sebentuk rasa aneh

Lagi-lagi adalah suatu malam, dan kembali pada satu hujan.  Kembali menghangatkan diri di satu sudut favorit kita.  Ya, akhirnya empat unsur itu bersatu menemaniku diriku lagi, hujan, malam, coklat dan kamu.  Jika saja satu lagi unsur yang selalu menemaniku dan dirimu hadir, maka akan kuyakini bahwa sebentuk rasa aneh buatmu yang tersisip rapi di sela hati tak akan pernah hilang.

Seperti biasa aku memesan hazelnut, dan ku juga tak berubah dengan belgian chocomu.  Seperti biasa saja, seperti tak pernah terjadi apa-apa, berusaha melupakan apapun selain saat itu.

 Malam pun menggulirkan waktunya, dan menikmati aroma hazelnut sembari menikmati wajahmu yang berbinar saat berbagi cerita adalah kombinasi yang kurasa tak kan pernah dirasakan oleh siapapun selain diriku sendiri, sesuatu yang tak pernah berhasil kugambarkan, lewat kalimat sederhana sekalipun.  Dan cukup begitu, mendengarkan aliran ceritamu adalahberhasil membuat ruangan yang seharusnya sejuk mengalahkan dinginnya udara ciptaan hujan diluar pun kalah, kau membuat sekeliling seperti pagi yang tertatih menjelang siang, hangat.

Coklat hangat pilihanmu itu, kau hirup pelan, menikmati parasmu saat menikmatinya saja adalah indah.  Walau tak pernah kukatakan padamu. Pilihanmu itu, pernah kutanya padamu, kenapa harus belgian chocolate.

“Tak seperti pilihan-pilihan yang lain, coklat yang ini unik”
“Seunik dirimu ?”  Kau cuma tersenyum.
“Dengar dulu, ada sedikit sensasi rasa pahit dalam belgian choco ini, itu yang membuatku suka”
“Lalu ?”
“Sedikit rasa getir ini, tentu kalah oleh rasa manis coklat yang selalu berhasil mendominasinya, dan itu selalu berhasil membuatku mengingat kalau selalu ada sedikit pahit dalam jutaan rasa manis yang kurasakan, dan ya cuma begitu, sekedar mengingatkan saja.  Dua rasa berlawanan yang tak sengaja ada dalam minuman ini, membuatku nyaman.  Tak jauh beda sepertimu..”

Menunduk sesaat, kemudian matamu pun menatap lurus ke meja depan yang kosong, tapi aku tahu saja pikiranmu entah kemana.

“Kamu tahu kenapa aku lebih memilih hazelnut?”
Kau hanya menggelengkan kepala.
“Karena hazelnut itu unik, satu rasa yang dibuatnya, membuat dia berhasil mendominasi berlapis rasa coklat yang seharusnya lebih dominan,  saat bertemu dengan coklat dialah yang muncul ke permukaan, dan selalu berhasil menyingkirkan apapun untuk menjadi utama.  Seperti halnya kamu..”

Kau hanya diam, walau melukis senyum tak kentara. Tapi lagi seperti tak mengindahkan apapuns elain waktu yang tiba-tiba terasa sangat berharganya, tapi tetap saja bergulir liar tak peduli, hingga saatnya kembali memisahkan diri.

Menyeret langkah keluar dengan enggan, karena itu artinya harus menghitung waktu lagi, kapan bisa bertemu kembali.  Sesaat menatapmu, memegang kedua tanganmu yang lembut dan terasa dingin.  Bertanya saja yang aku bisa.

 “Kamu kesini tadi pake apa”
“Taksi” Singkat saja.
“Aku anter pulang ya..”
Kau hanya mengangguk.

Lalu lengkaplah sudah unsur kelima datang menemani kita berdua malam itu, yaitu jalanan.
Kembali kita membelah malam, dengan pelukan eratmu. Dan pelan-pelan pecahan gerimis membuatku tersadar bahwa rasa aneh itu memang tak akan pernah hilang. 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: