Rea

“Halo..”
“Rea ya ?”
“Kok tau ?”
“…”
“Halo..”
Lalu terputus begitu saja.
Ada bingung, ada tunggu, ada penasaran..

.

Itulah di sebuah malam yang baru datang.  Di sebuah kamar enam kali tujuh meter, seorang gadis mengatupkan bibirnya.  Bingung.  Di sudut kota lainnya, di sebuah kamar sempit, seorang lelaki, tergeletak di atas karpet, tangan kanannya masih menggenggam telepon genggamnya.  Kelopak matanya terkatup tapi bola matanya bergerak-gerak, nafasnya memburu.  Tangan kirinya masih menggenggam sebuah bungkusan kosong…

.

“Rea, ada temenmu nyari tuh..”
Yang dipanggil cuma mengernyitkan keningnya, ‘sepagi ini ?’
Matahari baru saja datang mengusap bumi, masih kurang dari angka enam.  Akhirnya melangkah turun ke lantai satu, langkah terseret malas, masih pake kulot dan kaos tipis, rambut sebahunya diikat seadanya dengan karet.  Begitu sampai batas ruang tamu, matanya melebar..

“O-ophion ?”
Yang dipanggil mengangkat kedua alisnya, wajahnya terlihat segar, sementara tangannya masih memegang majalah yang entah apa.  tersenyum.
Rea balas tersenyum, lalu seperti berpikir sejenak, dan memutuskan berbalik langkah, bergegas melangkah ke atas lagi.
“Aku mandi dulu ya..”  Kalimatnya lepas begitu saja.. “Tunggu aja disitu” Sambungnya kemudian, tanpa meminta persetujuan siapa-siapa.

.

Dua belas menit, gadis itu sudah wangi, segar, dan tersenyum-senyum menuruni anak tangga, kali ini dengan langkah sedikit cepat.  Tapi mendekati ruang tamu, ada bingung.  Yang dicarinya tidak ada. Sofa hijau itu kosong..  Senyumnya perlahan meredup.

Tapi telinganya menangkap suara obrolan di luar, di teras.  Melangkah keluar, baru saja kakinya terjejak di teras, suara obrolan terhenti.  Lalu sepasang mata memandangnya.

“Papa ? Ophion ? Lagi pada ngapain ?”
Kedua lelaki itu tertawa lebar.
“Tuh, datang yang baru mandi, ya udahlah, saya masuk dulu ya, ntar kita lanjutin ya Oph ?” Menepuk pelan pundak lelaki yang dicarinya tadi, lelaki satunya yang dipanggilnya papa barusan, melangkah kedalam, sekilas mengacak-acak rambut puteri cantiknya sembari lewat.

Paras Rea menggambarkan heran.
“Masuk yuk, ngobrolin apa sih sama papa barusan ?”
“Sepatu..”
“Eh, sepatu ?”
Ophion hanya tergelak saja.

.

Itulah sepenggal pagi yang teramat masih pagi.  Menyisakan cerita yang tak pernah membuat lupa.  Rea masih ingat, pagi senin itu. Masih ingat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: