.
Tak lama, setelah kotak kecil yang entah isinya apa itu, berpindah tangan. Satpam mengamati paket itu. Tapi cuma sebentar saja, sebelum helm yang sedari tadi dipegang dengan tangan kiri oleh lelaki berjins hitam itu, dihantamkan kuat-kuat ke kepala satpam malangitu. Berteriak pun tak sempat lagi, hantaman telak itu membuatnya tak sadarkan diri.
Jins hitam memberi isyarat anggukan pada kawannya di motor, yang langsung membunyikan klakson motornya satu kali. Dari belokan di timur jalan, sebuah mobil kijang menghampiri mereka. Jins hitam membuka pintu gerbang lebar-lebar, lalu dia, motor, dan kijang itupun masuk ke halaman yang luas itu, berjalan pelan dan langsung menuju teras.
Semuanya empat orang, turun dengan tenang dari mobil, dua memegang samurai, lainnya memegang FN.
Pintu di ketuk , seorang wanita muda tergesa membukakannya,, dan tak ada tanya apa-apa saat satu samurai menghunjam tepat di titik jantungnya, lalu terkulai dan terkapar di jejak darahnya sendiri. Enam orang itu pun, leluasa memasuki rumah itu, langsung menuju apa yang mereka cari.
Dan, di luar, keadaan komplek sepi saja. Siang itu seperti tak terjadi apa-apa.
. . .
Lelaki itu tergolek di atas tempat tidur, di sebuah ruangan rumah sakit swasta itu. Seorang wanita muda, duduk disampingnya, matanya sembab. Sementara seorang gadis cilik, tertidur kelelahan di sudut kamer beralas karpet, setelah tak berhenti menangis, melihat ayahnya yang tak sadarkan diri sejak beberapa jam yang lalu.
Ada memar hebat dan luka sobek di bagian kepalanya, pemeriksaan dokter memvonis gegar otak akibat benturan hebat yang telak menghampiri tempurung kepalanya. Cairan infus mengalir perlahan, seirama dengan detak jantungnya yang perlahan mulai stabil.
Di luar, di ruang jaga, beberapa perawat menonton berita perampokan di sebuah rumah mewah di kota mereka itu, semua penghuni rumah saat kejadian tak ada yang menyisakan nyawanya. Seisi brankas habis dikuras, untunglah tuan rumah sedang tak ada di tempat, walaupun tampak pucat saat di wawancarai olehpara pencari berita.
. . .
Dua hari yang lalu..

“Kau mau apa sekarang ?” Katanya sambil memegang jemari lembut dihadapannya.
Gadis pemilik jemari itu tersenyum, lalu sebuah ide iseng, tiba-tiba saja terlintas di otaknya.
“Lamar aku, sekarang. Bisa ? “ Katanya sambil tertawa pelan. Dan beberapa detik kemudian, lelakinya sejurus langsung berlutut di hadapannya, wajah gadis itu menghangat, tak siap menerima konsekuensi dari permintaannya sendiri.
“Ok. Kamu,Manda Catahartica, mau kan jadi pendamping hidupku ?” Lelaki muda itu, sambil tetap berlutut di depan gadisnya, yang masih tak henti terkejut, tak menduga sama sekali. Apalagi cafe itu sedang ramai-ramainya malam itu. Beberapa pengunjung menatap keduanya.
Belum habis rasa terkejutnya, lelakinya itu, merogoh saku kemejanya,mengeluarkan seutas cincin platinum. Sang gadis pun, cuma bisa terhenyak, menutup mulutnya. Tanpa banyak bicara, cincin itu berusaha dipakaikan pada jemari manisnya.
Lalu mereka berdua tertawa, “Gak muat” Hampir berbarengan mereka mengatakan itu, akhirnya sang cincin tetap terpasang, di kelingkingnya. Dan gadis itu tak keberatan, malah mendaratkan ciuman hangat di pipi kanan lelakinya. Tak lama, terdengar riuh, beberapa pengunjung yang sadar akan kejadian di hadapan mereka, memberikan tepuk tangannya, sang gadis cuma bisa tersipu.

. . .
Sehari sebelumnya.
Lelaki berseragam putih itu, lagi berbicara dengan seseorang rupanya di telepon genggamnya, sedikit pucat wajahnya, dahinya berkeringat.
“Aku ga berani lagi, To”
“Sekali ini saja lagi, Har. Habis itu sudah, aku tak minta bantuanmu lagi’ Sahut seseorang di seberang sana.
“Kau tau sendiri kan, To. Aku sudah lama memutuskan ga ikutan lagi, lagian siapa lagi sasaran kalian kali ini ?” Ada terselip sedikit penasaran rupanya.
“Irawan Jayakusuma” Singkat saja jawaban yang didapatkannya.
Lelaki itu semakin terlihat gugup, tak langsung membalas, mendadak siang itu terasa mendidihkan kepalanya. Semua logikanya seakan tak ada lagi.
“Kamu gila apa, kamu mau beraksi disini ? Gila kalian !”
“Tenang saja, kau juga akan dapat bagian seperti biasanya, dan aku janji, ini terakhir kali mengikutsertakan kamu. Teman-temanku juga tak kenal denganmu. Kamu akan aman dari segala tuduhan, percaya aku. Lagian dengar-dengar kamu lagi perlu uang, kan ?”
Tak ada jawaban,hanya diam.
“Besok siang, kami kesana. Kamu tinggal kasih info yang aku perlukan. Ok ?” Tanpa perlu jawaban lagi, sambungan terputus.
. . .
Beberapa hari kemudian..
Di sudut kampung itu,di teras sebuah rumah kayu. Seorang lelaki bercanda dengan gadis ciliknya, berkejar-kejaran sampai ke halaman depan. Tertawa-tawa.
Lelaki yang sudah lama merencanakan hidup baru atas hidup lamanya.
Awalnya tak mudah meyakinkan temannya, untuk merampok rumahnya sendiri. Meyakinkan semua teman akrabnya bahwa semua aman. Waktu yang dipilihnya sendiri, saat dia merencanakan untuk keluar kota, dan yang ada di rumah, Cuma beberapa pembantu dan istrinya, serta seorang satpam. Dan, semua berjalan sesuai rencana, rupanya.
Tak lama, seorang tukang pos, berhenti di pintu rumah mungil itu.
“Ada paket, pak..”
Sambil tetap menggendong Putri manjanya, menghampiri pak pos yang sudah tak muda lagi itu. Setelah membubuhkan tanda tangan pada form penerima. Pak pos itu pun berlalu, sementara lelaki itu tersenyum sambil menimang-nimang kotak kecil berbungkus coklat itu. Ada tulisan dengan spidol di bagian depannya,
..untuk Irawan J.
. . .
Sepasang manusia itu, menyusuri pantai yang tenang, tak begitu ramai juga.
Jemari mereka bertautan, tak saling bicara. Hanya merasakan debur jantung yang tak henti, bersahutan dengan ombak yang berlomba mencapai garis pantai.
Lalu seseorang, mengejar mereka. Berlari-lari saja.
Sesampainya di dekat mereka, seorang pemuda, memegang pundak lelaki berkaos biru tua itu.
“Dipanggil-panggil ga denger-denger euy. Apakabarnya, To ?”
Yang dipanggil To terperanjat lalu tersenyum, menjabat erat tangan sang penyapa.
“Hey, kabar baik, sama siapa ?”
“Tuh..” Menjawab singkat, sambil mengangkat dagunya ke arah seorang wanita muda dan seorang gadis cilik, tak jauh di belakang mereka. To melambaikan tangannya ke arah mereka.
“Oh ya, perkenalkan istriku, Manda “ Yang dipanggil tersenyum manis, mengangsurkan tangannya.
“Manda..”
“Sahar ”
“Ok, ya. Kami mau jalan lagi.” Tangannya kembali menggenggam erat tangan wanitanya, yang berhias cincin putih di kelingking kirinya.
Sementara, cuma mengangguk. Dan hawa terasa cukup panas rupanya, hingga ada terbit bulir keringat, di dahinya yang ada bekas luka sobek itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: