perlahan menyala

Hujan datang, tiba-tiba, tak begitu deras, tapi berhasil mencumbu bumi, aroma tanah pun perlahan berkomplot dengan dingin menguasai udara.  Walau tentu gagal dirasakan oleh sepasang tangan yang bertaut tak mau lepas, menjejak lantai bumi yang semakin basah.

Satu mengajak meneruskan langkah, satunya bertahan diam.  Satu menatap, satunya membalas tatap, pelan-pelan, tanpa ucap.

“Kenapa?”
Diam.
“Kamu kenapa?”
“Disini saja” Genggaman menjelma menjadi pelukan.  Erat.  Langkah pun terdiam.
Diam pun kini beralih.

Lima detik berlalu, membekukan semesta. 
Detik ke enam, lalu pecah oleh tatapannya.

“Jangan melangkah lagi, disini saja..”
“Tapi…”  Bibir itu tertutup oleh jari tengah dan telunjuk.
“Biarkan waktu terbunuh, aku tak mau nanti langkahmu bertambah, dan makin lama menjadi jauh..”
“Tapi kita tak bisa menahannya, saat itu pasti akan datang..”
“.. dan itu sakit, kan..”
Tak ada jawab, hanya rasa yang semakin menggila.

Walau berat, akhirnya langkahpun kembali beriring, pelan-pelan mengantarnya pada neraka rindu yang perlahan menyala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: