Halo.. (part 3)

……

Tapi, terimakasih.   Malaikat lagi berjaya malam itu.  Kuanggukan saja kepala, yang masih saja bertolakbelakang dengan  inginnya benak.  Kaki yang sepasang inipun sebetulnya ingin ikut melangkah masuk, menyetujui ajakan singkat, yang kuramalkan bakal berbuntut panjang, jika saja seluruh inderaku kompak setuju.

Tapi sekali lagi, kali ini iblis kalah total.  Motor pun berbalik, dan berjalan sedikit berat.  Malah terpikir untuk berbalik lagi.  Buru-buru membatalkan penolakan atas ajakan tadi. Lagi-lagi dingin malam yang mulai pelan terasa, menetapkan arah roda, untuk terus saja.

**

“Halo..” Sebuah kata yang tak bosan, pagi ini, renyah seperti biasa.  Tapi ada yang tak biasa, ada sesuatu yang baru.  Apa aku saja yang baru menyadari, kalau ada sekilas lesung pipit, melekuk di pipi kirimu.  Membuatmu senyummu jadi terlihat makin sempurna, walau setelah satu kata itu, tetap saja tertunduk, lalu bergegas keluar pintu lift, dan melangkah cepat ke lorong di depan.

Warna pastel itupun, tumben berganti warna gelap lagi.  Dark choco, dan samar hidungku menangkap aroma coklat pula.  Perasaan yang aneh, cenderung menipu, memang.

Seperti tak pernah terjadi apa-apa, seperti tak pernah dekat denganku, walau hanya untuk kurang dari satu jam.  Seakan hangat yang diciptakannya sekilas malam kemarin itu tak pernah ada.  Belum sempat berpikir lebih.  Kotak yang seakan berkilat perak itu , bergerak lagi.

Waktu bergerak cepat, tiba-tiba jam delapan malam, berharap bersua lagi.  Tapi harapan kali ini belum beruntung.  Harus melaju sendirian rupanya malam ini.

***

“Halo..” Sapaan itu, nadanya sedikit beda, sedikit riang, sedikit .. apa kata yang pas untuk menggambarkan satu derajat di atas renyah.  Seperti itulah.  Sapaan yang tidak biasanya, setelah dua minggu telingaku tak dimanja oleh rutinitas pagi yang menyenangkan itu. Dua minggu menghabiskan waktu di luar kota, tugas yang tetap saja mengharuskan terperangkap dalam gedung berpendingin terlalu sempurna, dan semakin terasa dingin rasanya tanpa ada sapaan itu.

Tapi hari ini, satu kata itu hadir lagi. Cepat aku menoleh.  Kali ini, ada yang aneh lagi, mataku yang merasakan ada yang aneh.  Rambutnya itu sedikit mengganggu, bukan mengganggu, tapi sedikit aneh saja..

Tidak ada rambut sebahu, tapi kali ini rambut yang lembut melewati bahu.  Dua minggu cukup rupanya untuk bereksprimen dengan penumbuh rambut super ! Sungguh pikiran gila.  Sebuah logika modernisasi menamparku, kalau benda yang bernama wig bisa merubah segalanya dalam sekejap.

Sekilas mataku terparkir pada arah titik dimana matamu yang menunduk, dan ya ampun. Kali ini wedge yang biasanyamembalut betis indah itu, sungguh berani berganti dengan high heel, lima senti kukira-kira. Pantas saja begitu melangkah masuk pintu lift, tinggi kita bisa sejajar.

Kali ini pun, cuma sepenggal kata itu.  Membuatku merasa, kejadian mengantar seorang gadis dengan pelukan lembut sampai ke muka pintu rumahnya, beberapa waktu yang lalu, hanyalah mimpi.  Penasaran dibuatnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: