Nilep

Hari sabtu adalah semacam wiken, hari awal libur yang indah bagi sebagian pekerja. Tetapi tidak halnya dengan yang masih harus bersekolah, tetap rajin berangkat ke sekolahan,tetap bertemu kawan-kawan, guru-guru, dan bagian menariknya adalah tetap mendapatkan uang jajan, sungguh beruntungnya.

Mendadak jadi teringat saat dulu kala, pada sebuah kantin langganan di waktu sekolah menengah, yang seharusnya merugi tapi anehnya tidak.  Dan jangan salahkan kami, karena jajan disana semacam tradisi.  Tradisi belajar korupsi, sungguh jangan ditiru.  Karena korupsi itu ternyata menular, menjadi wabah dan menjadi kebiasaan turun temurun.

Pemilik warung itu bernama, anggap aja namanya Paman, warung beliau cukup lengkap, jualan kacang bungkusan, gorengan sampai nasi beserta lauk semacam ayam goreng.  Masalahnya adalah, sejak angkatan terdahulu, konon sejak angkatan pertama sekolah, dan warung beliau juga eksis sejak dahulu kala itu.

Intinya, kebiasaan itu adalah, ketidaksesuaian antara jumlah makanan yang dimakan dengan jumlah uang yang dibayarkan.  Modus operandinya adalah contohnya makan kacang tiga bungkus, ngakunya cuma satu, eh rasanya itu kejadian saya yang melakukan dulu *malu*.

Dan pas pernah reuni dulu, beberapa angkatan yang bernostalgia bercerita tentang warung yang sering dizolimi oleh banyak anak-anak itu, berbagi cerita yang nyaris sama.  Tapi anehnya itu waarung terus eksis saja sampai bertahun-tahun, sampai beberapa tahun yang lalu terdengar kabar bahwa Paman sang pemilik warung sudah berpulang kepada Yang Maha Kuasa.

Moral ceritanya adalah sekecil apapun bentuk nilep hak orang lain, tetaplah ga baik, jangan ditiru ya.  Mudah-mudahan dulu saya ingat untuk membayar kelebihan dua bungkus kacang yang sudah terlanjur kemakan dengan perasaan entahlah dulu itu gimana.  Atau kalapun lupa, semoga beliau memaafkannya. Etapi bagaimana itu dengan teman-teman yang tak kalah dahsyatnya nilep dagangan beliau, apakah patut nyalahin beliau yang dulu pelupa juga, selalu nanya saat terakhir makan pada pelanggannya : “Jadi tadi makan apa aja ?” , dan rupanya ga ngecek juga stok makanan yang abis tak sesuai  dengan stok awalnya.

Ah sudahlah, apapun alasannya, tetep aja salah, jangan ditiru ya ! Apalagi kalau udah dikasih jajan banyak, masa masih nilep kacang *eh

Advertisements

One Response to “Nilep”

  1. Asop Says:

    Hahahaha… 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: