Menyapa

Lift itu kembali berhenti di lantai tiga.  Aku melangkah masuk, seperti biasa, di hari rabu, jam sepuluh pagi, saat gadis itu naik ke lantai lima. Selalu begitu dari awal semester ini.  Jarang sekali tampilannya berubah, blue jins, kaos hitam dilapis dengan hem kotak-kotak berwarna ungu.

Dan luar biasanya, seperti beberapa bulan yang lalu pula, saat pertama bertemu dirinya, tak pernah dihiraukannya keberadaanku.  Seperti asik sendiri, apalagi jika headphone kuning itu menempel di kedua telinganya.  Kadang tertutup oleh rambut sepunggungnya yg tergerai begitu saja, tapi anehnya indah.

Sampai sudah di lantai lima, pintu lift terbuka, sepasang kaki jenjangnya melangkah seperti tergesa, melangkah keluar lalu langsung berbelok ke arat barat.  Menengok ke arahku pun, apalagi menyapa, tidak.  Sama sekali tak enak menjadi yang tak terhiraukan. 

Kuputuskan untuk turun lagi ke lantai tiga, memutuskan untuk menyapanya kali ini.  Atau sekedar bertanya kenapa sikapnya dingin begitu.  Ya harus begitu, menunggu dua jam toh tak lama.  Lewat sedikit dari jam dua belas, menunggu semua kawan-kawannya turun.  Seperti menikmati saat-saat sendirian.

Lilft turun, kembali terbuka di lantai tiga.  Merasa ada yang menyentuhnya, gadis itu berbalik, melihat sesosok bayangan terpantul di dinding lift, tersenyum ke arahnya, menyeringai tepatnya.

Otaknya tak bisa berpikir lebih panjang.  Pingsan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: