Jo ..

“Jo..”  Katamu setengah berteriak sambil balas mengulurkan tangan kirinya, setelah sebelumnya aku mengulurkan tangan kananku.  Lalu tergelak lepas.

Waktu itu hari mendung, tapi hujan belum juga ingin menghampiri bumi, hanya petir dan geledek yang berpesta di langit utara.  Angin memutari segenap alam, teras depan rumah berpagar coklat itu pun tak lepas dari hembusannya.

“Masuk yuk, kayaknya udah mau runtuh langitnya”, katanya sambil menarik tangan kananku, masih dengan tangan kiri yang entah bagaimana belum lepas tergenggam.  Dan benar katamu, seperti juru ramal yang fasih, baru saja memasuki undakan teras, hujan tercurah begitu saja, langsung menghapus hawa panas beberapa detik sebelumnya.

Masih saja menatap wajah di hadapanku, cantik dengan rambut ikal tergerainya, dengan kemeja kotak-kotak dan celana pendeknya, tak seperti yang pernah kubayangkan.  Sebelumnya hanya pernah tahu dari tulisan-tulisan karyanya, aku pengagumnya, dan secara tak sengaja menemukan identitas kecilnya.

Lalu entah bagaimana, teknologi bisa mempertemukan obrolan-obrolan absurd yang mulai berkembang setelah tengah malam, biasanya menurutmu adalah setelah menyelesaikan drfat tulisan-tulisanmu.

Alur yang tak biasa, terbuka dan berani menyoroti satu objek, dan detil, walau padahal tentang hal sederhana dan remeh, itu yang membuatku tambah kagum pada tulisan-tulisanmu.  Walaupun kalau ngobrol gayamu adalah datar dan terkesan hati-hati.

Suatu detik, aku mengutarakan keinginan untuk menemuimu, dan kau pun lama memutuskan sebelum mengiyakan aku sebagai tamu ditempatmu.  Dan, ya adalah jarak yang ratusan meter antara titik aku berada dan dirimu, sehingga perlu waktu beberapa bulan, hingga akhirnya aku bisa berjumpa denganmu, langsung, live !

Dan, ah suara hujan yang tak juga reda, dan udara dingin menyentakku kembali ke masa sekarang.
“Diminum dulu, tehnya..”  Tiba-tiba saja sudah di hadapanku, menyerahkan secangkir teh panas, yang kau bawa dengan sedikit susah payah. Saat aku beranjak mau membantumu, kau hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Kau tamuku, tenang saja lah disitu, eh jadi kapan tadi kesini jadinya naik apaan ?’

Obrolan di sore hari itu pun terus berlanjut, diselingi suara gemericik air hujan, hawa dingin, dan uap teh panas, serta cerita tak terputus darimu, semua cerita mengalir deras, termasuk sepengal cerita saat sebuah kecelakaan merenggut tangan kananmu.

Sungguh suatu sore yang sempurna, sebuah waktu yang tak pernah bisa ku lupakan, saat beberapa saat setelah itu entah bagaimana lagi persisnya, yang jelas hidup kita tak terpisahkan lagi, menjalani hidup yang nyaris sempurna, hidup yang cuma milik kita.

Hingga detik ini, aku pun masih di dekatmu, masih bersama hangatnya dirimu.  Walau semua perlahan pupus lagi, mengalir perlahan seiring hujan yang kembali menderas, terus membasahi tempat peristirahatanmu yang terakhir.

Akhirnya hidup kita ada jeda, tapi seiring datangnya pagi, aku selalu merasa kau masih ada, masih tetap ada, sampai nanti aku menjumpaimu lagi, disana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: