Suatu Nanti, Eugenia

“Hidup ini kawan, hanya selintas dan tak pernah terasa, atau mungkin tak ada rasanya, ya” Sebuah pernyataan yang berbelok tajam ke sebuah pertanyaan lain. Makin menyusut kadarnya, dari tak terasa.  Menjadi benar-benar tak ada rasa.

“Kau pikir bisa mengibaratkan hidup laksana kopi atau coklat. Begitu saja ?  Tak sesimpel itu kawan.  Atau jangan-jangan malah memang sangat sederhana saja.  Tak bisa disandingkan dengan apapun?”  Kembali lagi pernyataan menjadi pertanyaan.  Selalu begitu. Bisa-bisanya begitu.

Awal

Eugenia. Nama itu tertulis rapi di atas sepotong kardus. Pake spidol hijau.  Sophisticated. Ya tulisannya, ya orangnya.  Walau tak kuasa menolak perintah untuk mengikat rambutnya menjadi tujuh bagian.  Seperti pohon nyiur melambai.  Hanya diikat warna warni.

Berbaris-baris kemudian. Push-up.  Mengigit piring kaleng dalam antrian makan siang.  berjemur tanpa topi anyaman.  Semua ebrsama-sama. Satu angkatan. “Anak-anak baru nan hijau”. Gumam seorang Garuga.  Garuga yang lelaki satu angkatan di atas. Berusaha tak sok senior.  Walau kentara tak bisa menahan diri untuk memberi hadiah push-up pada siapa pun yang dia mau. Secara random.  Sangat acak.

Itulah beda panitia dan peserta.  Senior dan junior.  Penguasa dan hamba.  Mau tak mau pasal satu dan dua itu harus dituruti.   Tentu dengan sangat senang oleh para kakak-kakak, demikian sukanya dipanggil.  Dan dengan sangat terpaksa oleh wajah-wajah tertindas.  Penuh dendam yang ditekan dalam.  Padahal cuma akibat diperintah semau-maunya.  Seringnya logis saja.  Ada yang tertinggal, turun ke tanah, push-up.  Telat nyampe, saat harus berkumpul semenjak sesaat setelah subuh berlalu, larikeliling lapangan bola, cuma dua kali.  Ketahuan terkantuk-kantuk, bernyanyi keras-keras sambil memeluk Acacia auricauliformis di sudut barat halaman kampus.

Sekali lagi, menyenangkan bagi senior.  menyebalkan bagi junior. Faktanya jelas Garuga adalah the senior.  Eugenia masih junior.  Yang tak terima, tak sabar mengakhiri masa awal perkenalan yang seperti tak ada gunanya.

Medium

“Kamu, Eugene.  Kesini !” Dua oktaf lebih tinggi dari biasanya. Garuga meledak.
Eugenia cuma mendongak.  Lalu kembali sibuk menekuri isi tas karung tepungnya.
Lelaki senior terbakar egonya, digratisin sama perempuan, anak yang baru.  ‘Walau cantik, sih’ Sempat-sempatnya memikirkan fakta lain.  Melangkah lebar.  Mendekati.  Yang lain disisi kanan kirinya, cuma bisa menunduk.

“Dimana telingamu..”  Berteriak, naik lagi satu oktaf.. tepat disamping empunya telinga. Tak ada jawaban, tapi spontan sebuah kepalan telak menghantam mata kirinya.  Badannya terhuyung ke belakang.  Eugenia berdiri.  Menghampiri Garuga yang hanya terdiam, memegang mata kiri lebam.

Berbisik pelan ke telinga kanan lelaki senior “Aku masih bisa mendengar, dan namaku Eugenia, bukan sama dengan Mister Crab !”

Junio-junior lain bertepuk tangan, riuh.  Senior lainnya berlompatan ke arena.  Eugenia malah melangkah menjauh. Tak peduli.  Dan tak pernah kembali lagi.

3/4 Waktu

Akhirnya, empat tahun berlalu juga.  Say goodbye to skripsi.  Tulisan besar di kaosnya, baru saja dipakai, sesaat setelah keluar dari ruang sidang.  Itu yang baru selesai ujian bikin ulah. Kaos hitam bertuliskan putih.  Mencuat setelah kemeja putihnya dibuka. 

“Siapa yang mau ikut ? Makan-makan !”  Tangannya melambai, tertawa mengajak teman-temannya yang menunggu sedari tadi.  Bikin konvoi kecil.  Motor-motor kecil.  Honda 70 hijau memimpin.

Tikungan tinggal satu lagi.  Sampai di tempat makan-makan. Ikan nila dan mas, cuma itu pilihannya.  Kanan memang tebing, tapi kiri adalah curam.  Matanya menangkap sedan hijau.  Moncongnya menantang Ceiba pentandra.  Pintu depan terbuka, ada satu kaki terjulur keluar.  Ada asap pupus dari kap depan.  Hening saja.

70 hijau dikesampingkan.  Empunya melompat, berlari.  Seperti mengejar Civic yang hanya diam.  Cepat menuju bagian depan.  Ada sekilas darah di kening pengemudi.  Perempuan cantik.  Serasa pernah dikenalnya.

“Eugene..?”  Diangkatnya saja, cemas.
Tiba-tiba ada, lirih bisikan di telinganya.  Pelan.

Mendekatkan telinganya.
“Aku bukan mister Crab..”

Lelaki itu. Garuga.  Tersenyum, bercampur cemas yang belum hilang.  Melangkah ke tebing atas. Menuju aspal.. Mencari angkutan untuk memutar balik.  Ke kota.

Berharap badan yang di gendongnya. Cepet tertolong.  Dan sadar.  Dan bercerita.  Tentang kemana saja empat tahun itu berlalu.

Final

Eugenia namanya.  Sudah sadar sepenuhnya.  Di kamar kelas tiga.  Deret ketiga dari enam tempat tidur yang ada.  Itulah rumah sakit kota kecil. Meminum air putih.  Wajahnya cerah.  Menyodorkan kembali gelas yang tadinya dikasihkan oleh seseorang disampingnya.

Garuga namanya seseorang itu.  Lelaki itu.  Mendekat.

“Tak pernah ada orang yang menyarangkan kepalannya ke muka, apalagi tepat di mata.  Kecuali Eugene..”

“Tak pernah ada juga yang meledak dekat di telinga, kecuali kamu yang masih manggil aku dengan nama pimpinan Krusty Krab..”

Tergelak lalu bersama.  Hari masih pagi.  Masih ada siang yang menunggu muntahan cerita dari keduanya.  Tentang empat tahun yang masih diingat awalnya.

…..

“Kamu bisa berani menjejakkan langkah.. Pertama, kedua, dan berapapun sampai kau lelah.  Tapi kamu ingat, melangkah di pagi hari, siang, dan lalu malam.  Tetaplah sama. Ringankan.  Sampai nantinya..”  ada jeda sesaat

“Sampai bagaimana ?”

“Sampai nanti ada yang mau menjejerinya. Langkah boleh beda, tapi waktu yang pagi, siang, dan malam yang akan dijalani, adalah sama dan tak berubah.  Arah dan langkah yang membuatnya berbeda.”

Entah siapa yang berkata begitu.  Eugenia atau Garuga.  Nantilah aku tanyakan pada mereka jika bertemu lagi.  Suatu hari nanti.

 

Advertisements

One Response to “Suatu Nanti, Eugenia”

  1. Asop Says:

    Garuga…..
    Garuga pancasila?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: