Matahari pun Kalah

“Met pagi..”
“Pagi juga, gimana disana ?”
“Dingin semu..”
“Dingin gimana itu ?”
“Itu artinya daku ingin segera ketemu kamu..”
“Halagh, keparat..”
“Heh, ngomong apaan itu ?”
“Maksudku, kangen paling berat..”
“Hedeu ngebalees lagi..”
“Salahnya mulai..”
“Yang penting kan tak mengakhiri..”
“Ada apa gitu pagi-pagi gini nelpon lagi ?”
“Ga boleh ya ?”
“Boleh sih, tapi..”
“Tapi belum mandi ?”
“Kok tau sih.”
“Apa yang tak ku tau tentangmu, kau sedang ngapain saja aku tau kok”
“Sok tau, aku sedang ngapain coba..”
“Nerima telpon..”
“Yaeyalah..”
“Dan sedang senyum-senyum sendiri sambil mondar mandir juga..”
“Eh, kok tau sih ..?”
“Aku ngeliat kok dari sini..”

Memandang ke arah jalan yang tak seberapa jauh dari depan kamar lantai dua itu, dan ada tangan yang melambai, senyum yang lebar..

“Hey, iseng amat..”
“Ya udah aku jalan lagi ya..”
“Ya ampun, masih pagi gini juga..”
“Aku mau ngalahin matahari pagi ini..”
“Ngalahin matahari..?”
“Yak dan aku menang, duluan menyapamu pagi ini..”
“Ah..”

Motor pun melaju, menyisakan senyum yang tak habis-habis..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: