Siang itu ..

Siang itu tak begitu panas, matahari tertutup awan, tapi mendung juga tidak.  Adalah lelaki itu yang sekarang tersudut, menikmati makan siangnya sendiri.  Matanya memandang iri ke sekelilingnya, di sebuah meja yang dijejer memanjang, sekumpulan orang-orang penuh senyum lebar dan sumringah, tampaknya ada semacam reuni disitu, dan saat seorang lelaki yang tampaknya baru datang menyambangi meja itu, semakin meriah saja.  Lalu pun membuat foto spontan dengan telepon genggam.

Sementara di meja depan, seorang lelaki berkaos hitam, dengan perempuannya yang juga berkaos hitam, menunggu pesanan.  Rasanya semua orang, tiada yang sendiri disitu, bersama kawan, keluarga ataupun cuma berdua dengan kekasihnya.  Sungguh tampaknya salah memilih tempat untuk menikmati siang itu.

Sendirian, dan sekarang terdengar lagu dari grup musik akustik, yang baru tersadari ada disebuah sudut, yang menyanyikan sebuah lagu, sebuah lagu tentang rindu tepatnya. Membuat lelaki itu mengetikkan sebuah pesan pendek, untuk dikirimkannya jauh kesana.

.

Sudah tahu kalau sebaris kalimat, atau berbaris-baris kalimat pun, tak akan pernah bisa mewakili gumpalan rindu yang jauh lebih tebal dari awan yang menggelayuti langit.  Tapi paling tidak, orang yang disayanginya tahu, itu sudah lebih dari cukup.  Walau tak pernah cukup waktu untuk menyatakannya, tak kan pernah.

Cinta dan rindu memang sesuatu yang absurd, kadang membuat nyala semangat terbakar hebat, suatu saat malah bisa menenggelamkan diri jauh ke dasar palung laut terdingin di sebuah negeri yang tak dikenal.  Aneh dan menyakitkan.  Sangat.

.

Mereka pernah berkata, bahwa perjalanan jauhnya adalah sebuah keberuntungan.  Tapi tidak bagi lelaki itu.  Segala keberuntungan hanyalah terasa jika berada di dekat perempuannya, tak lebih.  Secerah apapun hari, sehangat apapun mentari, tak sama rasanya jika dirasa sendiri, tak kan pernah sama.

.

Pernahkah kau merasa, bahwa hidupmu adalah juga hidup seseorang.  Bahwa nafas pun terasa tak nyaman untuk dinikmati saat mengingat nafas yang satunya.  Meninggalkan sebuah cinta, rasanya sama dengan meninggalkan hidup dan menghancurkan sehelai nyawa berkeping-keping jauh di angkasa.  Tak terperi kadang sakitnya, namun sebuah keyakinan, bahwa suatu saat akan ada lagi saat bersisian, membuat jejak tetap bertahan menapak bumi.

.

Sebuah rindu, ternyata tak lebih dari jelmaan ribuan luka.  Yang harus dinikmati dan diresapi, untuk semakin membuktikan bahwa semua adalah nyata.  Tak kan pernah ada jalan keluar dari labirin itu, selain segala melepas semuanya pelan, membiarkannya pelan-pelan musnah.  Atau segera melangkah, menemukannya segera, melepas semua perih yang dicipta.

Tampaknya adalah satu-satunya cara, untuk mengenyahkan semuanya, segalanya.  Dan siang masih saja datar, tak bermatahari, tapi lelaki itu sudah melangkah, menjauh dari situ.

..

Pulang.

.

.

*terinspirasi oleh Home – Michale Buble

.

.

*gambar masih nyomot disana..

Advertisements

One Response to “Siang itu ..”

  1. adit-nya niez Says:

    Pulang ke mana oom?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: