Firasat Prenjak

“Kamu tahu rasanya menyelam jauh pada kedalaman beberapa meter gitu ?  Dengan udara terbatas, tapi ingin terus menuju gravitasi berada.  Heran mengingat yang oleh mata terlihat segar, tapi malah menghimpit bagi nafas.  Seperti itu pula rasanya melawan arus hidup.  Ingin mencari inti sebuah perjalanan, tapi tak bisa lama karena harus kembali mengapung ke permukaan.”

….

“Kamu tahu nggak rasanya terbang beratus meter  dari permukaan bumi?  Udara juga menipis, tapi malah ingin menjauhi gravitasi.  Inginnya bersahabat dengan ruang terbuka tanpa batas, tapi semuanya sendiri-sendiri, semua yang beterbangan melesat kesana kemari tak peduli.  Lalu buat apa jauh-jauh menuju angkasa, jika suatu detik pun harus berbalik lurus jatuh lagi”

03.41 am

Dingin.  Hanya itu kesimpulan yang bisa ditarik dari berjalan menapaki ruas jalan yang masih sunyi.  Backpack itu sesekali dibenarkan posisinya, ditarik-tarik ke punggung.  Berjalan disisi aspal yang basah. Bekas hujan yang baru berhenti satu jam yang lalu.  Juli yang seharusnya kemarau, tapi nyatanya tidak.  Kembali tentang hujan yang malah menderu-deru.  Sisa anginnya masih terasa.  Dingin.  Air dari dedaunan tevesia berguguran, menyela lembab yang sudah tercipta entah kapan.

Tak perlu entah bagaimana lalu langkahnya terpasak di depan pagar besi bercat kuning tampaknya.  Tangannya ragu mengetuk bilahannya.  Tampak disana, jendela yang baru dinyalakan tiba-tiba tampaknya.  Bersiap menyambut subuh rupanya sang tuan rumah.  Kebiasaan dulu yang sekejap diingatnya.

Kepalanya lalu mengeleng entah karena apa.  Kemudian lantas berbalik arah, kembali ke asal dia datang.  Sesekali beberapa kerikil tersepak jauh-jauh.  Terlempar kesana sini.  Tapi tetap saja dia terus melangkah.

 

06.51 am

Pagi rasanya datang begitu cepat.  Lelaki itu mengerjapkan matanya, lalu malu.  Ada anak-anak di sekeliling yang menatapnya aneh, sedikit ada yang cekikikan.  Tertidur tak terasa sejak sejam yang lalu.  Di pos ronda depan jalan kecil di depan pertigaan aspal yang menurun jalan utamanya.

 

Bergegas tanpa menoleh lagi, menyeret langkah.  Menyampirkan backpacknya lagi.  Melintasi lapangan yang tak lagi berumput hijau.  Melintas pintas menuju pinggir jalan.  Menyetop mobil angkutan yang mungkin belum datang.  Tapi dia akan menunggu.

 

01.22 pm

Siang sudah mulai berkarat.  Pelan-pelan menipiskan nafas dengan belaian pucuk sinar matahari yang lewat tengah hari.  Harapan semoga tak seperti itu.  Seperti lelaki yang sekarang terkantuk-kantuk di deretan kelima deket jendela dalam sebuah bis yang membawanya kembali berbalik pulang.  Iya pulang. Tak tahu pulangnya kemana juga.

Tapi siapa yang pernah tahu akan perbaikan jembatan di perbatasan timur dan tengah pulau itu.  Begitu juga pengemudi yang lambat menyadarinya.  Hingga langsung membanting setir, menarik tuas rem yang sangat terlambat.

Satu berhasil dihindari, tapi tidak dengan tebing yang langsung menjadi luncuran langsung ke tengah sungai.  Bahkan tak sempat ada teriak.  Tenggelam begitu cepat.  Apalagi lelaki yang sedang lelap memeluk backpacknya itu.  Tak pernah sadar akan apa yang terjadi.  Tak pernah sadar.

 

06.22 pm

Senja yang menjelang usai.  Sepasang orangtua itu berbincang saja.  Merasa ada sesuatu yang beda dengan senja.

“Merasa ngga bu?, sejak tadi siang tiba-tiba si prenjak ribut saja.”  Membicarakan anjing kampung peliharaan anaknya yang ditinggalkan saat memutuskan pergi.

“Bapak lupa ngasih makannya, mungkin?”  Padahal ada raut cemas di wajah sang ibu.  Dan mereka akhirnya memutuskan untuk diam.  Untuk masuk ke dalam rumah. 

 

01.59 pm

Satu detik menjelang sebuah hari usai.  Tak ada yang tahu akan siapa penumpang yang sebetulnya masih kurang satu dalam evakuasi.  Hanya tertinggal ransel kecil yang mengapung setelah tersangkut di kursi penumpang bis yang tenggelam dan berhasil didaratkan.

Rumah berpagar besi bercat kuning itupun hanya sepi yang terlihat.  Firasat prenjak nyaris tak ada memberikan artinya.  Tak ada yang tahu artinya.

Walau bagi seorang bapak dan seorang ibu itu.   Tetap menunggu lelaki tunggal mereka.  Untuk menyampaikan sesal melempar amarah yang salah.  Sudah bertahun memang, semuanya merasa lelah.

Dan malam pun lalu menyerahkan segala rahasianya kepada senyap, kepada hitam, kepada kelam, kepada semua yang tak bernama.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: