Sedetik Kurusetra

Pertama kawan, aku melihatnya sekilas saja.  Diam tak tegak dalam sosok gelapnya.  Apa kau sebut itu misterius ? Atau sekedar membungkus jejak demi jejak satu persatu dengan bayangannya sendiri.

Tapi nyatanya tidak, kabut boleh turun setiap pagi saat kemarau tiba.  Tapi siang akan tetap ada, walau matahari kadang malas dan tidur bersembunyi jauh di atas permukaan awan, terus memulas sedari angkasa berlatar biru sampai akhirnya lelah dan berubah memerah jingga dan berangsur gelap.

Kurusetra pun enggan menjadi saksi, bukan karena tak peduli.  Tapi bisakah debu peperangan disingkirkan hanya dengan meniupnya perlahan, dengan hembusan sepintas yang tak sebanding dengan lesatan Pasopati.

Semuanya berderu, dan berhasil menelan desingan Kunto yang sejenak ragu dilepaskan Karna pada Tetuko.   Siapa yang bisa menghentikan garisan takdir pada alur edar sang waktu.  Tak ada yang bisa.  Walau berlari melebihi kilat. Walau terbang membumbung melampaui lapis ketujuh.

Maka tertunduklah aku kawan, saat perlahan melihat lukisan wajahnya berubah, sedari dingin membelah angin sampai lalu tersenyum menutup mata.  Seperti Aegle marmelos pun tak ingin hanya dikenang perjalanan panjangnya dari menuai hidup hingga rebah menyatu dipeluk bumi, cuma karena satu pahit.

 

Dan, tak ada yang luruh tanpa ada arti apapun, sekarang atau kapan pun..

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: