adil itu

tadi pagi, secara sengaja mendatangi pak er te setempat, memperpanjang katepe yang konon sudah kadaluwarsa sekitar yaaa setengah tahun lebih lah, demikianlah adanya.  untung juga pak er te di kampung ini tak mengisyaratkan adanya tambahan biaya untuk administrasi surat pengantar ke kelurahan buat perpanjangan begituan.

tapi intinya bukan gitu, kebetulan ternyata ada tamu sebelumnya yang tampaknya adalah seorang polisi yang sedang mengurus sesuatu, lalu terjadilah perbincangan segitiga tentang masyarakat, tentang pekerjaan, tentang kantor dan tentang entah soal apalagi, banyak. akhirnya pas surat yang saya minta udah kelar, ternyata saya demi menghormati tamu pak erte dan tuan rumah, akhirnya ikutan nimbrung aja, ngobrol sok akrab.

tapi intinya bukan itu, pak polisi itu pas ngobrol panjang lebar soal kerjaan, soal gaji, lalu lari-lari ke numerasi, tiba-tiba ada sepotong kalimat dari beliau yang menarik, katanya begini “adil itu kan bukan berarti sama rata

jadi teringat soal gender lagi, pokoknya intinya tentang peranan lelakih dan wanitah dalam kehidupan sehari-hari, ada kan perempuan yang ngobrol panjang lebar soal penyamarataan, lalu loncat ke keadilan, bukankah salah satu esensi ucapan pak polisi yang satu erte sama saya itu terkait dengan hal itu, bahwa soal keadilan itu siapa sih yang menilai, tentu bukan objek penderita kan ? maksudnya bukan kita sebagai pelaku, karena tentunya kalo kita yang menilai keadilan pada diri sendiri pasti hasilnya ntar jadi subjektif, kalo menurut kita ga adil ya tereak, kalo di posisi yang enak ya mingkem.

jadi tetep saja ya, semua orang punya hak dan kewajibannya masing-masing, priah ataupun wanitah, punya posisi dan nganunya masing-masing *halagh* maksudnya yaa udah punya bagian dan porsinya masing-masing di atas dunia itu, cuma sering aja ga nyadar, merasa tak adil disana sini, itu juga menurut dirinya sendiri, melihat dari sudut kacamata yang sempit, kata orang bijak.

mungkin semua-muanya perlu lagi mempelajari dan mengerti akan kekurangan dan kelebihan masing-masing, terus melihat posisinya di masyarakat, fungsinya pada lingkungannya, kalo udah ngerti hal itu mungkin tak ada lagi yang berteriak ga jelas soal keadilana dan penyamarataan hak yang semu.

lalu teringat akan tulisan seorang kawan tentang kabe, iya kb yang lingkaran biru, sedikit mempermasalahkan kenapa katanya yang pake kontrasepsi itu harus wanitah, bukannya lelaki juga bisa, wanitah yang udah capek sana sini, harus pula menyandang sekilas derita saat aplikasi materi pembatasan kelahiran itu.  saya tak mau ngasih argumen panjang lebar soal sesuatu yang terkait dengan reproduksi ini, tapi memang yang prospektif hormonnya dimodif dikit saat berkabe memang perempuan, kodrat anatomi fisiologisnya memang demikian, jadi ya seharusnya ya ga ada masalah juga sih. 

intinya ya memang adil itu ya tak selalu sama rata, karena semua hal di atas dunia ini sudah beda adanya.

demikianlah, selamat pagi.
😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: