Aku, Kau & Hujan

Kota kecilku itu musimnya masih teratur, adalah saatnya kemarau bergantian dengan tertib dengan waktunya hujan datang. Selalu begitu, dan aku selalu bisa memperkirakan kapan saatnya bersiap-siap menerima tumpahan air dari langit, atau malah menikmati berjalan di bawah pohon rindang di tepi jalan. Dulunya begitu.

Tapi anehnya semua berubah, saat aku mengenalmu, saat aku dekat dengan dirimu, saat hari-hari terasa tak lengkap tanpa barang sejenak mendengar sepenggal kalimatmu. Semenjak itu pula, waktu sulit kuprediksi, atau malah aku semakin hebat menebak berubahnya musim. Sejak saat kapan, entahlah, aku baru menyadari tentang matematika alam. Bahwa aku ditambah kamu adalah hujan. Sulit terpisahkan.

Kamu masihkah ingat, saat tanpa ada peringatan sama sekali, kau tiba-tiba datang di siang hari, saat panas rajin membakar kulit bumi. Mula-mula adalah damai saat kau datang, lalu duduk dengan jarak yang jelas tak jauh, bercerita kesana kemari. Lalu tiba-tiba saja langit berubah fikiran, mendadak sejuk mengitari ruangan, aku mengira ada yang salah. Tapi ditengok diluar jendela adalah benar. Rintik yang sedikit, pelan-pelan merasa dan deras. Membasahi seisi dunia tanpa ampun, lalu sesaat kulihat matamu memandang langit, seakan berusaha memahami alur fikir sang hujan. Dan wajahmu adalah indah, saat menikmati butiran air hujan yang jatuh tak terhingga, dan lama.

Tak lama pun, kau menjauh, membuat jarak, menciptakan rentangan waktu, tanpa batas. Hujan pun menjadi malas menyapa kotaku. Tak peduli, entah apa lupa. Aku pun beranjak mendekatimu, mendatangimu di kotamu, berusaha menyimpulkan jarak, membuang jauh jumlah waktu. Baru saja aku menemui senyummu, berjalan beriringan, sejajar di trotoar. Langit pun yang sedari pagi cerah, perlahan bergradasi, dari abu-abu hingga hitam pekat. Kemudian kembali membasahi jejak yang kita tinggalkan perlahan di belakang. Lagi-lagi sekilas, di bawah payung yang kau bawa, matamu memandang hujan dengan senyum indahmu, seakan menyapa ‘selamat datang, kawan’. Tangan kirimu menadah ke udara, berusaha meraup bulur air yang jatuh, merasakan sejuknya, sementara tangan kananmu, memegang lengan kiriku erat, dan hangat. Hujan pun menjadi anomali.

Dan, apakah masih ada itu ya, saat menyusuri jalanan di pagi yang hangat, lalu mendadak kering di siang hari. Menuju tiga pantai di sudut dunia, dan malamnya pun, hujan menyergap tanpa peduli. Ada dekap erat, dan kau yang kembali memandang dan mengucapkan selamat datang pada sang hujan.

Sekarang pun, baru saja aku mau menuliskan tentang dirimu. Hujan kembali hadir menyapa segenap lapisan bumi.  Membagikan sejuknya tanpa henti.
Ddan ya, semoga kau juga kembali memandang langit, dan mengingat kalau dalam setiap tetesnya, terselip partikel rindu beratom-atom untukmu, disana..

Advertisements

One Response to “Aku, Kau & Hujan”

  1. adit-nya niez Says:

    ‘Kau’ itu siapa/apa??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: