Kala Air Mata Berkaca-kaca di depan Ayam

Selamat hari sabtu, apakabarnya semua, semoga sudah pada sarapan ya.

Na, tadi pagi-pagi sekali, entah apa yang merasuki saya hingga nekat ingin mencoba sesuatu yang baru lagi pagi ini.

Rencana awal adalah ingin membersihkan halaman yang sudah penuh dengan cyperus rotundus dan kawan-kawannya.  Tapi ternyata cangkul yang dalam itu entah nyelip dimana, rupanya saya ditakdirkan untuk tak melakukan hal itu *alesyan padahal males hihi*

Tak lama, voila, ada tukang sayur yang ngider pake motor lewat.  Maka saya hampiri lah dia dengan hati berdebar.  Lalu entah bagaimana tiba-tiba di plastik yang saya pegang sudah berisikan ayam satu ekor, hati dua pasang, daun sawi dan kueh.

Akhirnya diputuskan untuk melakukan proses memasak [lagi].  Kali ini melesat ide dahsyat nekat bernama ‘ayam kecap’.

Langkah pertama yang dilakukan kali ini rada beda, yaitu langsung gugling, nyari resep.  Akhirnya diputuskan untuk memakai tiga rujukan. Aneh aja ternyata namanya sama, tapi kok resep dan cara masaknya beda-beda toh, mbingungi sahaja.  Mungkin ditambah improvisasi lebih baik.

Langkah kedua, ngecek bahan-bahan, dan syukurlah selain ayam yang baru dibeli, bawang merah dan putih, garam, merica, tomat, minyak goreng, kecap dan sus tiram, semua lengkap. Mantap.

Langkah ketiga, ngecek peralatan tempur, wajan, alas untuk motong, sutil, sendok,sampai cobek, lengkap pula. Faboulous !

Langkah keempat, mengikuti pesan di resep yang didapat dengan hati-hati dan banyak bingung.  Akhirnya diputuskan terlebih dahulu ngupas bawang merah putih dan menguleknya bareng garam plus merica.  Sampai tahap ini sukses membuat air mata berkaca-kaca.  Oh mengharukan sekali bawang merah itu ternyata.

Langkah kelima, mencuci dan memotong ayam, yang diputuskan semena-mena untuk memasak cukup setengahnya saja, plus sepasang hati.  Sisanya dipikirkan untuk dimasak entah apa lagi ntar kalo pas niat.  Baru tau, memotong ayam dengan baik dan benar itu, rumit teorinya ck ck ck.  Potongan ayam menurut petunjuk dilumuri garam.  Tapi saya coba campur juga dengan capuran bumbu hasil ulekan barusan.

Langkah selanjutnya, memanaskan minyak goreng wajan yang rada lebar dan tinggi.  Lalu bumbu halus di masukkan.  Ayam dimasukkan. Aduk-aduk. Sreng-sreeeng.  Terus sampe rada berubah warna gitu.  Lalu masukin air secukupnya, tadi lupa seberapa masukinnya hehe.  Trus masukin kecap dan saus tiram yang menurut saya adalah saus yang sungguh terdengar internasional.  Trus sedikit banget gula.

Dan, sekali lagi, ajaib.  Aroma yang muncul begitu indah dan dramatis.  Sepertinya menjanjikan.  Potongan-potongan ayam itu pun berubah kecoklatan dan terlihat menggoda.

Langkah terakhir pun akhirnya tiba.  Menyiapkan sepiring nasi yang mengepul.  Disajikan dengan mengharukan dan hati berdebar, jantung pun berdetak kencang.  Pelan-pelan dicoba sambil memejamkan mata lebay. 

Dan..

Ternyata rasanya uenak tenan, sodara-sodara.  Sungguh.  *mengusap air mata haru* *ditabok karena makin lebay* etapi katanya enak kok. Ho oh gitu.

 

Nah, ntar mari kita coba hal lain lagi.  Mmm masak spaghetti mungkin? *ngarang!!*

————————–

Rujukan :

1.       Resep ayam kecap

2.       Resep mbak asri

3.       Resep masakan Indonesia

 

 

 

Advertisements

One Response to “Kala Air Mata Berkaca-kaca di depan Ayam”

  1. Asop Says:

    Saya pikir air mata runtuh *emangnya tembok* karena bawang bombay…. 😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: