arti ABCDE waktu sekolah dulu

membaca buku catatan mahasiswa gila-nya adhitya mulya, tentang bagaimana kehidupannya saat bersekolah di jurusan sipil, dan beberapa kali disitu menyentil soal nilai, soal IPK, soal perjuangan bersekolah, demi nilai atau demiapa lah mbuh, sungguh membuat memori ini terperih-jaya *entah bahasa apa pula ini*

kenapa nilai malah berkorelasi kuat dengan perihnya hati di masa lampau, itu karena perjalanan hidup menjadi saksi betapa ngiri melihat teman-teman yang bisa mendapat nilai bagus tiap semesternya, saya sih ga masalah mau dapet IPK berapa dulu, yang penting lulus sesuai harapan, maksudnya ya dikasih restu untuk lulus dengan ikhlas maupun terpaksa oleh pihak fakultas.

jadi ada beberapa memori yang perlahan teringat terkait dengan nilai tersebut, mari perlahan juga saya tuliskan.

  1. saya asli ga peduli dengan nilai, soalnya ujung-ujungnya bikin sadar diri juga ga bakal bisa dapet nilai tinggi dengan semangat kurang menyala dan konsentrasi pada objek pelajaran yang masih perlu digerus hingga halus.  yang menjadi masalah adalah nilai tiap semester adalah patokan untuk mengambil jatah SKS yang bisa diambil semester depan. kok aturannya begitu sih ya ? sungguh dunia tak adil.
  2. ada kawan yang stabil nilainya nekat selalu di sekitar angka tiga, jadinya cuma ngiri karena saya tak bisa serajin dia bikin contekan tiap kali mau ujian. jadinya sekali ya salah sendiri tak berani nekat. sok idealis itu juga punya konsekuensi toh toh
  3. ada temen kos yang rajin membaca, juga rajin kuliah *yaiyalah* sementara saya juga rajin baca komik dan rajin titip absen saat temen saya itu masuk kuliah.  akhirnya suatu saat kualat, soalnya pas ada mata kuliah yang saat pertemuan terakhir, ternyata mahasiswa yang masuk cuma dikit, dan yang hadir hari itu dijamin lulus oleh sang dosen yang baik hati, dan saya beruntung harus ngulang lagi taun depan.
  4. pihak universitas terlampau rajin mengirimkan salinan hasil perkembangan studi ke rumah, dan itu menimbulkan efek ‘sedikit’ berdosa karena tidak bisa mempersembahkan nilai terbaik bagi ortu, nusa dan bangsa.  kesalahan pada persepsi saya adalah, nilai didapet untuk orang buat untuk diri sendiri, absolutely wrong, untungnya ga ditanya macem-macem, mungkin ortu maklum dan mafhum dengan kemampuan anaknya ini. nasib..
  5. teringat saat pengumuman, selalu berdebar melihat deretan Nomor INduk Mahasiswa plus nilai yang didapat, berdebar dengan ekspektasi seadanya, berharap mendapatkan huruf C saja, tapi anehnya huruf D lebih akrab menghiasi kolom nilai saya, dari sini saya belajar bagaimana caranya ikhlas tanpa terlihat nista hihi.
  6. kembali saat ngecek nilai, rata-rata temen-temen yang kurang ajar rajin dan pinternya itu mukanya selalu berseri-seri karena terancam lulus lebih cepat dan ninlainya semua tak terkendali berkejar-kejaran antara A  dan B.  Sementara saya jugua tersenyum sumringah melihat rangkaian karbon terlihat lengkap, dari sini saya belajar cara bersyukur  dari hal-hal yang terlihat sepele bagi mereka yang bikin saya kagum itu, kok bisa-bisanya sih gituu*nangis*.
  7. ada beberapa teman yang kelakuannya bikin bingung, satu teman yang keliatannya senang-senang melulu tiap hari, ga pernah keliatan susah, tapi ajaibnya nilainya juga selalu bersenang-senang, sayang saya lupa nanya tipsnya belajar gimana agar bisa gitu. Saya sendiri alhamdulillah hidup di kos sudah rada susah, dan nilaipun ikutan kompak dengan situasi demikian, sungguh cerdas.
  8. cara belajar itu saya pikir tergantung individu, ga bisa dipaksakan, ga bisa digeneralisasikan, contohnya saya sok mau ngikut temen yang rajin dan nilainya bagus, ternyata gagal total, lalu berusaha mencari formula yang tepat untukdiri sendiri, dan bisa dipastikan kembali gagal.  rupanya cuma satu kunci aja biar nilai bisa bagus dan cerah ceria, yaitu rajin membaca, rajin belajar, jangan malas dan cuma bisa ikut kegiatan sana sini tanpa ada kontrol.
  9. kegiatan ekstra kurikuler eh kegiatan kampus selain belajar itu penting buat ngahas otak kanan, itu kata saya *catet*
  10. fasilitas belajar itu penting buat kuliah, jangan cuma modal catatan dan fotokopian hasil dapet minjem dari adik-adik angkatan karena keseringan ngulang, berani sekolah ya mustinya harus berani modal dikit, dan jangan cuma mengharap kiriman ortu, usaha kek, wirausaha biar ada duit tambahan *toyor2 pala sendiri di masa lalu*
  11. demikianlah *baca ulang* sungguh mirip curcol tak jelas, ya sudahlah ya :))
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: