Menjelang Pukul Sebelas

Kaos item kutung yang begitu pendek sehingga menampakkan bagian belakang punggungnya yang putih tersingkap malu-malu, ah apa ya namanya punggung di bagian belakang pinggang ramping itu, ah iya pinggul, dan jinsnya biru tak peduli.  Rambut sepanjang melewati bahu, tergerai berantakan tapi anehnya indah, sementara bahunya terselempang tas coklat, tangannya sibuk memainkan gadgetnya, berry hitam mungkin?  Matanya sesekali menatap ke arah tenggara, entah menunggu siapa, gelagatnya seperti itu.

“Seksi ya, mas ?”

Tiba-tiba ada lelaki lain yang duduk begitu saja disampingnya, Tanpa sadar ia, mengangguk, lalu tergagap, keluar dari alam pikirannya sendiri.

Menoleh sekilas, tingginya paling tidak seratus tujuh puluh, brewokan, gondrong, dan sebaris tattoo yang tak kentara tulisannya di pergelangan tangan kanannya yang terulur ramah begitu saja ke arahnya, mengajak salaman begitu saja.

“Tiyo”
“Edwin”

Meja-meja di foodcourt itu sedang sepi, belum saatnya makan siang, waktu baru berputar di angka sebelas.  Cuma ada meja yang ia duduki dengan lelaki yang tiba-tiba ikut nimbrung, dan satu meja di depannya yang diduduki sebentuk anugerah alam yang tepat memunggunginya, objek keisengen pikirannya barusan.

“Bentar mas. Mau pesen minuman dulu” Tanpa persetujuan siapa-siapa tubuh jangkung tadi berdiri, berjalan ke salah satu counter minuman, lalu sebentar kembali lagi.

Kaos item kutung itu masih terlihat sesekali mencuri pandang ke arah tenggara.  Tak berubah posisi duduknya.

“Minum dulu mas” Lagi-lagi laki-laki yang sekarang kedua tangannya memegang dua botol the cap botol.

“Eh, makasih mas”

“Diminum lhoh”

“Iya, mas.”

“Lagi ngapain gitu?”

“Nunggu temen, dan mas sendiri?”

“Mau nemuin seseorang, janjian disini”

Tak seberapa lama, kedua botol itu cuma tersisa sisa seperempatnya.

“Eh, aku jalan duluan ya” Tiyo berdiri, merogoh sesuatu di sakunya, lalu tak kentara menyelipkannya di balik telapak tangan kanannya.  Dan terulur lagi ngajak salaman, telapak kanan Edwin menyambutnya. Kemudian sekilas teraduh.

“Aduh maaf, maaf” Ada nada sesal di balik senyum aneh yang tiba-tiba muncul.

Edwin hanya meringis menahan sedikit perih, membalik telapak tangannya yang sedikit luka tergores.

“Itu tadi apaan, mas ?”  Malah sempat-sempatnya bertanya.

“Taji..” Singkat saja jawaban Tiyo, sambil berjalan ke arah gadis yang tadi lama ditatap Edwin, lalu menyapanya, lalu merangkulnya, kemudian berjalan menjauh.

Edwin terbelalak, sebelum beberapa detik kemudian ada rasa sesak yang menjalari dadanya, begitu cepat, dan lalu semuanya terasa gelap.  Ambruk.

 

———-

*taji adalah senjata tajam berbentuk pisau yang ukurannya sangat kecil dengan racun yang sangat mematikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: