Little Cinderella

Jam dua belas siang di kota ujung timur pulau Jawa itu sedang mendung, tapi udara di atas jalanan masih saja hangat, belum rela menggantikan gilirannya dengan air hujan.  Jalanan masih terlihat sangat kering, dan titik air pertama dari langit sudah dirindukan bumi sejak akhir Oktober, paling tidak itu yang dirasakannya.

Sebenarnya lebih singkat dari Dharmawangsa menuju Delta dengan menumpang bemo –begitu orang sini menyebut angkot– yang warnanya tak beda jauh dengan kulit telor asin, dengan label huruf E.  Tapi berjalan kaki adalah terlampau lebih menyenangkan untuk dilakukan dikala tak ada jadwal kuliah. 

Menyusuri jalan kecil di sisi parit yang sudah dikenalnya, urutan tanda-tanda jalanan sedari mesjid di sudut jalan sehabis gang tempat dia tinggal, terus ke barat, melewati perlintasan rel kereta api yang teramat dekat dengan stasiun Gubeng, hingga menyeberangi jalanan selepas hotel Sahid, dan terus saja melewati jembatan, melewati Monkasel yg belum pernah dimasukinya hingga tiba di Delta, sebuah plasa yang kadang menjadi tempatnya melihat-lihat kehidupan lain selain seputar gang ke empat bernomor duabelas itu.

Rencana awal sebenarnya adalah menelusuri jalur angkot oranye C Indrapura, ke THR, seperti biasanya, kalau tidak melihat-lihat harga pheriperal komputer yang tak habis-habis menarik minatnya, tentu ke lantai teratas, menikmati hiburan sekelas cineplex dengan harga tiket yang selalu membuatnya ringan untuk menikmati tontonan disitu, bahkan untuk dua film sekaligus pun.  “Kota ini terkadang sungguh menghibur” Pikirnya. Iya, cuma terkadang.

Tapi sebaris pesan singkat, mengurungkan niatnya semula, seorang Katrina mengajaknya menghabiskan separuh hari di pusat perbelanjaan di sisi Kalimas itu.

Keningnya berkeringat, perjalanan santai selama dua puluh menitan itu ternyata lumayan juga, rasanya begitu lama tak melewatinya, padahal baru dua minggu, ya dua minggu yang tak terasa, untuk lebih akrab dengan jalur Indrapura, demi menyelesaikan proposal risetnya, dan hari ini dia mau rehat dulu sejenak, sembari berharap ada ide yang semakin menyala, dan dia yakin selalu begitu setiap bertemu dengan si rambut sebahu itu, seorang kawan yang entah kapan akrabnya dia tak begitu ingat, yang jelas selalu ada rasa nyaman jika bercengkerama dengannya.

Sesampai di teras gerai fastfood, lalu memasukinya dan melewatinya begitu saja.  Kemudian terus menuju eskalator menuju lantai dua sembari menengok kiri kanan, melihat-lihat orang yang lalu lalang membawa berbagai plastik belanjaan.  Sementara dia sendiri, hanya daypack abu-abu yang setia kemana-mana, tak peduli isinya apa, rasanya ada yang kurang kalau berjalan tak membawaserta ‘sahabat’ yang satu itu.

Telepon genggam di saku jins kanannya bergetar, diambilnya dan ada pesan masuk yang terlihat ‘aku sudah di toko buku’.  Dia hanya tersenyum, membalasnya singkat ‘Iya, tunggu aja

Memasuki toko buku, seakan sudah tahu yang dicarinya, setelah menitipkan ranselnya, langsung melangkah ke deretan buku filsafat.  Dan benar saja, sosok berkemeja krem dengan rambut dikuncir itu sedang melihat-lihat sebuah buku.

“Hey!” Iseng menarik tas selempang biru yang dibawanya.
“Hey, baru nyampe?”
“Iya, sori rada lama, aku jalan kaki aja tadi”
“Dari kos? Kurang kerjaan amat sih”  Sahutnya sambil tersenyum lebar.
“Daripada kamu..”
“Eh, kenapa aku..”
“Tuh, kayak aku nggak tau aja kebiasaanmu itu”

Katrina terkikik pelan, tanpa ada perasaan berdosa, buku yang beberapa menit yang lalu masih rapi terbalut sampul, sekarang sudah telanjang, siap untuk diintip isinya.

“Emang boleh gitu ?” Sembari menggerakkan dagu ke arah buku yang sudah terbuka di halaman delapan itu.
“Ya boleh-boleh aja toh”
“Kata siapa ?”
“Kataku..” Lalu sama-sama tergelak.
“Dasar..”
“Dasar apa?”
“Dasar aneh..”
“Kamu tuh lebih aneh..” dan jemari tangannya tak henti membuka lembaran demi lembaran buku yang  seakan miliknya itu, tanpa berhenti.

“Aneh dimananya?” Bertanya sembari melihat-lihat deretan buku yang belum menarik perhatiannya itu, melihat-lihat saja.
“Siang-siang, panas-panas malah jalan kaki kesini..”
“Kan demi kamu..” Sahutnya sembari nyengir.
“Aduh , aku tersanjung..”  tergelak lagi, tapi ada sedikit semburat memerah di sisi wajahnya, tak kentara.  Kemudian sibuk lagi dengan bukunya.

“Ke fiksi, yuk..”
“Nanggung nih..”
“Udah tinggal aja, ntar kalo belum puas, balik lagi kesini.”
“Okay, tuan..”  Tangannya kemudian menyelipkan buku yang barusan dibacanya itu ke tumpukan paling belakang.
“Dasar..”
“Kamu ngeliat aja sih”

 

catatan :


*Ide judul diambil dari halaman. 160 buku The Big Four – Agatha Christie
*rencananya sih bersambung, mudah-mudahan ketemu rencana sambungannya *hloh
*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: