Hujan Akustik

Rinai hujan baru saja dua menit usai, padahal hari masih belum selesai terselimuti pagi, rintik yang tersisa sempurna menghapus kabut yang batal turun, embun pun tergusur oleh sisa-sisa serbuan hujan.

.

Baru saja tadi malam, di halaman depan teras yang tak seberapa luas, di bawah eugenia aquea, dan dia Aquea, duduk menunggu Eugene datang, katanya sebentar lagi, padahal di ufuk barat langit sesekali mengakar putih, ada petir di sana, angkasa juga tak terlihat cerah, tak berhias apa-apa.  Malah angin yang memaksanya merapatkan sweaternya.

Lalu, seperti janjian, semesta serentak menyepi.  Angin menghilang, gari-sgaris petir tak terlihat, ada satu titik bintang entah di utara terlihat.  Dan pun dari arah barat, thunder biru yang membawa Eugene yang dinantinya, datang.  Dramatis sekali, terlalu dramatis sekali semesta mengaturnya.

“Maaf, aku telat ya ?”
Aquea cuma menggeleng pelan, “Itu bawa apa?”
“Tunggu..”

Malah menurunkan bawaan yang tadi terselempang di punggungnya. “Kamu duduk aja disitu..”

Dan cuma anggukan lagi yang dilakukannya, kemudian..
Baru saja mengambil posisi yang nyaman di atas bangku jati tua itu, sebuah nada akustik terdengar..  Sehabis intro, ada suara yang sedikit sumbang.

Aquea tergelak, tapi lalu membiarkan yang nekat bernyanyi menghabiskan liriknya.  Fade in, lalui tepuk tangan.

Penyanyi dadakan itu, menundukkan badan, menyilangkan tangan kanan di dada, take a bow, dan pertunjukkan berakhir.  Strap gitar akustik dilepas, lalu diserahkannya pada Aquea yang mengernyitkan dahinya.

Tapi diterimanya juga, didekapnya juga gitarnya, lalu bertanya singkat saja “Kenapa ini ?”

“Aku besok berangkat”
“Lagi ?”
Dan hanya ada anggukan singkat.

.

Tapi itu tadi malam, sekarang pun, sepenggal lirik KKEB masih terngiang di kepalanya, mendengung-dengung tak mau berhenti.  Tak henti mendekap gitar akustik, sedari tadi dinihari.  Kala seorang teman memberi kabar, bahwa pemilik suara sumbang itu tak bisa mengendalikan thunder birunya dan harus mengalah pada buasnya truk kontainer di tikungan timur pulau.

.

Hujan mendadak turun tak kira-kira, deras sederas-derasnya. Saat suara knalpot thunder menghilang di ujung jalan. Tapi itu tadi malam, dan sekarang sudah pagi, dan masih saja hujan.

.

.

.

*catatan dan keterangan singkat :
*KKEB adalah lagu lamanya Andre Hehanusa
*dibawakan lagi tadi malam oleh Peppy dan Budi Handuk di acara Tawasutra coyyy

*Budi Anduk adalah salah satu idola saya
*akting Arie Untung tadi malem di adegan itu seperti biasanya : Lebay
tapi asik
*ada yang tau jadwal tawasutra
?
*udah ah kebanyakan catatan kaki yang sungguh merusak suasana 😐

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: