Cermin

 

Tiba-tiba hari ini aku ingin akrab dengan cermin, melihat bayangan di dalamnya yang setelah kutatap dalam adalah diriku sendiri.  Bermuka, bertubuh, berbaju, bercelana, lengkap.

Pertama sekali, ingin ku tatap bagian paling atas itu. Wajahku.

Tak lama, mata memandang mata, mataku memandang bayangan mataku, identik.
Mata yang ingin selalu memandang yang bagus-bagus, yang indah-indah.  Mata yang selalu inginmemandang orang tersenyum saat memandang ke arahku, padahal di lain  waktu, aku seakanmenjadi pelit memberikan senyum dan tatapan ramah pada orang lain.

Di bawah mata, aduhai ada hidung dengan sepasang lubang yang tak henti menghirup dan menghembuskan napas, berulang kali sepanjang hari sepanjang waktu  tak bosan bernapas. Ringan saja menghirupnya, gratis pula.  Tak jua lupa tugas hidung yang selalu berharap merasa wewangian yang nyaman, yang membuat dunia selalu laksana surga.  Itu maunya hidung, selalu maunya lega tak terkira.   Tapi kadang, suatusaat, aku seakan tak peduli orang lain akan bisa menghirup senyaman apa yang aku hirup.  Lalu kompak dengan mata, untuk saling menutup kondisi mata dan hidung orang-orang di sekitar.

Tak lama-lama, terlihatlah mulut.   Mulutku yang dari sananya terlontar ucapan-ucapan dari yang baik sampai yang terburuk.  Suka menilai, menuduh, menduga, mengira-ngira orang lain semaunya, sering yang tidak baiknya, lalu bergunjing pula.  Padahal, empunya mulut itu juga, tidaklah sempurna.  Maunya dipuji dan dipuja orang-orang, tapi berat untuk memuji dan memuja orang lain.  Tak sadar itu mulut, ingin mendapatkan yang terbaik dalam hidup, tapi tapi mengucap doa pada Sang pencipta saja alangkah beratnya.  Mulut yang lama-lama berbentuk seperti gentong, kian lama kian nyaring kala dipukul.

Letih memandang mulut, keliatan di sisi kiri kanan, tidak sama tampaknya walau sekilas sama bentuknya, yaitu kuping atau kadang disebut telinga.  Telinga yang maunya mendengar hal yang baik-baik saja, mendengar yang keren-keren saja.  Tapi sukanya menutup, jikalau mendengar keluhan orang lain.  Menutup otomatis saat saudaranya merintih dan sengsara.  Maunya didengar tapi terlampau malas untuk mendengar.  Dasar kau telinga !

Baru saja merasa pegal, ingin berlalu dari cermin yang lama-lama terasa, bayangan didalamnya mengejekku puas-puas.  Baru terlihat kening, yang di lain hari disebut jidat, kadang-kadang bernama dahi.  Tampak tiada apa-apa, padahal di dalamnya itu, cairan padat bernama otak, berbelit-belit berdesakan di dalam sana.  Selalu berpikiran dan ingin dipikirkan oleh orang lain yang baik-baik saja, tapi sukanya malah berpikir yang tidak baik akan orang lain.

Baru bercermin sekitar muka, sudah letih rasanya.  Muka yang awalnya tersenyum senyum, pada akhirnya mengerut, lalu undur diri dan malu.

Baiklah cermin, saya berlalu dan beringsut dulu.  Agar muka yang sedari tadi melihat bayangannya sendiri, bisa sedikit tau diri..

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: