Pink Theories

“Warna. Tak semuanya itu sempurna.  Seperti warna pink yang kau tau itu merah dan putih.  Atau ada jingga yang terselip.  Siapa yang tahu persisnya? Bahkan ada warna fuchsia pun setitik hadir disitu. Tak ada yang pernah tahu, bukan ?”

“Bukan matamu yang membuat satu warna menjadi indah dan berharga.  Tetapi otak dan hatimu, yang membuatnya demikian..”

 

Setengah

Menarikan jemarinya bebas di atas bass coklat enam senar, fretless.  Nada-nada bertebaran melayang di sekitarnya.  Tapi satu senyum saja.  Lurus menghajar perempuan berkemeja biru kotak lengan pendek.  Tertunduk saja yang dituju.  Tapi lihat, sudut matanya mencuri-curi nakal.  Tertangkap pula oleh yang sok pamer nada.  Bertabrakan di udara pandangan mereka.  Menyerpih dan pelan-pelan enggan jatuh, sesekali melawan gravitasi, melambung lagi ke atas.  Lalu menyerah dibuaian angin. Tak jelas lagi menuju barat daya atau menuju tenggara.  Sesat saja mungkin.

Hanya sedikit ingatan itu yang berusaha dia sisakan.  Sepotong malam yang beranjak senyap di atas dua roda Thunder.  Fragaria berpegangan tangan sebelah, pada besi di samping jok kiri.  Bukan pada Proton yang menatap tajam ke depan.  Tangan kanan, menggenggam erat hand-made 6 string fretless, tegak di antara depannya dan punggung Proton-nya, siapa lagi ?

Sudah dua bulan lepas.  Kembali harus mesra dengan Polygonnya.  Biasanya juga begitu.  Dua puluh menit saja menuju kampus.  Tak perlu menunggu dijemput.  Tak perlu menunggu harapan.  Tak perlu menunggu siapa-siapa.  Tak urung, fakta itu kembali teringatkan olehnya.

 

Dua per tiga

Berbicara soal dunia,ada saja yang salah tentang dunia.  Tak pernah sempurna rupanya bumi ini di matanya.  Terus berbicara.  Hanya batasan jam sepuluh malam, di ruang tamu. Di sofa coklat panjang di tengah-tengah itu.  Yang membatasi dan mengakhiri dengan kejam uraian argumentasi yang seakan tak terbantahkan.

Panjang memang tentang dunia, tentang hukum yang ruwet.  Tentang alur birokrasi negara.  Tentang hubungan satu peristiwa ke banyak fakta lainnya. Tersilang rapi dan mudah dicerna anehnya.  Oleh otaknya yang masih hanya bisa berpikiran terlalu sederhana akan sebuah hal.

“Fraga, sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan dari pergolakan apapun oleh manusia.  Apapun nanti akan terpulang pada diri mereka masing-masing.  Itu cuma soal waktu saja.  Lambat dan cepatnya tak bisa di ramal. Tapi kekacauan yang dibuat akan berbalik menghantam dada mereka.  Begitu pula menyemai kebaikan, akan menyerbu mereka perlahan di masa depan, bahkan tanpa tersadari..”

Entah apa maksudnya.  Maksud lelakinya itu, Barrington namanya.   Tapi tak jua bertahan lama.  Barry dengan semua hipotesisnya tentang dunia.  Tapi tak berhasil mengambil kesimpulan akan arah hatinya.

Kadang lain siang, berlama-lama dibawah Ficus benjamina depan sekolah.   Bertukar bantahan.  Kadang tak penting.  Tapi selalu berhasil membuatnya betah.  Bertahan dari sedikit ketidakmengertiannya akan pikiran seorang Barrington.  “Berat berton-ton ruwetnya” Begitu selalu menggambarkan apa yang selalu ada di otak lelakinya, dulu begitu.

 

Seperempat

Langit sore.  Setengah memerah. Motor yang melaju ke selatan.  Fragaria lagi di belakang itu.  Di depannya adalah Croton.   Bisanya cuma memutari dataran bumi,  menikmati kolong angkasa.  Seakan tak ada tepiannya.  Benar-benar meresapi dan mengimani Columbus. “Dunia yang bulat sempurna, tercipta untuk di lihat, dikelilingi dan dimengerti“. Begitu prinsipnya.

Selalu persiapannya sempurna.  Membuatnya merasa aman.  Tak pernah ragu menemani lelaki itu kemanapun mengikuti manja roda duanya sang Pulsar merah.  Mungkin teramat berhati-hati, disela kenyataan kecepatan yang jarang berada di bawah rata-rata tujuh puluh, dan terus menyalak jikalau jalanan lurus dan memberikan ruang untuk mengumbar gas sampai mati rasa.

Di jalanan sebuah sore, seorang Croton sempat-sempatnya berkhutbah, tentang jalanan, yang selalu merupakan inti dunia baginya.

“Fraga, kamu boleh berjalan kesana kemari.  Kemanapun tempat yang kau ingin kau datangi, kejarlah.  Sampai bisa membuatmu tersenyum.  Tapi satu hal yang harus kau ingat, kau haruslah punya titik untuk pulang.  Tempat yang harus kau punya untuk memulai semuanya lagi dari awal, sekaligus tempat kembali pada akhir perjalananmu.”

“Dimana itu ?” Setangah berteriak diantara desau angin yang berlompatan masuk ke telinganya.

Tangan kirinya mengepal,  lalu memukulpelan ke arah jantungnya sendiri.  Seraya berteriak pula.
“Disini, ya disitulah adanya.  Keberanian menaklukan ruas-ruas jalanan tak ada artinya, jika tak ada tempat yang bisa menerimamu kembali.  Pulang”

 

Nol.

Semuanya hanya titik-titik kenangan yang luruh saat ini.  Melesap jauh ke bawah permukaan tanah.  Di saat ini, kala Fragaria bersimpuh, sendiri.  Mono Fragaria.  Seorang diri, tanpa siapa-siapa.

Tanpa Proton, tiada Barrington, tak ada Croton.

Ketiganya menyelipkan masing-masing pelajaran hidup dalam perjalanannya.  Abadi tak mau pupus, lekat di ingatannya.  Walau ketiganya pun entah sedang berada dimana.

Katanya, Proton lenyap ditelan arus deras muara Kahayan kala berusaha mengambil dan meresapi nada-nada alam dengan tim pencinta keindahan alam kebanggaannya, tapi Fraga tak pernah mau percaya.

Katanya Croton diseret Argo Lawu dalam ketidaksabaran egonya menerabas ributnya lonceng penanda berhenti di lintasannya.  Fraga juga menganggap itu hanya mimpi.

Katanya Barrington, dalam sebuah misi adu intelejensi argumentasi di sebuah kampus di Papua, tapi pesawat yang membawanya tak pernah sampai pada landasannya.  Bagi Fraga berita itu hanyalah sensasi.

Bagaimanapun mengelabui semuanya.  Hilang dan ada tak pernah ada batas yang nyata.  Mereka memang tak bisa ditemui lagi.  Tak ada lagi yang memberinya sepintas ajaran hidup, yang mungkin tak ada artinya bagi siapapun.

Tapi, di pikirannya.  Ketiganya adalah selalu berbinar, dan sering muncul menemaninya, saat tersimpuh tak berdaya seperti sekarang.  Saat dirasanya semua elemen dunia tak percaya danberpihak padanya.

“Hey, melamun.  Jadi berangkat ngga ?”  Itu teriakan pengawal hidupnya sekarang.  Yang katanya selalu malas memandang ke arah belakang.  Fraga tersenyum menyambut uluran hangat tangan kokoh yang menariknya berdiri dari duduknya yang lama.  Seorang…. Sudah berhasil mengajaknya menikmati setiap nafas dalam menapak ke depan.

Kenangan, hanyalah titik nol.  Tempatnya berpulang untuk di ingat sesekali. Tak lebih dari itu.  Hari sekarang lah yang nyata, untuk terus ditantang dan dilompati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: