Acara Memasak

Ruang tengah sebuah rumah yang hangat. Televisi.  Sofa coklat.

 “Nonton acara itu lagi ?  Mau jadi chef beneran kamu ?”, Lelakinya menoleh sekilas pada televisi yang menayangkan acara lomba masak.  Yang tampaknya tak pernah dilewatkan perempuannya.  Yang menikmatinya sambil duduk di sofa coklat, tepat di depan televisi flat, di ruang tengah.

 Perempuannya hanya tersenyum, balas menoleh sekilas.  Lalu kembali asik dengan televisi di depannya.

“Aku berangkat dulu ya?”  Lelaki itu mendekatinya. Mengecup keningnya.  Yang ditanya Cuma mengangguk sambil tersenyum lagi.  Langkah-langkah lebar lelaki itu terdengar menjauh ke arah depan.  Lalu suara mobil yang distarter, yang juga perlahan terdengar menjauh.   Lalu rumah itu kembali sepi.  Hanya ditingkahi suara dari televisi saja.

……

“Ibu disini saja.  Biar aku yang ke supermarket”

“Ga usah nduk.  Biar nanti ibu yang berangkat, bentarlagi ini nyeterika beres, kok.”

“Sudah, saya lagi pengen jalan bu.  Ibu jaga rumah bentar ya”

“Iya nduk, hati-hati ..”  Hanya senyum singkat jawabnya.

Perempuan itu berjalan ke garasi samping tanpa menoleh.  Tak lama pintu garasi terbuka otomatis.  Dan menutup otomatis lagi saat sedan merah marun itu melewatinya, melaju ke jalan raya

…..

 

Entah kenapa, mobilnya seperti diarahkan ke jalan menuju kantor lelakinya yang biasa dipanggil si mas, sama ibu. Ibu adalahpanggilan untuk perempuan tua berusia enam puluh tahun itu, pembantu yang sudah menemani mereka selama tujuh tahun di rumah mereka.  Ibu yang dimintanya untuk memanggilnya dengan sebutan ‘nduk’, bukan juragan atau ibu, seperti kebiasaan awal ibu waktu ikut hidup bersama mereka

Mobil berjalan pelan, siang begitu jalanan tidaklah macet.  Apalagi di kota kecil tempat mereka hidup.  Kebetulan supermarket yang ditujunya melewati kantor si mas.

Beberapa saat kemudian, persis di depan kantor, merah marunnya terhenti.  Dan matanya menangkap pemandangan yang tak pernah dibayangkannya.  Lelakinya berjalan ke arah mobilnya, diiringi oleh seorang wanita yang tampak akrab.  Bukan sekedar akrab, tapi tampaknya mesra.  Tak henti memegang tangan kiri lelakinya.

Sabtu sore. Channel televisi kembali menayangkan acara favoritnya.  Lomba masak. Duduk lagi di sofa coklat depan televisi.

“Kok sepi ya nduk.  Si Mas kemana ? Biasanya pulang jam segini”    Si Ibu mengantarkan segelas sirup strawberry kesukaannya.  Meletakkannya hati-hati di meja kecil di samping sofa.

“Lembur kali, bu..”  Sahutnya pelan, sambil memencet remote, membesarkan volume televisi.  “Duduk sini bu, ikutan nonton..”

“Makasih, nduk.  Ibu ke belakang dulu.  Mau bikin makan malam.”

“Bikin apaan malam ini bu ?”

“Semur daging, kesukaan si mas. Eh kalo sering nonton acaraa gitu, lama-lama jago masak juga nduk.  Jangan-jangan ntar ibu dipecat lagi kalo udah gitu”

“Ah ibu ada-ada aja deh..”  Tak urung dia jadi tergelak. 

“Ya udah, ibu tinggalin dulu” Si Ibu pun melangkah ke belakang, ke dapur.  Tetapi kemudian langkahnya terhenti, seperti mengingat sesuatu.

“Eh perasaan tadi pagi ibu juga ndak ngeliat si mas, mobilnya juga masih adakan nduk?.”

“Oh, itu tadi pagi-pagi pas ibu sibuk di belakang.  Dia cepat-cepat dijemput mobil kantornya”

“Ealah, ya udah, ibu kebelakang dulu ya nduk..”

“Iya, bu..”

…….

Minggu pagi.  Si  ibu ijin pulang ke kampungnya.  Kebiasaannya sebulan sekali begitu.  Menengok anak cucunya yang hidup di kampung yang kebetulan tak seberapa jauh dari rumahnya.  Sekitar satu jam perjalanan naik mobil.  Taksi yang dipesan sudah siap di depan.

“Ibu berangkat dulu, nduk”

“Iya hati-hati, bu..”

“Oh iya, itu beli apaan di kulkas, nduk?”

“Otak bu, buat belajar masak nanti malam”

“Oalah, ya sudah semoga masakannya jadi yaa.  Titip salam buat si mas kalo ntar pulang” kata ibu sambil tertawa kecil.

Ia cuma mengangguk, tersenyum sambil melambaikan tangannya.  Taksi pun melaju.

Dia sudah bilang kalo si mas, lelakinya ga bisa pulang karena ada tugas kantor yang membuatnya tak bisa pulang sejak kemarin.

….

 

Perempuan itu duduk sendirian di meja makan.  Matanya sendu, membayangkan seseorang yang dirindukannya, yang biasanya menemaninya setiap makan malam tiba.  Ruangan itu temaram.  Hanya berhias lima buah lilin di atas meja.

Tangannya bergerak menyendok masakan yang susah payah dibikinnya sejak dua jam yang lalu, asap hangat masih sedikit mengepul. Aromanya menawarkan rasa yang sulit ditolak lidah. “Tak sia-sia nonton acara masak berhari-hari”  Pikirnya sambil tersenyum.

Dia memakannya pelan-pelan.  Berharap ingatan akan dirinya bisa musnah.  Seiring tekstur lembut otak lelakinya yang perlahan seperti mencair, mengalir pelan menuju pencernaannya.

 “Kau selalu ada di pikiranku, di otakku, sepanjang waktu”

Begitu selalu lelakinya berkata padanya sambil memeluk dirinya.  Dimanapun.  Tak bosan membisikan kalimat itu.

Dia tak ingin apapun tentangnya, bahkan bayangan dirinya masih ada.  Disitu.

Tiga puluh satu menit. Makan malamnya usai. Tangan kanannya menjemput gelas bening berisikan sirup memerah darah.  Bercampur darah lelakinya.

 

“Kau adalah darah yang mengalir di nadiku tak henti-henti,”

Dia masih ingat kalimat yang dituliskan lelakinya dulu pada selembar kertas tisu di sebuah restoran, pada suatu malam.  Saat dia mengangguk sambil tersipu, mengiyakan permintaan lelaki itu untuk menjadi kekasihnya,

Dia ingin semuanya terhenti.  Saat itu juga.  Tinggal seperempat gelas minumannya usai.

Karena dia sadar juga pernah berkata dulu, pada lelaki yang teramat dicintainya.

“Kau hadir di setiap hembusan nafasku..”

Kalimat itu juga yang tak henti diselipkannya setiap kali mereka bersama, mengarungi setiap malam yang dikuasai tanpa henti berdua.  Ya cuma berdua saja.  Berbagi nafas dan segalanya.

Sekarang rasanya dia sudah tak memerlukannya lagi.  Tak perlu lagi ada nafas terhembus.  Kakinya melangkah tenang menuju kolam renang di belakang.  Tampat dia sering menghabiskan waktunya disitu.  Dengan orang yang disayanginya.  Mendekat ke arah patung perunggu setinggi satu meter di sudut utara.  Menyeretnya ke pinggir kolam.  Mengikatnya erat ke pinggangnya.  Mendorongnya susah payah dengan punggungnya.

Patung perunggu jatuh.  Tenggelam.  Juga dengan tubuh yang terikat disitu.  Tubuhnya.  Segera air menyambutnya.  Perempuan itu seperti tersenyum didasar kolam.  Lalu perlahan wajahnya terlihat datar.  Tenang.  Tak ada lagi gelembung udara dari hidungnya.

 

Malam makin pekat.

Hening.  Sehening jasad perempuan itu, yang terbaring tepat disisi jasad lelakinya, yang sudah ada disitu.  Sejak kemarin malam.

 

Advertisements

One Response to “Acara Memasak”

  1. Asop Says:

    😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: