Terlambat Dita !

cah ndableg punya

Tau kan introvert, adalah sikap tertutup dengan dunia luar, mungkin sebagian membahasakannya dengan cuek.  Begitulah seorang Sofie, cenderung menutup diri pada dunia, walaupun akhirnya dia bisa membuka diri pada dua orang terdekatnya, ya cuma dua.  Sementara kedua orangtuanya pun tak bisa dijadikan tempat bercerita, dia terbiasa dan dibiasakan untuk diam, untuk selalu mengiyakan apa saja kata mereka.

Seorang itu adalah Dita, kawan sebangkunya sejak kelas dua SMA.  Perlu waktu setengah tahun, untuk akhirnya dia bisa bercerita hal-hal remeh seputar kehidupannya, sekitar apa-apa yang ada  di otaknya, yang sungguh tak pernah dibaginya dengan siapapun.  Walau kadang Sofie rajin menuliskan apa-apa yang dirasakannya di sebuah blog, yang awalnya anonimus, dan akhirnya juga baru sebulan terakhir membuka diri ke dunia luas, gara-gara seseorang yang memohon agar postingan-postingannya yang cenderung rapi walau awalnya banyak terkesan muram, tapi sudut pandangnya kadang juga sedemikian luas.

Satu orang lagi, tempat Sofie bisa bercerita, adalah lelakinya, seorang Adit.  Teman sekelas les piano di awal kelas tiga SMA.  Sungguh adalah hal hal menyiksa, mencermati dan mempelajari not-not untuk dirangkai menjadi nada-nada, dan hanya karena menuruti apa kata orangtuanya pula, maka dia merasa terdampar di tempat les itu, setiap kamis dan sabtu sore.  Hingga entah bagaimana, lelaki itu berhasil menelusup ke dalam hatinya.  Seorang Adit pula yang terang-terangan memohonnya untuk membuka protect blognya, sehabis suatu saat membaca hasil postingannya.  Ya Adit adalah pembaca blog pertamanya. Pertama yanga tahu rahasia-rahasia yang Dita pun ada yang tidak tahu.

Tapi siapa yang tahu alur perjalanan waktu.  Seorang yang dia percayai, suatu detik saat menjelang ujian akhir kelulusan, memutuskan untuk menjauh darinya.  Tanpa alasan yang bisa diterimanya.  Meminta maaf dengan sangat halus memang, tapi itu lebih dari sekedar petir dan badai yang menghancurkan titik ulu hatinya.  Pecah berkeping.

Detik itu, adalah 24 April, malam hari, setelah seharian di dalam kamar, lebih merasa sendiri dari sebelumnya.  Menghabiskan persediaan air mata yang ada sedari malam sebelumnya.  Pelansetelah kesadarannya sedikit pulih.  Teringat akan seorang sahabat, satu Dita.

Bergegas menekan phonebook, menelepon.  Menunggu.
Terdengar nada sambung.
Lima detik tersambung, lalu terputus.
Dicobanya lagi, kali ini tak tersambung sama sekali.
Sungguh tak biasanya.

Sofie akhirnya terduduk di sudut kamarnya, matanya nanar. 
Hingga lalu tersenyum tipis melihat syal pemberian Adit.
Pelan dipegangnya, lama.  Dan kembali sisa airmatanya menetes tipis.
Pelan sekali, syal itu terlilit rapi di lehernya, lalu kakinya beranjak pelan menuju kamar mandi,
sejenak ragu memandang lubang angin di atas pintu.

Tapi nafas sudah terhembus, keputusan sudah diambil.
Dan pertanyaan singkat yang berputar-putar di otaknya
“buat apa hidup kalau tak ada yang mau mendengar dan mengerti aku”
Mmebuat tangannya pasti menarik kursi, mengikat ujung syal satunya ke lubang angin..

……

Teras rumah Dita masih terang, malam baru saja menggantikan peran senja.
Duduk dia di kursi rotan, di dekatnya adalah seorang lelaki, temannya di dunia maya sejak lama.
Teman akrab tepatnya, yang begitu akrab dan sebulan terakhir ini semakin terasa mendekat, hingga entah bagaimana bisa menyemaikan harap di hatinya, dan mendadak sore tadi lelaki itu menghubunginya, untuk mendatanginya di dunia nyata.

Sedari datang, dia sudah mulai bisa menambah alasan kekaguman untuk lelaki yang sekarang berada tepat disebelahnya.  Keren sekaligus iseng, belum juga mau mengatakan nama aslinya, selama ini hanya beranonimus dengan panggilan di dunia maya saja.  Tapi sungguh, jantungnya terasa berdetak lebih cepat.

Hingga smartphone yang dipegangnya tiba-tiba bergetar.
“Maaf, ya..”  Katanya pada lelaki itu, sekilas melihat nama penelepon.
‘Sofie’ Desahnya pelan, teman akrabnya, sahabatnya yang sering berbagi cerita padanya.  Yang menjadi awal titik jenuhnya sebulan ini.  Cerita-cerita seputar itu-itu saja.  Tentang keluarganya, tentang paksaan di rumah, memang tak mengganggu sih, 
“tapi aku kan juga perlu refresh sesekali, mendengar cerita yang beda” begitu pembenaran di benaknya, saat perlahan tanpa kentara menjauhi sahabatnya sementara waktu.

Apalagi saat ini, saat orang yang pelan-pelan dikaguminya ada di dekatnya.
Pelan, tombol merah ditekan, off.

“Siapa sih ?” Lelali itu iseng bertanya.
“Ah bukan siapa-siapa.  Biasa ada yang iseng.  Eh ya, jadi siapa namamu nih, ayo dong ?”  Pintanya.

Lelaki itu tersenyum akhirnya lalu menyodorkan tangannya.  Memperkenalkan dirinya.
“Namaku, Adit..”

*inspired by komiknya cah ndableg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: