Coklat Hangat

Seakan de ja vu, aku kembali ada di sudut ini.  Ditemani segelas coklat hangat, musik yang membelai telinga, dan sejumlah bayangmu di sekeliling udara yang kuhela pelan. Uap coklat yang meruap, menjalari syaraf sampai ke pusat otak, kembali malah membuatnya berbinar fokus pada apa-apa tentangmu.

Hari sudah beranjak sore tampaknya, tapi langit masih terang, dan beranjak adalah sebuah kata yang berat untuk dilakukan sepasang kaki, bahkan sekedar melangkah melewati pintu yang entah berapa kali membuka dan menutup, dan dilewati oleh entah siapa, dan semuanya pun tak ada yang sendiri.

Baru saja kuputuskan untuk berdiri, menyudahi suasana disudut senja ini.  Sepasang langkah menuju ke arahku, mendekat.  Seperti biasanya, jins hitam,kaos putih dan flanel coklat ditambah ransel kecil berisi notebook, pasti.  Seraut wajah dengan senyum yang menenangkan, kembali bertanya singkat ‘Apa kabar ?’

Aku pun spontan membalas senyummu, memberikan sapa. Tepat sesaat setelah menyadari kalau hanya ada kursi kosong dihadapanku.  Tak ada sosokmu, tak pernah ada.  Tak jua ada.

Coklat hangat itu sudah terasa dingin, entah sudah berapa waktu aku mendiamkannya.  Lalu akhirnya menghirupnya tergesa. Dan bergegas meninggalkan sudut yang dulunya selalu bisa menciptakan waktu selalu terasa hangat, kapan pun itu.

Terasa sudah, kalau tanpamu, waktu tak lagi tentu.

Advertisements

One Response to “Coklat Hangat”

  1. adit-nya niez Says:

    Minta dunk oom…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: