#4

4 – Tiga belas

Ada sebuah shelter sekitar sepuluh meter selatan sungai utama, sementara utara adalah tebing curam, yang rencananya akan bersama-sama dihabisi bersama satu tim, demi pemantapan SAR.

Jauh ke barat, mungkin sekarang anggota tim pencinta alamnya sedang menerabas jalur yang sudah lama dijalani lagi, menuju air terjun yang katanya lumayan bagus. Yang jelas air terjun, seberapa pun tingginya, selalu menarik baginya dan bagi.., ah itu dia, seperti yang diduganya, seorang perempuan dengan rambut dikuncir seadanya, berkaus merah, celana lapangan hitam, jongkok di depan nesting yang dikelilingi asap dari tungku dadakan bebatuan sekitar sungai.

Gemeretak ranting di arah timur tampaknya, membuat gadis itu menoleh, hanya dia sendirian disitu, matanya menoleh sekeliling dengan waspada.  Tapi tak ada siapa-siapa, tak ada apa-apa, pelan-pelan tangan kanannya memegang sangkur yang selalu diad abwa kemana-mana, terlebih saat ke alam terbuka ini, “gampang buat ngebuka kaleng sarden” gitu alesan nggak nyambungnya kalo ditanya, tapi nyatanya emang gitu kok.

Lagi-lagi suara gemeretak itu, sekarang ada di belakangnya, dan sebelumsempat dia menoleh, ada sebuah tangan mendekap mulutnya sebelum sempat berteriak.  Tapi, pipinya mendadak bersemu, tatkala matanya tertumbuk pada gelang prusik hijau biru dan merah yang melilit di pergelangan tangan kanan yang menutup mulutnya.

Cepat dia berbalik begitu dekapannya mengendur, tanpa sempat berkata apa-apa, sebuah rasa hangat terasa di keningnya.  Utara tertunduk, sekarang suara arus sungai seperti tak terdengar lagi, tenggelam oleh detak jantungnya sendiri.

—-

 

4- Empat belas

Jalanan masih basah sisa hujan kemarin malam, ditambah keroyokan embun-embun, dan udara juga masih terasa dingin juga, tak kira-kira.  MTB hijau itu menguak heningnya pagi, dengan kecepatan sedang oleh lelaki bercelana selutut, jins yang sengaja disobek, bukan celana khusus balap.  Beberapa meter di belakangnya, sepeda ungulengkap dengan keranjang di depannya, berusaha mengejarnya, berteriak “tunggu !

Yang dikasih teriak cuma menengok sekilas, lalu pura-pura cuek dan meneruskan kayuhannya, malah melaju deras di turunan, melewati jembatan kecil lalu sedikit menanjak.  Sesmpainya di atas, dekat belokan ke kiri, menuju jalan lumayan gede, menghentikan si hijau.  Lalu menengok ke belakang.  Beberapa meter, masih dekat jembatan, gadisnya menuntun sepedanya, sambil bersungut-sungut tak jelas.  Bumi malah berteriak, menangkupkan kedua telapak tangannya di depan mulut seperti corong “Ayo, semangat Ut !”  Yang diteriaki, makin manyun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: