Bintang buatmu ya

stars

Sebuah bangku dari mahoni tua, tersampir di depan tembok beton yang berlumut, membatasi halaman yang tak seberapa luas dengan jalanan di gang kecil.

Hari baru saja beranjak ke sembilan malam, tapi tak begitu ramai lagi, cuma ada beberapa orang yang lewat, dan barusan tukang siomay yang menganggukan kepala saat melewati mereka.

Mereka itu adalah berdua, Je dan Roro, di depan rumah Roro itu, menikmati malam yang udaranya terasa ringan, mungkin karena dedaunan sepasang averrhoa pentandra yang selalu ramai berbuah tak kenal waktu.

Langit pun bersih, walau tak ada sinar bulan, tapi langit bertaburan bintang, membentuk ratusan konstelasi, capek mereka menghitungnya. Malah sibuk mendiskusikan bentuk ophiucus yang menyebalkan.

“Aku tak mau jadi Leo, Je” Roro bersungut-sungut.
“Iya ga pantes kau jadi macan, eh singa”  Menyahut seadanya saja.
“Sebelah utara kan ya ?” Tanyanya sambil menatap langit, menduga-duga.
“Apanya ?” Tangannya sibuk mengumpulkan daun-daun, lima daun, lalu menyatukannya.
“Si tigabelas itu..”   Matanya masih menatap langit, “Eh, Je ada yang jatuh..” Berseru dia, sambil menunjuk senang.   Kemudian matanya menutup, diam sejenak.

“Ngapain, Ro ?”  Je menatap gadisnya.
“Make a wish”  Matanya masih menutup.
“Boleh tau gitu ?”
“Nggak, nanti kamu nyontek” Tawanya tertahan-tahan.

“Ro..”
“Ya..”
“Mau ngasih kamu ini..”
“Apaan ?” Mata indah itu pun terbuka, lalu tersenyum lebar melihat di depan matanya tiba-tiba ada lima daun yang membentuk sesuatu.

“Ini..bintang ?” Yang ditanya nyengir saja.  Bintang sederhana yang terbuat dari lima daun averrhoa yang disatukan dengan tangkai kecilnya itu berpindah tangan.  Roro menatap benda di tangannya dengan takjub.

“Sebenarnya aku tak perlu bintang, Je.  Tapi ini.. makasih banyak”  Tersenyum-senyum sendiri.
“Jadi tadi kamu bikin wish apaan ?”  Penasaran rupanya.
“Pengen ke langit, Je”
“Biar apaan gitu ?”
“Biar bisa liat bintang, tapi udah ga jadi, udah dikasih kamu..”

“Je.. sini deh”
“Ya ? “
Roro mendekat, membisikkan sesuatu ke telinga Je.
Lalu Roro tersenyum, dan kembali menatap langit sambil tersenyum.
Langit yang terasa tak habis-habis kerennya.  Bahunya dirangkul lembut.

..dan Roro tadi berkata pelan ..
you don’t have to bring me the star
you are just enough for me..

 

*gambar dan ide dari blognya Lea.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: