# 2

2-Tujuh

Rumah itu terlihat mungil dari luar,entahlah di dalamnya, dia tak pernah sampai masuk ke dalamnya, selain tak ada alasan yang mengharuskannya untuk melangkahkan kaki melewati garis pintu masuk berwarna hijau itu, selama ini tak pernah dia duduk lebih dari setengah jam di atas kursi besi putih yang ada sepasang di teras yang berhadapan langsung dengan halaman yang sempit -dalam artian sebenarnya- yang cuma selangkah lebar akan membuat kaku berada di luar pagar yang seperti kursi itu, juga terbuat dari besi dan juga berwarna putih.

Di halaman selebar atau sepanjang satu meter setengah itu, anehnya terasa nyaman dengan rumput jepang yang tumbuh subur namun terpangkas rapi, dengan pohon palem setinggi dua meteran di sudut kiri dan kanan, sementara angsoka menghiasi lajur sepanjang belakang pagar.

Berbatasan dengan pagar adalah jalan komplek yang hanya cukup untuk satu mobil yang tak terlalu besar, sementara ujung jalan adalah buntu, yang kalau memaksakan melongok kemana ujungnya, adalah sungai kecil yang gemericiknya kadang sayup sampai ke telinganya, itu juga kalau kebetulan siang hari saat orang-orang pada sibuk ngantor, atau sesaat setelah adzan maghrib yang sejenak menyisakan jeda.

Tapi waktu favoritnya -walaupun termasuk kejadian yang berkategori jarang sekali-  adalah kala pagi baru menyapa, ujung jalan itu terlihat damai tertutupi rimbunan bambu di sela-sela sepasang Annacardium occidentale dan beberapa Musa paradisiaca yang tumbuh secara acak di sela semak-semak yang entah bernama apa.

Udara pagi di detik itu adalah kadarnya yang paling segar menurut ukuran hidung dan otaknya, fresh-se-fresh-fresh-nya, kadang ditingkahi dengan gerobak tukang bubur yang tampaknya menjadikan komplek itu titik terakhir dari alur perdagangannya.  Entah kebetulan atau gimana, saat dia sekali dua kali memesan bubur ayam, pasti pas cuma tersisa dua mangkok, dengan suwiran ayam yang cuma cukup untuk satu porsi.  Dann satu dua kali saat membelinya, juga sang penjual bubur hanya mau dibayar satu, satunya digratiskan, “bonus, jang!” begitu katanya selalu.  Jadinya, semacam buy one get one saja.

Pagi ini, pagi yang ke sekian, semua unsur yang disukainya, seakan berkomplot untuk berbarengan menemaninya.  Suara sayup gemericik sungai, pemandangan indah ujung jalan yang berujung di lembah, udara yang segarnya memanjakan hidung dan otaknya, tukang bubur dengan satu mangkok gratisannya, dan satu lagi, seulas senyum lebar dari pemilik kaki jenjang yang berjalan pelan dan menyembul di balik pintu yang terbuka pelan pula.

“Selagi masih anget tuh, yuk..” Bumi menawarkan semangkuk bubur ayam yang masih berselaput asap tipis

Yang ditawarin tergelak, lalu berbalik arah, masuk lagi ke dalam rumah berfasade abu-abu itu. “Ngambil air minum dulu ya, tuan..”  Volume suaranya terdengar semakin pelan seiring langkahnya yang tak lagi pelan menuju ke dalam.

Bumi hanya tersenyum saja, menunggu.

Lima menit kemudian, dua mangkok bubur ayam dengan satu porsi suwiran daging ayam yang dibagi dua, dua cangkir teh hangat, dan sepasang kursi dengan dua orang yang sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Pagi memang masih terlampau pagi untuk tidak dinikmati.

2-Delapan

Ayah yang dia banggakan, sekaligus yang dia takuti, yang tingkat marahnya adalah level sebelas dalam skala satu sampai sepuluh.  JUga adalah seorang lelaki yang dia kagumi, pemarah memang, yang sering membuatnya bingung sendiri akan akar penyebab murkanya, dan sudah tak terhingga hitungannya omelan super pedasnya semenjak dia mengerti akan artinya dimarahi.  Padahal, kenakalannya adalah hal yang biasa, sangat biasa, semacam iseng menyundut serangkaian petasan yang ditaruhnya tepat di bawah tempat duduk imam di kolong musholla berbentuk panggung samping rumah.  atau sesekali menendang pantat temannya yang berdiri di shaf depannya kala shalat subuh.

Dengan adiknya, Tirta, juga perasaannya dulu, hanya bentuk kasih sayang pada saudara muda, seperti membantunya menaiki cabang pohon rambutan yang lumayan tinggi, lalu diam-diam meninggalkannya, padahal pohon itu tumbuhnya dekat sawah yang memakan perjalanan duapuluh menit dari rumah.  Sampai entah bagaimana caranya adiknya bisa turun, lalu tiba-tiba saja sendal kulit ayah beberapa kali balik mengakrabi pantatnya.

Tapi, satu hal yang membuatnya takjub -walaupun selalu menjadi objek kemarahan sang ayah-karena ulahnya sendiri sih-, adalah pada suatu sore, saat dia berulah, menguji nyali mengikat ke empat kaki anjing tetangga ke atas pohon mangga, setelah mengumpani anjing putih itu dengan roti bercampur kapur barus.  Setelah tahu dia dimarahi, tanpa pikir panjang, sayah juga yang menghampiri rumah tetangganya, menggedor pintunya, dan tanpa sempat tetangganya berkata apa-apa, bak mitraliur, langsung aja didamprat habisa-habisan, dengan pesan utamanya bahwa “.. hanya aku yang berhak memarahi anakku, kamu tak punya hak sama sekali, sekali lagi ketahuan memarahi dia, awas !”

Senyum pun terulas, saat diam-diam dia menyaksikan adegan itu dari balik pagar.  Di bawah pohon mangga tempat dia mengikat erat empat kaki anjing yang menjadi biang masalah.

Sekarang pun, waktu diam-diam pula, mengasah karakternya seperti itu.. Lamunan itu berujung dan berakhir di sore yang merona lembayung, kala perlahan ada bening yang perlahan menyusuri sisi wajahnya.  Tak terasa seminggu, ayah pemarah kebanggaannya itu sudah berpulang pada Penciptanya.

….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: