Awalnya adalah Salah

lea

Itu adalah sebuah siang yang kering, matahari sedang tepat di atas kepala.  Untungnya halaman kampus hijaunya tak main-main, empat ficus berusia entah berapa dan tiga delonix regia yang juga entah tuanya segimana, tampaknya cukup ampuh membantu mengusir hawa panas jauh-jauh, beberapa bangku beton malah dipenuhi beberapa anak kampus situ, sebagian ngobrol kesana kemari, sekelompok malah serius diskusi, entah tentang apa.

Tapi ada satu bangku yang cuma dikuasai satu orang, berkaos hitam, berjins biru, tas biru lebar yang selempangnya dipegang dengan tangan kiri, sementara tangan kanan memegang teh botol, rambut sebahunya sedikit berantakan, tak peduli dengan keriuhan sekelilingnya.

Beberapa meter dari situ, seorang gadis berjalan pelan, berjingkit-jingkit, mengendap-endap, tersenyum jahil.  Berencana mengejutkan temannya yang sedang asik sendiri, dan masih juga tak peduli siapapun.  Jarak antara dua orang itu pun semakin mendekat, dan dengan sigap gadis itu melompat cepat, lalu menutup sepasang mata dihadapannya dengan dua tangannya, sambil tertawa-tawa.

“Eh, apa-apaan ini..” Ada nada sedikit kesal dari si kaos hitam, sambil gelagapan berusaha melepaskan kepalanya dari kedua tangan yang menutup kedua matanya.

Gadis itu, mukanya langsung pias, tergagap melepas kedua tangannya saat nada suara yang didengarnya bukanlah seperti yang diharapkannya.  Bukan reaksi itu yang diharapkannya, dan pasti bukan orang yang dimaksud yang berhasil dikejutkannya.  Pipinya yang tadi merona merah, perlahan memucat.

Si kaos hitam memutar kepalanya, memandang seorang gadis yang menutup mulut yang setengah terbuka dengan tangan kanannya.   Ada raut bersalah, sedikit takut, malu dan terlihat memohon untuk maklum.  Gadis itu berkaos biru, berjins biru pula, untungnya tasnya tak biru juga,tapi hijau pupus.

SI kaos hitam itu, lelaki itu wajahnya sudah berubah, tak ada raut kesal lagi, yang ada malah antara bingung dan geli, melihat seorang gadis yang, menurut standar penilaiannya sih sudah masuk kategori B+, jauh di atas rata-rata nilai kumulatif kuliahnya selama dua semester belakangan.   Tapi terbit juga niat untuk sedikit ‘membalas’ perlakuan makhluk manis yang rasanya baru dikenalnya itu.

“Duduk disini”  Katanya sambil memberi isyarat dengan matanya untuk duduk disampingnya.
Gadis berkaos biru itu berjalan pelan, dan duduk disisinya.

Ada tangan yang terulur dengan tangan yang terbuka, mengajak berjabat. 
Tersenyum. 
Dibalas senyum salah tingkah.
“Je..”
“Roro..”

“Tadi itu apa maksudnya?” Tanya Je sambil memandang Roro.
“Maaf, salah orang..” Roro menunduk sambil memainkan kakinya. Grogi.

Je malah tergelak.
Roro makin salah tingkah.

Dan itu awalnya, berawal dari sebuah siang itu, waktu mengikat mereka menjadi semakin dekat, dan tak sadar merasa semacam saling ketergantungan satu sama lain.  Tak terlalu mengikat memang, tapi selalu ada rasa penasaran akan perasaan yang dirasakan Je, atau yang diketahui Roro.

Lalu mulailah berbagi cerita rasanya tak sama lagi seperti sebelumnya, rasanya warnanya dunia makin banyak saja di hati mereka. Ya mereka.

.

*ide dan gambar dari komiknya Lea.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: