# 3

3- Sepuluh

“Alamatmu yang sekarang dimana ?”  Singkat saja pesan itu terbaca olehnya.  Dari seseorang yang sebenarnya dia sayangi, namun tak pernah diungkapkannya secara langsung, apalagi secara verbal.  Yang ada adalah penyampaian perhatian dalam bentuk yang aneh, yaitu diam, diam-diam mengamati dan diam-diam juga mengaguminya.  Apapun yang dilakukannya selalu menakjubkan di mata Bumi.  Tapi tak pernah dia kemukakan, mungkin gengsi, mungkin juga menjaga supaya yang dikagumi tidak ke ge eran.

Tapi diam-diam juga dia menjaganya sepenuh hati, hati-hati sekali sampai tak pernah ada yang mengetahuinya. Pernah sekali dia mendengar, ada seseorang yang membuatnya menangis.  Tak sampai sehari, dengan informasi lengkap tentang seseorang yang berani-berani membuat sebuah tangis itu, berbalik menuai tangis, plus bonus beberapa lebam dan sebuah ancaman bahwa semuanya akan berlipat jumlahnya jika masih berani seperti itu.  Sungguh masa-masa yang menyenangkan. Bumi tersenyum sendiri.

Tersentak ke alam saat ini, bergegas menekan keypad, me-reply pesan singkat itu “Tumben nanya alamat, ada apa?”

“Mau ngirim sesuatu”  Cepat saja balesan itu datang.

“Apaan ?”  cepat dan singkat, balesan kali itu.

“Abon, kesukaanmu.”

Bumi terdiam, takjub, baru sehari sebelumnya, dia membayangkan makanan kesukaannya itu, lauk yang tak lekang oleh jaman, demikian selalu menurutnya.  Ya cuma membayangkan sendirian, menggumamkannya sendirian pula. Tak mengatakannya pada siapa-siapa, tak jua sekedar update status di burung biru ataupun jejaring sosial berhalaman biru, tak dimanapun. Tapi dia, bisa-bisanya tahu.

Sebaris alamat yang kebetulan baru seminggu dihapalnya, diketikkannya hati-hati, dan langsung di sent, ditambah sebaris kalimat singkat “makasih, dik”.

Sebuah balasan singkat pun sampai lagi “Sama-sama, bang..”

Lagi-lagi sebuah pagi yang berhasil mengejutkannya, satu  perhatian sederhana dari dari seseorang yang teramat disayanginya, yang entah bagaiamana bisa tahu apa yang sedang dipikirkannya.  Itulah Tirta, adik satu-satunya, yang entah berjarak berapa kilometer darinya dan entah dimana sekarang.

 

3- Sebelas

Matanya perlahan terbuka,yang pertama tertangkap adalah rerimbunan Malaleuca leucadendron, sempat-sempatnya mengingat species dengan kulit tipis berlapis-lapis itu, motor merah yang tergeletak dua meteran darinya, merah darah yang entar dari luka sebelah mana, hitam aspal yang panjang, dan jalanan yang hening.  Tak ada siapa-siapa menjelang malam itu.  Ufuk barat pun tak lagi memerah, samar tertelan gelap.

Dan hanya itu yang sempat dinikmati kesadarannya.  Tak hanya malam, semuanya kembali menjadi hitam, kesadarannya hilang lagi.

 

4- Dua belas

         Biru, sekelilingnya biru, dan dingin.  Sementara bibirnya mencecap rasa asin.  Entah dimana dan bagaimana, sebuah pelampung terlilit erat di antara leher dan badannya.  Terapung-apung sendirian, di laut.

“Laut?”  Otaknya terasa terlalu lambat mencerna apa yang sudah terjadi.  Nafasnya terasa lebih pelan dari biasanya.  Hal terakhir yang diingatnya adalah teriakan panik sesaat sebelum tertelan bising yang tak tahu berasal dari mana.  Kemudian semua terasa melayang, terjun bebas, meluncur entah dengan kecepatan berapa dan ke arah mana, yang jelas cepat menuju arah bumi.

Seperti ada kapal laut yang mendekat, tapi otaknya tak bisa mencerna apapun, selain sedkit rasa haus, dan pikiran yang bertebaran.  Tapi kembali, segala biru berganti menjadi hitam gelap.

….

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: