Halo.. (part 5)

Berusaha mengingat-ingat, berbekal rasa penasaran, dan sedikit memori tentang perjalanan malam hari yang hangat itu.  Motorku bernapak tilas,sempat beberapa kali menduga-duga, dan bertanya sana sini.  Malah sempat ragu untuk kembali saja, dan meyakini bahwa kejadian beberapa minggu yang lalu, benar-benar mimpi.

Namun, sekali ini keberuntungan sedang berpihak.  Motorku akhirnya terparki r di depan rumahmu, tak salah lagi, hanya satu rumah berlantai dua di sekitar sini, dengan gagang pintu yang jelas terekam kuat.  Jelas karena ajakanmu saat mengajak masuk itu, memaksa mataku malah terfokus pada gagang pintu, sungguh pelarian yang aneh.

Tapi rumah itu sepi sekali, halaman tak berpagar yang tak seberapa luas itu, hijau rapi oleh rumput yang terpangkas berkala sepertinya, ficus benyamina disudut kanan merajai dan meneduhkan dengan lebat daunnya.
Kombinasi fasad rumah itu pun seakan akrab saja, kombinasi warna pastel dan sentuhan warna gelap di beberapa sisi, menjadikannya terasa unik.

Ingin rasanya berjalan ke depan pintu, mengetuk, lalu mengucapkan kata “Halo..”
Tapi, kuputuskan untuk tak jadi.

*****

Pagi ini beda lagi, tak ada sepotong kata yang biasa menyapa, mata setengah sayu yang tertunduk sampai lantai delapan.  Menimbulkan rasa yang hilang, sekilas rindu membumbung di penjuru lift.  Ada yang terasa menguap di hati.

Sial sekali, tak bertemu, tak tahu nama, tak tahu apa-apa.

Semuanya lalu terbayar setelah lewat delapan malam.  Sosok yang kuhapal betul itu, berdiri menoleh ke arah kanan jalan.  Pakai sepatu flat, dan lagi-lagi rambutnya bisa saja membuatku terkejut, kali ini potongan pendek.  Terpapas rapi, nyaris terlihat seperti sosok polwan, tak acuh namun tegas mempesona.

Pengalaman membuatku berani saja, menawarkan diri mengantarnya pulang, lagi.
Walau menatapku sedikit bingung, tapi akhirnya mengangguk setuju.  Wangi Calvin Klein terhirup tipis, saat kuberikan helm padamu. 
Tak banyak kata, motor melaju saja ke tujuan, kau pun diam, tapi tanpa pelukan di pinggang.  Harapan yang terlampau berlebihan, padahal malaikat sudah siap saja mengalah malam ini.

Sesampainya di depan rumahmu, menyisakan heran.  Cuma mengucapkan terimakasih, lalu masuk ke rumah.  Aku menunggu, sedikit ge er, kalau saja ajakan masuk itu muncul lagi.  Pintu itu tak terbuka lagi, tertutup, senyap.  Mau tak mau, malam harus dilalui dengan tanda tanya lagi, bertumpuk-tumpuk.  Apalagi, bertanya nama pun tak sempat.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: