Lelaki itu melangkah keluar

Lelaki itu melangkah keluar, wanitanya hanya bisa terdiam memandang langkah yang meninggalkannya, tak pernah berbalik arah.

..

“Aku minta maaf,”  Wanita itu menghapuskan aura cantiknya dengan tangis yang tak berkesudahan, wajahnya basah.  Kedua tangannya memegang erat lengan lelakinya, yang sedari tadi hanya diam saja. 

“Aku memang yang salah, berjalan dengan dia ….” Kembali sebuah nada sesal yang terdengar, berbaur dengan isak dan nafas yang memburu.  Lelaki itu tak jua bergeming.

Diam.
Beku.
Suara tangis, pelan-pelan menghilang.

Wanitanya pelan-pelan melonggarkan pegangan eratnya.
Memandang lelakinya yang masih saya terdiam, mendekatinya pelan-pelan.
Semakin dekat, hingga tak ada jarak lagi di antara dua tubuh itu.

Melekat, menderu, memburu.
Irama nafas sudah tak tentu arah.
Dan sebuah lengkingan tertahan pun,
mengakhiri segalanya ..

..

Bukankah dulu katamu,jiwa dan hatimu hanya untuk ku seorang ?’  Sebuah janji, sebuah kalimat panjang yang terus berputar-putar dalam pikirannya, adalah nyata dan benar.

Lelaki itu melangkah keluar, wanitanya hanya bisa terdiam memandang langkah yang meninggalkannya, tak pernah berbalik arah.

Lelaki itu terus melangkah, membawa miliknya yang paling berharga dalam sebuah ransel, yang masih meninggalkan jejak, titik-titik merah yang seiring dengan langkah kakinya.

Pemilik hati sejati, cuma bisa memandang langkah yang meninggalkannya, tersandar di dinding, terlihat indah di temaram lampu kuning suram di kamarnya.  Matanya memandang kaku ke arah pintu yang tertutup pelan, mungkin mau mengejar, tapi tubuh indahnya tak mampu lagi melakukan itu.  Sesaat bercinta lalu menghentikan nafas, sungguh suatu seni meninggalkan dunia fana yang tak terperi, meninggalkan cinta dengan cinta.

Lelaki itu terus mengayun langkah, tak terhenti, terus hingga sekejap berdiri di roof top.

Dan aku pun sudah berjanji, kita harus bersatu sampai kapan, pun’  Hanya perlu waktu dua detik, sebelum udara bebas berusaha menahan laju tubuhnya, tapi bumi yang berhasil menyambutnya, dan dua hati yang pecah, dua darah itu kembali satu, dalam satu lukisan genangan merah.

Hening.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: