Saatnya Nanti

May Ziadah memang konon tak pernah pernah bertatap muka dengan Kahlil Gibran, tapi bara cinta mereka abadi, walau hanya tertautkan lewat barisan kalimat yang tak putus, mewakilkan rindu pada rantai kata, yang mungkin berubah menjadi tembaga tajam yang sewatk-waktu menancap ke lapisan pikiran tanpa ampun.  Mereka adalah sosok nyata tapi tiada, disebut tak kasat mata, tapi mereka hadir lewat lukisan jemari di atas lembaran-lembaran kertas.

Tapi kau, sebenarnya adalah nyata, pernah bersua, sering bertukar kata, dan berjalan bersama pada waktu yang sama.  Dan di dunia nyata, kita adalah dekat, walau tak pernah kusampaikan sebuah huruf pun, yang harusnya bisa berurai menjadi ribuan cerita tentang indahnya engkau.

Pernah katamu, bahwa kau adalah verbal, dan aku visual.  Kau katakan itu sambil tertawa lebar.  Lalu kau menanyakan tentang penasaranmu, tentang rahasia alam abadiku.  Tentulah tak bisa kujawab.  Karena jawabnya pun hanya satu, yaitu kau.  Sang penanya.

Tapi sudahlah, cukup saja melihatmu terus tersenyum bebas bersamanya.  Itu sudah lebih dari cukup.  Karena toh aku bisa menjumpai di dunia yang kuciptakan sendiri, dimana disana kau hidup, hanya untukku saja.

Kembali tentang tanyamu, mungkin akan kujawab suatu saat.  Jikalau saja kau mau menerima bentang rahasianya. Saat kau nantinya yakin, bahwa kau adalah nyata.

Advertisements

One Response to “Saatnya Nanti”

  1. adit-nya niez Says:

    Cerita2 yg dari kemarin tinggal dibukukan aja oom!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: