Rak Sepatu (part 2)

Entah kenapa, sore tadi, menjelang limitnya, sempat-sempatnya melirik ke rak sepatu itu lagi, dan ya lumayan, beberapa pasang sepatu yang tadinya bergelimpangan sekitar rak putih itu sudah tak ada lagi, mungkin sudah dibawa pulang oleh sepasang kaki pemiliknya.

Yang tersisa hanyalah sepasang sepatu buluk, ya itu punya saya, dan sepasang sepatu kulit yang masih gress, punya seorang teman yang diletakkan di lantai 😐

Akhirnya daripada mumet mikirin akan sepatu yang tak diletakkan pada tempat yang menurut otak saya tidak semestinya, diputuskan saja untuk memungut, eh mangambil sepatu teman itu dan meletakkannya pada rak yang masih menyisakan banyak spase buat beberapa sepatu itu.

Dan yaa, kenapa juga cuma dipikirkan ya, mestinya kalo memang maunya sebuah hal terjadi normal dan baik. kenapa bukan kita saja yang  bergerak memperbaiki sesuatu yang dianggap tak baik.  bukan cuma bisanya mikir ga jelas tapi cuma diam saja tak bergerak.

Jadi,demikianlah, sebuah episode pemikiran tentang rak sepatu berwarna putih yang letaknya tersudut yang mungkin terasa ga penting, tapi sore ini bagi saya tiba-tiba menjadi sesuatu yang penting.

Demikianlah
😀

Advertisements

One Response to “Rak Sepatu (part 2)”

  1. Asop Says:

    Awas! Sepatu2 yang lama jangan sampe gak keurus, tahu2 ditinggali tikus. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: