Semacam Cerita

Pertama

Mungkin itu adalah sebuah kebetulan saja.  Siang yang baru tiga puluh dua menit beranjak dari tengah-tengahnya.  Di sudut jalan, menunggu bis kota, pilihan yang tak terlalu bagus saat terik tak peduli begitu.  Tetapi dia ada disana, entah kenapa jalanan yang ramai, tapi di halte cuma ada dua orang saja.  Lima menit tak peduli, baru di menir ke delapan, mata mulai agak terganggu dengan lelaki kurus itu.  Berjins hitam pupus, robek di tiga tempat, robek yang alami.  Kontras dengan kemeja biru, yang terlihat rapi.  Mulutnya sedari awal melihat, menjepit sebilah rokok filter.

Akhirnya berkenalan juga, bukan berkenalan, tapi ada percakapan singkat.  Dia yang memulai percakapan.  Awal yang biasa, meminjam korek.
“Punya api, mas ?”,  menatap ke arah saku kemejaku.  Tangan kanannya membentuk gestur menyalakan korek api gas. Tau kan yang saya maksud?
“Lagi ga bawa, mas.  Maaf”
“Ga papa, kamu ga salah..”  Jawaban yang aneh.  Tapi matanya tak henti menatap ke arah utara.  Kanan badannya, sambil agak terpicing.  Kanan kirinya malah sibuk menggaruk belakang kepalanya.

Dua menit kemudian, bisnya datang rupanya.  Melangkah masuk, meloncat cepat, bis itu seperti bergegas ke selatan, tak menunggu lama-lama.  Meninggalkan sisa asap yang mengebul pekat.  Aku sendiri memutuskan berjalan kaki saja.  Kosong lima dua malas melewatkan siang di jalan panas begitu rupanya.

Kedua

Menyeret motor siang-siang bukan merupakan pilihan.  Walau langit terasa mendung oleh mata.  Tapi kulit merasa panas, sedikit berkeringat pula, manja sekali.  Ban belakang yang tak sempurna itu, lebih berat diseretnya.  Seratus meter lebih lumayan juga buat tubuh yang belum sarapan sedari pagi.

Membawa tas selempang saja padahal, isinya juga cuma dua buku pinjaman, harus dikembalikan sekarang, kalau tidak kena denda, begitu syarat perpustakaan.  Kenapa pula harus denda ?

“Antri ya, mas”  Tukang tambal ban berkata, menyuruh sabar.  Tangan kirinya yang berlumur oli sepertinya, menunjuk bangku kayu sepanjang satu setengah meter, mempersilahkan duduk.  Masih sibuk dengan ban depan sebuah motor.  King hitam.

Duduk di  bangku yang sudah berpenghuni satu.  Aku tersenyum, mengenal lelaki lusuh dengan tiga sobekan di jinsnya. Spontan merogoh kantong, mengangsurkan korek ke arahnya.  Kemeja batik sekarang yang dipakainya, menoleh cepat. Tak ada senyum juga, datar saja.  Lalu menggelengkan kepala.

“Lagi ngga ngerokok.” Sedikit mengangguk.
“Ini, ambil..” Sekotak mild filter, ku sodorkan.  Tak urung tangannya mengambil satu.  Menyalakannya.  Tangan kanannya lalu disorongkannya.  Tatapan bersahabat muncul kemudian.
“Primo”, Menyebutkan namanya.
“Ditto” Aku menyebut nama pula. Bersalaman.

Entah karena bosan menunggu King beres.  Entah karena batre hape sama-sama habis.  Entah karena sebatang rokok.  Ngobrol saja.  Aneh percakapan tak henti eksana kemari.  Tentang kuliah, tentang dosen, tentang filsafat, tentang hidup.  Beh filsafat bikin mumet, sebuah kesimpulan aklamasi diambil.  Walau padahal mata kuliah wajib.  Pedulilah dengan kurikulum.

Kemudian sepotong kalimat yang masih kuingat, lupa bagaimana bisa kata itu keluar dari seorang Primo, yang akhirnya sekilas bercerita tentang perempuannya.  Meninggalkannya tanpa alasan.  Ya pergi saja, tak ada alasan pun.

Katanya tetapi, “..luka itu biarkan saja, tak perlu dikasih obat, tak perlu dibebat, biarkan saja mengalir, terbuka lebar, nanti juga sembuh dan menutup sendiri setelah habis fase sakitnya..”

Itu diucapkannya sembari menarik panjang nafas bercampur karbon monoksida, yang menunggu beberapa detik baru dihembuskan lagi ke udara bebas.

Tak nyambung, aku malah menyanggah.
“Tapi kenapa ada dokter, perawat, buat apa selain menyembuhkan luka dan sakit?”
“Ah mereka yang sok tau, obat dan apapun itu, cuma perangkat penahan sakit, memperlambat reaksi otak dan mengelabui, mengalihkan perasaan saja.  Sakit ya sakit, luka ya tetaplah luka.  Tetap akan ada walau di kasih apapun.  Nanti juga akan hilang, kalau memang mau dihilangkan..”
“Lalu siapa yang mampu menghilangkannya?” Aku jadi tertarik dengan sok taunya.
“Ya kamu sendiri.  Yang merasakan sakit itu.  Kalau ingin hilang, dia akan hilang.  Tapi kalau memang ingin tetap ada, ya pertahankanlah. Begitu.”

Tak sempat bertanya lagi. King-nya sudah beres.  Membayar ongkos.  Mengucapkan salam sambil mengangkat tangan, seperti memberi hormat.  Lalu melesat ke timur, meninggalkan jejak asap putih, beraroma wangi.  Tiger merah pun mendapat giliran juga akhirnya.

Ketiga

Kembali pada sebuah siang.  Perempatan toko buku, laju kendaraan tak boleh membelok ke kiri, tak boleh juga ke kanan, harus lurus ke utara, begitu aturannya.  Di sisi kanan cuma ada Kijang bak terbuka. Di kiri sepasang anak muda, di atas Ninja biru.  Lalu seorang pedagang yang kerepotan dengan barangnya yang memenuhi jok belakang Grand-nya.

Lampu hijau, semua bergerak, tak cepat-cepat jua.  Tapi entah tak melihat lampu isyarat yang tak lagi hijau melainkan sudah merah, entah terburu-buru, Ninja yang paling kiri, tak bisa apa-apa saat sesuatu melesat ke arahnya, telak.

Itulah King.  Yang sticker sederhana bertuliskan Kick besar-besar berwarna putih tertempel di tangki kanannya, tersungkur jauh ke sisi kiri seberang jalan, setelah sempat-sempatnya sedikit dihajar Kijang yang tak bisa mengentikan lajunya.  King yang dua hari lalu, yang sempat ngobrol terputus dengan pemiliknya.  Nolan hitam masih terpasang, tapi ada merah yang perlahan merembes, membasahi kaos putih, berinisial besar nama sebuah kampus.

Tiger merah digeletakkan saja.  Bergegas harap teman yang baru bertemu dan kenal sesaat itu masih ada harapan.  Tapi tak jua ada gerak.  Hanya diam.  Saat aku hampiri, melihat ada embun dibalik kaca helm.  Membukanya.  Ada mata yang memaksa bergerak. Memaksa ingin membuka.  Walau merah sudah menghias disebagian wajah.

Ada mulut yang bergerak.  Aku berusaha menangkap suaranya.  Mungkin ini pesan terakhir.
Dan aneh saja, sekilas terlihat seperti tersenyum. Berkata lirih saja.

“Luka memang harus mengalir, nanti juga hilang..”

Begitu saja, lalu hening.
Matahari tak peduli, tetap bersinar garang.

Tapi pesan itu, masih saja aku ingat.  Entah untuk apa.

Siang kembali meneruskan perannya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: