Lari yg gagal

Pagi-pagi di hari minggu, lari pagi dong, melemaskan otot-otot kaki yang kaku, bikin keringet, bikin seger, bikin asik.  Maka diajaklah sang lelaki untuk jogging bersama ceritanya.

“Jogging yuk , lari pagi,  run run small..”
“Nggak ah capek..udah semingguan ini lari-lari kejar-kejaran melulu..”
“Hoh, ngejar apaan ?”
“Ngejar-ngejar kamu, ga dapet-dapet..”
“Yaelah, kenapa baru ngomong atuh, kan kalo tau aku yang berlari ke arahmu, atau diam menunggumu, berubah menjadi halte..”
“Kamu pikir aku bis gitu, pake berubah jadi halte segala ?”
“Kamu ga sensitif ih, maksudnya ya aku selalu siap menjadi perhentianmu..”
“Tapi aku bukan bis..”
“Lalu apa ?”
“Bajaj.”
“Lhoh kok bajaj, berisik gitu ?”
“Iya supaya semua isi dunia tau,  aku tak sabaran mendatangimu walo harus menantang maut di jalanan, tapi selalu bisa lari menghindari macet, keluar masuk gang..”
“Kok dari jogging, lari ke bis, berubah ke bajaj sih, aneh dan ga logis..”
“Mencintaimu memang membuatku aneh dan tak kenal kata logis..”
“Oke deh, nah jadinya, jadi nggak nih joggingnya ?”
“Jadi deh, dengan satu syarat..”
“Syarat apa lagi ?”
“Larinya jangan duluan, jangan pula kececer di belakang..”
“Kenapa gitu ?”
“Biar bisa bisa lari-lari sambil nyuri pandang ke kamu..”
“Halaghh…”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: