Bukan Petuah

 

“Hiduplah untuk hari ini, Da.  Mikir untuk hari ini aja, ga usah pake mikir untuk hari esok.  Biar esok menyusun rencananya sendiri, biar itu jadi persoalan nanti.  Hiduplah untuk hari ini”

Selalu begitu yang disampaikannya berkali-kali, dengan pandangan datar namun menusuk menegaskan, bahwa itu bukan sekedar omongan kosong.

Semacam petuah ?  Ah jangan pernah berpikir seperti itu, karena dia akan tertawa terbahak-bahak, lalu disambung dengan kalimat yang berceceran tak berubah “Bisa langsung kiamat besok pagi kalau aku berani memberi petuah pada orang lain.  Aku tak pernah percaya akan kesaktian ucapan bijak dari manapun, dari siapapun”.

“Lalu itu tadi apa, kata-kata buatku barusan”. Kusambung saja sebelum punah kalimatnya di udara.

“Lupakan saja.  Mungkin sekedar mengungkapkan padamu, bahwa sia-sialah waktu sekarang kalau tak kau gunakan baik-baik.  Dengan apa-apa yang baik pada dirimu, dan kau hanya memikirkan untuk esok yang bentuknya pun kau tak pernah tahu pasti, bukan ?”

“Tapi, bukankah itu semacam petuah ?” Aku tetap keukeuh pada pendapatku.  Sembari membetulkan posisi duduk, kalau tidak salah saat itu.

“Sekali lagi bukan, kamu jangan ngomong gitu lagi, Da” Lalu bahunya kembali terguncang, gelak tawa yang terdengar aneh berhamburan dari mulutnya, semacam tawa yang tertekan tenggorokannya oleh sesuatu, tak tepat jika disebut seperti tercekik.  “Mungkin sedikit protes saja pada semua yang sibuk berladang mimpi, merencanakan awang-awang tentang masa depan, sementara akan akhir dari hari sekarang pun dia tak mampu meramal.”

“Siapa dia yang dimaksud itu?” Cepat-cepat aku menyambar kalimatnya yang mendadak seperti siap-siap menggantung di mataku itu.

“Ya siapa saja lah, Da.  Banyak yang mengajari begitu, menyusun impian, mengajari berani bermimpi.  Sementara menikmati hari yang sedang dijalani sekarang masih tak sanggup. Ya mungkin salah satunya termasuk, kamu”  Sebuah ending kalimat yang menusuk.

Aku hanya terdiam, berusaha meerjemahkan kalimatnya yang berputar-putar, hanya sedikit yang bisa aku pijak maknanya.

“Kenapa kamu, terdiam?” Malah bertanya lagi, sok dewasa saja layaknya dia, padahal..

“Tidak, aku masih percaya.  Yang barusan kamu katakan barusan itu adalah sebuah petuah” Berkeras diri lagi padanya.

“Sekali lagi aku katakan, tidak, dan sama sekali bukan, Da” Kembali tawanya membakar sebuah pagi.  Di sudut dangau, di sebuah ladang entah punya siapa, suatu waktu yang entah kapan.  Dan yang memanggil kusingkat dengan Da itu pun samar ku ingat, sudah berpulang pada penciptanya.  Di saat dia menikmati sebuah harinya, yang tak pernah peduli dengan esok hari.

Karena hari ini adalah untuk dijalani dan diperjuangkan, hari esok adalah hanya impian.
Masih teringat sisa kalimat-yang-menurutnya-bukan-petuah itu. Saat ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: