Biar mereka Tau

tshirt

Combi itu cuma bisa parkir di pinggir jalan, di mulut gang yang cuma cukup buat sepasang motor berpapasan.  Itu hari minggu, masih pagi, masih segar udaranya, sekilas lima collocalia esculenta ribut berkejar-kejaran di atas langit yang terasa lebih luas.

Je sudah rapi, jins belel, kaos hitam andalan, duduk menunggu di bangku favoritnya saat bertamu ke rumah Roro, bangku yang juga favorit abang tukang jualan mainan anak-anak yang suka duduk disitu saat lewat disitu, kadang juga jadi semacam titik pertemuan anak-anak kecil yang bermain-main perang-perangan, dan kalau tengah malam sering tempat ngumpul warga yang ronda, apalagi pas giliran bapaknya Roro, dijamin satu teko kopi yang wangi mengepul dan pisang goreng kipas bikinan mamahnya selalu membuat obrolan para bapak seakan tak putus, pos ronda ada di ujung gang, dan bangku itu adanya di pertengahan, strategis sekali.

Memutar-mutar kunci dengan gantungan perak bulat sebesar koin seratusan lama bergrafir huruf vw dalam lingkaran, oleh-oleh Roro waktu habis jalan-jalan ke Jogja ‘beli di malioboro lhoh ini’ katanya waktu itu.  Menunggu gadisnya yang sedang berkemas, sesuai rencana hari ini, jalan-jalan, kemananya biarlah nanti diputuskan saat di jalan.  Sesuatu yang spontan sering menyenangkan mereka.  Walau awalnya Ro protes, dia sering terlalu terencana dan detil orangnya, Je tidak.  Salah satu beda mereka, dan beda-beda yang lain. untung akhirnya saling memaklumi, saling sadar akan beda.

“Hey, lama nunggunya ya..” Pundaknya ditepuk keras, benar-benar keras.
Je nyengir sambil mengelus pundaknya, Roro tertawa.

“Masuk dulu yuk bentar”
“Ngapain ? Jadi berangkat kan ?”
“Iyaa, tadi mamah bikin nasi goreng, katanya ajak makan tuh mahasiswa kurang gizi di luar pagar”   Roro tegelak sambil menarik tangan lelakinya.  Yang diseret agak enggan, sungkan.  Tapi toh langkahnya terseret juga.

Melepas sandal jepit hitamnya di teras, ke ruang tamu yang tak seberapa luas, tapi ada satu set sofa yang terbagi atas tiga pieces, ‘cukup buat enam orang tam’ diam-diam Je menghitung-hitung sendiri.

“Disini aja ya, tunggu bentar..” Roro mempersilakan Je duduk di sofa coklat,  dia sendiri terus melangkah ke belakang.  Tapi tak lama sudah mendatanginya lagi, dengan nampan terisi dua piring nasi goreng yang masih mengepulkan asap tipis dan merayakan ruangan itu dengan bumbu yang membuat Je diam-diam menelan ludahnya.  Aromanya enak.

Hangat, potongan telor dadar tipis tapi banyak, kacang polong, potongan kecil-kecil wortel, suwiran daging ayam, potongan sosis yang dipotong diagonal dan bawang goreng kesukaannya.  Lagi-lagi Je tak tahan untuk mengamati.  Ro tadi ke belakang lagi untuk kembali lagi dengan dua gelas teh hangat di tangannya.  Berdua mereka, siap menikmati pagi dengan kenyang.

“Silakan, tuan..”  Kata Roro.  Je diam saja, lalu menatap Roro.
“Eh kenapa, dimakan atuh..”
“Pake tangan ya makannya ?”
“Eh ? maaf, lupa..”  Tertawa kecil, lalu berlari kecil lagi ke belakang, dan kembali engan dua pasang sendok dan garpu di tangan kanan, sambil memeluk tempat kerupuk dengan lengan kirinya.
“Nah, ayo makaaan” Mereka pun lalu sibuk.

Setengah perjalanan menghabiskan nasi goreng, seorang lelaki masuk, masih pakai sarung dan kopiah di kepalanya.  Mengucap salam, lalu masuk tersenyum pada keduanya.  Itulah bapaknya Roro, kebiasaan habis subuh keliling jalan kaki.  Langkah beliau terhenti sejenak, menatap Roro.

“Ada apa, pak ?” Roro balas menatap bapaknya.
“Jatah bapak mana ?”  Tanya bapaknya sambil pura-pura melotot.
“Tuh, di belakang, udah ditunggu mamah”
“Oke, dan kau Je..”  Sekarang pada Je yang langsung menghentikan suapannya, sendok yang terisi sudah penuh seakan tergantung di udara.
“Iya, pak ?” sahutnya sambil memandang si bapak.
“Habiskan ya, itu nasi goreng terenak yang tak ada bandingannya dimanapun” Smabil berkata begitu, si Bapak melangkah ke dalam, seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa.  Iseng ya ?

Bapaknya Roro tak salah, sarapan terenak yang pernah dia rasa, apalagi menikmati sama Roro pula.  Selesai tak terasa.
“Aku ganti baju dulu ya, tunggu bentar”  Je mengangguk saja
Limabelas menit, keluar lagi, kulot hitamknya sudah berganti jins biru pupus, t-shirt biru, dan ditangannya memegang sesuatu.

“Je..”
“Ya..”
“Kamu pakai ini, ya ?” Roro mengangsurkan benda lembut di tangannya pada Je, selembar kaos, warnanya merah aja gitu, ada tulisannya pula.
“Buat apaan ?”
“Buat kamu”
“Iya, tapi..”
“Pake yaa, buat aku'” nadanya memohon.
“Makenya dimana ?”
“Tuh, di kamar si Mas” si mas itu adalah kakaknya Roro, tapi tak ada di rumah, kuliah ke Jogja, Kembali tangannya menarik Je, lalu mendorong punggungnya ke kamar si Mas.

Lima menit cukup untuk memakai kaos dengan tulisan sederhana itu, tapi anehnya terasa keren saja, dan pas, pas sekali di badannya.
“Maksudnya apa sih ini, Ro ?”
“Pake aja deh”
“Hmm baiklah”
“Udah beres kan makannya, aku minta ijin bapak sama mamah dulu ya”  Ke belakang sambil membawa nampan berisi gelas dan piring yang kosong bersih.

Lalu tak lama kembali lagi, “Berangkat, yuk”  dan Je mengangguk saja.
Melangkah ke luar rumah berdua, beriringan, melintasi halaman, pagar, kursi, menapaki gang sampai ke jalan, ke combi yang menunggu mereka sabar.

Lagi, memutar kunci kontak, menghidupkan mesin.  Tak langsung menekan pedal gas, malah menatap ke kiri, ke Roro.
“Ada apa lagi, Je ?”
“Makasih, ya ” sambil mengusap rambut gaadisnya itu.
“Buat ?”
“Kaos keren ini”
Ro mengangguk.  Tersenyum lagi.

“Ro..”
“Ya ..?”
“Sebenernya buat apa sih kaos ini ?”
Roro tak menjawab, lagi-lagi cuma senyum..
Kali ini hanya menjawab dalam hati saja

just so the other girls know
that you aren’t available for them…’

Je tapi juga tak menunggu jawaban datang, combi membelah kota.

.

*ide dan gambar dari blognya lea

 

Advertisements

One Response to “Biar mereka Tau”

  1. adit-nya niez Says:

    Dulu saya pernah ditawarin kaos couple bgtu, tapi gak mau… đŸ˜†

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: