bingung itu (tak) perlu

Misalkan saja, pas baru bangun tidur, ada semacam jetlag eh bukan, bedlag mungkin *halagh* jadi semacam tak tahu harus ngapain beberapa detik setelah membuka mata, apakah itu wajar ?atau dianggal manusiawi saja, mengerjap-ngerjapkan mata tanpa arti, atau sekalian menggosok-gosoknya entah apa maksudnya, malah kadang sekalian garuk sana garuk sini.  ‘Nyawa belum ngumpul, sih” kata seseorang tenar.

Tapi anehnya, langkah yang diambil pertama pun kadang malah terprogram, seperti saya yang spontan nyari segelas air putih lalu menenggaknya tanpa ampun dalam hitungan detik, abis itu ya baru meneruskan langkah selanjutkan, yaitulah melanjutkan mimpi yang terputus *sebuah contoh yang salah*.  Pelan-pelan merasakan nafas, menikmati setiap hembusannya, merasakan setiap langkah yang menjejak lantai, merasakan hangatnya matahari pagi yang perlahan menelusup sampai jantung hati, lalu ya menyukuri semua yang bisa dirasakan indera.

Nah, jadi dari bangun pagi lalu mengintimidasi diri supaya mau lari-lari mengejar pintu kamar mandi yang sering gagal melancarkan rayuannya, kemudian basah-basahan, kering-keringan, lalu membungkus tubuh dengan pakaian yang (dianggap) terbaik untuk hari itu, dan akhirnya bersiap menantang dan menghadapi sebuah hari.

Akhirnya, betul juga, bingung itu memang perlu, walau kadang tidak diperlukan.
demikianlah.
*semacam postingan aneh pula (lagi)*
:
((

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: