Ophion

“Ophion..”
“Heh, opium ?”
“Ophion, cantik …”
“Oh, Ophion.. nama yang aneh..”
“Dibilang cantik langsung bagus aja ya telinganya..”
“Sialan..”
“Eh namamu ?”
“Rea ..”
“Irit bener punya nama”
“Biarin..”

Itulah awalnya, di sebuah café, dan Rea adalah sedang sendirian, kesepian yang tak dingini, lalu singgah di café yang lama ingin dicobanya, tapi tak jua sempat, sampai tiba saat itu.  Ophion adalah pelayan café disitu, nyambi katanya.  Entah bagaimana bisa tak berfikiran bukan-bukan pada lelaki yang tiba-tiba saja sok akrab itu. 

Tapi seakan belum cukup menghiburnya, ringan saja langkah Ophion lalu menuju panggung kecil disudut depan kiri, mengambil gitar, membenarkan gagang mik, duduk sambil sebentar menyetem,  tangan kirinya menjemput mik.

“Sebuah lagu, untuk Rea yang lagi sendirian, itu yang cantik disudut sendirian itu..” Telunjuk kirinya tak peduli mengarah ke Rea, yang langsung tertunduk tak keruan.  Sementara yang barusan ngomong cuma nyengir ..

Lagu yang tak pernah di dengarnya, tapi mengalir begitu saja, akustiknya keren.  Rasa kagum perlahan menjalar, dan sakit pun perlahan pupus.  Sampai tak terasa empat menit dua puluh satu detik durasi lagu yang judulnya entah itu habis.  Tiba-tiba Rea berharap Ophion menghampirinya, tapi nyatanya tidak, dia kembali sibuk dengan tugas keliling-kelilingnya, melayani orang-orang, bertanya ramah kesana sini.

Sembilan malam, langkahnya menuju pintu keluar, café sudah mulai sepi, matanya mencari-cari, tapi tak ada Ophion, sudahlah, melangkah ke barat jalan.  Baru saja tangannya membuka pintu Stream, sebuah tangan yang lain memegangnya.  Bikin kaget.

“Mau pulang ? Mau saya anter ?”
Rea terdiam..
“Pertanyaan bodoh ya ?” Ophion tergelak. “Minta nomer teleponmu, dong..”
Rea masih saja diam, tapi lamat-lamat tersenyum juga..
“Aku aja deh yang minta nomermu, ntar ku telepon..”
Giliran Ophion yang mengernyitkan kening, tapi akhirnya menyebutkan juga sebelas digit angka.

“Makasih ya, aku pulang duluan..” Tanpa minta persetujuan, Rea masuk ke dalam Stream, menghidupkan mesin, lalu melaju ke jalanan.  Pengemudinya tersenyum-senyum saja.

Sementara Ophion bengong sejenak.  Menggelengkan kepalanya, lalu melangkah menuju sang macan yang menunggunya di samping kiri pintu café, menhidupkan mesinnya, lalu meraung berlawanan arah dengan tujuan Rea. 

Dan itulah sebuah awal, di suatu malam akhir maret.  Rea masihmengingat setiap detilnya, masih teramat ingat, sampai sekarang, sampai saat ini, detik ini..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: