Bukan tentang November

“Hujan hanyalah sekumpulan curahan butiran air tak terhitung, cuma itu saja, tak lebih. Tak pernah lebih dari itu.  Hanya asal air hujan itu, yang selalu tak terpikirkan arahnya darimana, sampai bisa tegak lurus menuruni ruang antara awan dan bumi, dan selalu berhasil membuatku menengadah menatap dan menantangnya. Hujan hanya membuat aku bertanya-tanya”

“Bukankah seperti luruhnya yang selalu tak tertebak. Begitu juga hidupmu, turun dimanapun dia mau, menyapa jendela kaca, menyentuh permukaan dedaunan, menembus lapisan bumi, turut musnah dan melaju di aliran sungai.  Itu juga bukan kehendaknya, tapi memang seharusnya demikian.  Titik hujan tak pernah bisa memilih kemana dia akan jatuh.  Dan kita hanyalah salah satu dari  takdir yang tercurah dari atas awan, membiarkan diri terjun bebas kemanapun dia mau..”

 

Oktober

Senja yang biasa.  Ufuk barat tak memulas jingga juga, malam mungkin tak sabar menebar kegelapannya.  Tak sabar ingin memeluk erat dunia.  Mengajak semua akrab dengan senyap.  Membiarkan siapa pun mengerti kalau hidup  itu adalah sendiri, cepat lambat …

Menuruni anak tangga, cuma dari lantai dua.  Empat puluh dua undakan.  Menapakinya pelan. Satu-satu.  Sendirian saja.  Menyelesaikan sisa-sisa pekerjaan. “Biar besok bisa kabur”.  Sempat-sempatnya menyeringai, pada dinding.

Undakan terakhir, menuju pintu keluar.  Tetap tak ada siapa-siapa. Menuju mobil yang terparkir sendirian dibawah mangifera, dan tetap tak ada siapa-siapa.  Sepi.  Baru saat melaju di jalanan.  Ramai terasa.  Walau pelan-pelan ditelan …”so you need some time on your own. do you need some time all alone.” yang lamat-lamat terdengar lalu membesar volumenya.  Padahal november belum lah sampai.

 

November

Siang yang sedang bersahabat.  Gumpalan awan menahan lidah matahari bersenang-senang dengan bumi.  Membuat beberapa orang terlupa bahwa saat ini masihlah kekuasaan waktu siang.

Angin lah yang kurang bersahabat.  Membuat berantakan tumpukan daun shorea.  Menebarkannya ke seluruh sudut, terinjak-injak, hingga nyaris tak beda dengan acacia.  Trotoar pun tak lagi rapi, dilapisi remah pecahan dua daun yang remuk.

Sebuah  jip melintas pelan saja.  Sayup terdengar ..” .. Everybody needs some time on their  own, don’t you know you need some time all alone..”  menguar pelan dari jendela kanan yang setengah terbuka.

 

Desember

Pagi yang kembali seperti biasa. Dingin. Embun. Kehidupan yang baru dimulai.  Nafas yang baru tersadarkan. Hari itu seharusnya adalah pagi yang baru.  Tapi nyatanya adalah sebuah akhir.  Bagaimanapun mengingkari waktu.  Hujan seperti enggan menyapa, awan tak lagi gelap saat dia menatap ke atas.

Kereta baru saja beranjak.  Kursi 13D. Jendelanya masih berembun.  Headsetnya dipasang, sendirian menikmati bagian lain yang direwind berulang-ulang, ..” everybody needs somebody.. you’re not the only one, you’re not the only one..”  huruf-huruf lirik yang sudah terhapalkan itu, seperti berhamburan, tercerabut dari susunannya, lalu beterbangan di dalam rongga dadanya, menancap ke segala sisi.  Membentuk kalimat baru.

Sudah sejam dalam diam.  Slide pemandangan dari jendela melesat-lesat cepat.  Langit malas-malasan beranjak mendung.  DI luar sana yang diam.  Dialah yang diam.  Walau semuanya bergerak.  Semuanya menjadi terasa relatif.  Kereta yang berjalan maju, tapi pikirannya pun beringsut ke belakang tak kalah cepat.

 

Januari

Tengah malam ya masihlah sepi.  Sepi yang pada puncaknya. Hanya ada segelas teh hangat dan asap yang mengepul-ngepul.  Bangku besi yang dingin.  Teras yang hanya bisa diam.   Bosan mengundangnya untuk memasang headphone.  Cuma ada satu lagu di playlist.

 

Dan sepotong lirik mendekati akhir, yang terulang-ulang ..” so never mind the darkness we still can find a way..”  Menggema di seluruh ruang telinganya.  Toko buku.  Tangannya memegang sebuah buku.  Berlapis velvet.  Cerita fiksi tiga ratus halaman lebih.  Dia masih ingat.  Nama penulisnya tersusun angkuh dalam huruf kapital, tercetak di sisi kanan mengikuti garis tepi buku, horisontal. Eusideroxylon..

Dan dia, Zwagerii.  Adalah bagian dari cerita bersama Eusideroxylon, dalam sebuah hujan, dalam sebuah november.

Tapi waktu  tetaplah melaju ke februari.  Tak pernah akan menapak balik ke november. Tak akan.           

 

..” nothin’ lasts forever even cold november rain..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: