Makan Bersama Judulnya

Dulu itu, kami duduk melingkar di lantai beralaskan tikar, aku dan saudaraku masing-masing menghadapi sepiring nasi dengan lauk seadanya, kadang masing-masing cume kabagian satu ekor ikan saja, itu pun tak seberapa besar, akhirnya dicubit kecil-kecil melingkari piring, biar kelihatan banyak, satu cubitan kecilikan untuk satu suapan nasi, sering pula tanpa sayur, ayam adalah makanan yang mewah saat itu, sedangkan buah adalah barang langka.

Tapi toh semuanya dihabiskan tanpa keluh kesah, mensyukuri adanya semua, dan duduk tenang menikmati apa yang ada sambil duduk bersila dengan tenang, lalu menutup semuanya dengan segelas air putih, begitulah pagi, siang ataupun malam.  Tapi itu saja sudah cukup menyenangkan.

Lain kali, kami menikmati kudapan yang lezat, beberapa batang tebu yang segar, mengupas kulitnya cuma pakai gigi, lalu mengunyahnya tanpa ampun.  Bagian itu juga menyenangkan, karena tinggal ambil saja dan memakannya beramai-ramai, dengan tawa lepas sehabis berlelah-lelah bermain apa saja di sekitar rumah dan sawah yang mengering semasa kemarau.

Di lain waktu, kami, aku dan kawan-kawan sepermainan, duduk besama-sama di dahan besar pohon mangga di tepi sungai, menikmati daun-daun mangga muda berwarna ungu, mengunyahnya dengan nikmat hanya dengan olesan garam, tapi semua senang-senang saja, jauh lebih menyenangkan dibanding saat aku duduk sendirian di atas dahan pohon jambu, mengisap madu bunganya, manis memang, tapi terasa sepi dan beda sensasi.

Suatu hari pula, kami, aku bersama kawan-kawan perantau, mengelilingi panci berisi penuh nasi, dengan cuma berteman telor dadar dan gorengan mi.  Semuanya selalu tandas tanpa sisa, malah selalu sisa apa yang ada menjadi rebutan, satu panci nasi tak pernah cukup untuk lima enam orang itu.  Ada semangat lebih saat menikmatinya bersama, walaupun sangat sederhana adanya.

Kemarin malam, dengan empat bungkus nasi, dan beberapa potong ikan, kembali aku merasakan hal itu lagi, makan sambil bercerita apa saja, duduk berkeliling, bersimpuh menikmati makanan dengan senang, tak terasa waktu makan pun terasa cepat saja.  Saat itulah kemewahan sebuah acara makan justru terasa.

Ya kombinasi kebersamaan, menikmati saat makan dan selingan cerita, kadang adalah terasa menikmati sebuah surga, walau yang dimakan pun kadang jauh lebih sederhana dibanding saat makan nyaman sendiri, tapi sungguh jauh bandingannya, percayalah

😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: