Mi Ayam di Siang Hari Barusan

Jadi ceritanya sebelum menuliskan cerita ga jelas ini di sebuah warnet di sudut kota Jogja, saya kelaperan akhirnya mampir di sebuah warung sederhana yang menjual Mi Ayam.  Protap alias prosedur tetap kala makan di sbuah warung ya biasa lah, parkir motor, nyari tempat duduk *yang kebetulan cuma saya pengunjung di kala saya datang. ok info ga penting* lalu memesan mi ayam, lalu duduk menunggu.

Ditunggu sekitar sepuluh menit, mi belum siap, si penjual baru memasukkan mi ke dandang berisi air panas yang sudah tercampur bumbu *kalo ga salah begitu sih* lalu merajang dedauan sebagai pelengkap sang mi ayam.

Belum kelar pesenan saya tersaji, datang lagi seorang lelaki yang tampaknya memesan tahu goreng *campur lontong tampaknya, ah saya kurang menyimak, terlalu konsen pada dandang mengepul berisi calon mi ayam mateng pesenan*, si penjual pun sibuk lagi menyiapkan pesenan orang kedua.

Belum kelar pesanan kedua, ada lagi ibu-ibu datang datang, duduk, lalu memesan tahu goreng untuk dibungkus dan dibawa pulang, sang penjual yang seorang ibu itu sibuk lagi, dengan raut muka serius, tanpa senyum, malah terkesan ada yang dipikirkan gitu *ini mungkin sekedar persepsi sang pembeli yang sok tau plus ga sabar nunggu pesenan di menit ke entah berapa belas*

Akhirnya penantian selesai, pesenan datang, walo ada yang terlupa, yaitu mesen minum, dan si penjual sibuk lagi membikin teh es manis atau es teh manis buat saya setelah sebelumnya membuat es jeruk yang juga manis bagi pemesan tahu goreng.

Makanlah akhirnya dengan tenang, sembari melihat kesibukan sang ibu penjual menyiapkan pesenan ibu yang memsan tahu goreng entah berapa bungkus, banyak tampaknya.

Akhirnya saya baru nyadar, ibu itu kerja sendirian saja, menyiapkan segalanya, manajemen satu pintu, manajemen satu orang, yang tentu tak bisa dilakukan sembarang orang, apalagi yang kurang sabaran macam saya.  Hebat ya ibu itu, entah apa alesannya hingga tak ada yang membantunya, bahkan sekedar membuatkan minum pelanggan atau mengantarkan pesenan makanan seperti yang biasa dilihat di warung-warung biasanya.

Tak berlama-lama, lambat laun selain rasa kagum pada beliau, juga ada sedikit rasa kasian karena melakukan semuanya serba sendiri, walau akhirnya bisa tertangani, tapi ya serasa ada yang kurang aja gitu.  Makanan ludes, bayarnya belakangan, mi ayam plus es teh manis, lima ribu lima ratus rupiah. Lunas.  Saya pun menuju motor.  Kembali ke jalan, mampir di tempat ini lalu mengetikan apa yang barusan saya lihat.

Melihat keadaan sang ibu penjual mi ayam barusan, membuat hidup lebih bersyukur aja, masih bisa mesen makanan, dibikinkan pula, dianterin pula minumnya, harganya murah pula, bisa sambil baca koran gratis juga.  Sungguh siang yang.. demikianlah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: