Empat Belas Kali

Empat belas kali sudah, bertemu denganmu.  Mengenalmu.  Menghitung waktu denganmu.  Mari kita hitung mundur saja.

1.
Pertama adalah melihatmu, berkaos hitam, jins biru, tak peduli dengan derasnya air hujan yang sedang akrab dengan bumi, kau malah menengadah menantang langit, walau ada luka yang tak kentara di wajahmu.  Samar oleh basahnya alam.

2.
Kedua kalinya, melihatmu dengan wajah yang seakan memperlihatkan seisi dunia sedang berkompromi dengan langkahmu.  Senyummu mengalahkan hangat mentari siang itu.  Serius.  Mungkin luka yang terlihat sebelumnya itu hanyalah dusta mata.

3.
Ketiga adalah, apakah kau masih ingat, saat kau termenung didekat danau dis ekitar kampus.  Iya kampusmu.  Sendirian saja, sambil sesekali melemparkan batu ke tengahnya.  Tapi aku belum mengenalmu juga.

4.
Lalu takdir kembali memihak, seakan selalu ada langkah yang mengantarkanku kearahmu.  Kali keempat itu entah sedang berjalan dengan siapa.  Seorang lelaki, gagah.  Kau terlihat damai di dekatnya.  Tampaknya sudah saatnya meminta nasib tak mempermukanku lagi denganmu.

5.
Tapi ternyata tidak, masih ada tatapan kelima.  Kali ini kau yang menatapku.  Tak bersahabat. Tak sengaja, menginjak kakimu di bandara, sungguh.  Dan kenapa harus bertemu denganmu disitu ? Kau mau kemana juga, entahlah.

6.
Lama menghilang, tiba-tiba aku merindukan sosokmu.  Yang menikmati atau menantang hujan itu.  Pertemuan tiba-tiba ini hanya ada di dalam mimpi.  Entah karena apa, aku juga lupa.  Tapi aku mengingatmu.  Kau menari-nari bebas di alam tidur tanpa batas.  Pertemuan semu, eh.

7.
Bayangkan saja, aku bahkan tak tahu persis namamu.  Kalau saja tak membaca sebuah majalah. Ada sosokmu disitu, menemui parasmu disitu.  Kau terlihat, cantik. Padahal itu adalah rubrik perempuan berprestasi negeri ini. Sudah setahun kau tak di sini rupanya, semenjak di bandara itu.  Kau jauh.

8.
Awalnya menolak, menjadi pembicara di sebuah seminar tingkat internasional itu adalah seperti sebuah kesalahan.  Kenapa saat-saat begini aku seakan menjadi korban.  aku tak memenuhi kualifikasi untuk itu.  Sangat tidak.  Tapi akhirnya tak peduli, begitu sadar.  Kau ada di sampingku, Iya di sampingku.  Dan mendadak aku merasa harus terlihat lebih pintar dari profesor di kampusmu.  Kau tersenyum, iya tersenyum.

9.
Sebulan setelah penampilan konyol itu, menurutku.  Kau berjalan bersisian, dengan aku, di sepanjang jalan menuju Kwitang.  Aku suka kesitu, kau malah memfavoritkan tempat itu.  Lagi-lagi hujan, tapi kembali bersisian denganmu di emperan Gunung Agung tak mengapa.  Walau cuma sebentar lalu masuk ke toko buku itu.  Iseng membandingkan harga buku disitu dengan di jejeran tenda di luar.  Beda jauh lah tentu.

10.
Menyatakan perasaan di atas kereta yang sedang melaju,sungguh merupakan pemilihan tempat dan waktu yang salah.  Harus berteriak, mengulang dan seraya menstabilkan badan yang doyong kesana kemari.  Tapi kau mengangguk. Dua kali, lalu tertunduk tersipu. Kau pun milikku saat itu. Biar saja itu kereta terus menyeberang lautan juga silakan saja.

11.
Band yang seharusnya tampil malam itu, terancam batal.  Pemain bass-nya tak datang.  Semena-mena saja mereka lalu memintaku naik.  ‘Jam session aja sebentar’ bujuk mereka.  Tapi nyatanya acid jazz malah meluncursampai dua jam lebih.  Mereka adalah grup favoritku, main sesekali dengan mereka biasa, tapi tak pernah di atas panggung, walau sekecil dan cuma di cafe kecil itu.  Saat nada terakhir fade out, mataku melihatmu sekilas di pintu masuk, tidak sendiri, tapi berdua dengan lelaki gagah yang pernah kulihat dulu.

12.
Teras rumah itu sebenarnya sejuk.  Rasamala di halaman rumah, pohon mangga dan rambutan di sisi rumah, rumput jepang yang rapi, seharusnya membua sore itu terasa nyaman.  Tapi kau diam saja.  Aku bertanya, kau tak pernah mau menjawab.

13.
Tiga belas minggu sudah, tak pernah berhasil menemuimu.  Hingga suatu pagi, aku akhirnya berhasil menemukanmu lagi.  Walau cuma menemui namamu.  Tanpa ada penjelasan, kenapa saja tiba-tiba mengajakku untuk bertemu.  Mengajak untuk membuat sebuah luka.  Terukir indah disana, grafir yang rapi, sebuah bentuk undangan.  Sebuah pernikahan.  Pernikahanmu. Tapi tentu bukan denganku.

14.
Akhirnya menemui cantikmu lagi.  Senyummu lagi, mengembang lepas.  Tak kalah dengan senyum penuh cinta dari lelaki gagah disampingmu.  Lelaki yang itu juga,, yang datang sebelum aku.  Dan akhirnya sampai giliranku memberi ucapan selamat ke atas panggung tempat kalian bersanding.  Hadiah yang sudah kusiapkan akhirnya harus tersampaikan.  Tujuh untukmu, tujuh untuk lelakimu.  Genap empat belas kali tusukan menghujani brokat putih dan jas putih.  Cukup untuk melihat senyummu, senyum kalian lenyap.

….

Advertisements

2 Responses to “Empat Belas Kali”

  1. adit-nya niez Says:

    Ini cerita ttg apa oom? Selingkuh, rekaan?

  2. warm Says:

    fiksi lah mas
    😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: