Pesan

Jakarta, egois dimana-mana, terlebih saat matahari menghunjamkan garangnya tepat tegak lurus di atas langit.  Sedikit sekali, atau bahkan tidak ada, tatapan yang terlihat bersahabat, semuanya tenggelam dengan alam pikiran dan tujuan masing-masing.  Bergegas-gegas, seakan kalau berjalan, apa yang dicari akan hilang, dan mungkin pikiran mereka itu, orang-orang itu, sama.  Bahwa kesempatan tak akan pernah terulang lagi.

Perempatan atrium senen itu tak jua reda.   Lalu lalang manusia, dan segala macam kendaraan bermotor menjadi aksesoris siang yang tiada henti mengalir, jalanan seperti sungai saja layaknya.

Yang terpenting, pekerjaan hari ini, saat ini, sudah lenyap dari list.  Tanpa kendala berarti.  Selesai, finish.

Pekerjaan yang ada mungkin tak populer di mata siapa saja.  Tapi pekerjaan yang sederhana ini secara tak sengaja malah menghantarkanku menuju mimpi-mimpiku dulu, menyusuri jalanan tanpa ada keharusan dengan perintah siapapun. Intinya cuma mengantarkan contoh barang, negoisasi, prosedur administrasi yang cepat dan mudah, lalu mengantarkan barang pesanan.  Semudah itu, dan kegemaranku untuk kemanapun langkah membawa seperti tersalurkan, asal semuanya beres.  Kemanapun tak mengapa.

Seperti baru saja, tak perlu waktu lama.  Rekanan lama, customer akut lah, sudah deal tanpa banyak bicara.  Itu artinya dua hari lagi, aku harus pergi lagi memastikan, semuanya sesuai perjanjian.

Tambahan lagi, hobiku satunya tersalurkan, menerawang jalan pikiran orang-orang lewat tulisan-tulisan, atau lewat apapaun karya orang lain, atau dari mengamati objek orang itu sendiri, selalu menarik,  walau kadang hanya di beberapa bagian saja.  Apalagi coba, kesenangan dan pekerjaan bisa berjalan beriringan.

Hey, kenapa berbicara pekerjaan.  Sudahi saja.  Saatnya melepas lelah tampaknya, dan kakiku menyeretku begitu saja, ke dalam sebuah tempat makan, bahasa kerennya, restoran cepat saji.  Satu hal yang menarik disitu adalah, hotspot internet.

Dan sudah saja, setelah memsan menu dobel, duduk mengambil tempat di sudut,  mengeluarkan notebook dari ransel yang tak jua lepas sedari kemarin.  Menghubungkan koneksi internet.  Menyalakan messenger.

Sign in.

Mengklik salah satu user, pemberi pekerjaan kali ini.  Offline, ternyata.
Ku ketik saja pesan seadanya, ‘bos’ yang satu ini memang aneh.  Tak pernahmau laporan pekerjaan dikirim lewat email, ataupun telepon.  “Kirim pesan via messenger” begitu katanya selalu.

Tak lama, aku teringat sesuatu.  Lalu spontan mengetik satu ID, yang tak sengaja terbaca di tiket XXI beberapa saat yang lalu.

Mengetik tujuh karakter yang entah bagaimana, masih ku ingat saja : niet121.  Sebuah id messenger.  Sangat masuk akal.

Iseng kuketik sebuah pesan.
“Halo, tukang gambar..”

Tak ada balasan.
Ku biarkan saja, makanan yang kupesan, lebih menggoda untuk dihabiskan, daripada menunggu respon yang tak pasti.

Setengah porsi sudah habis, saat bunyi denting lembut, mengejutkanku.  Pesan iseng dan coba-coba tadi, mendapatkan balasan !

niet :  halo juga, penemu bukuku. 🙂

Berpuluh pikiran melingkar-lingkar di otakku detik itu.
Kenapa bisa tertebak kalau.. ah dan bagaimana dia bisa tahu.
kalau itu benar dia.. Kenapa ?

Sebelum berbagai pertanyaan itu membuatku semakin penasaran, kuputuskan untuk menyambung percakapan.  Jari-jariku pun, mulai mengetikkan sebaris kalimat balasan lagi…

Lagi-lagi tak sabar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: