Gambar

Seperti biasanya, setiap membuka buku, apapun.  Bagiku yang paling menarik adalah halaman paling belakang.  Karena disitulah biasanya tertulis identitas, biografi sang pengarang.  Komentar-komentar dari pembaca versi beta, tapi itu kalau untuk buku cetakan, semacam novel.

Bagi buku hasil tulisan tangan langsung si penulis, seperti buku kuliahku itu, dulu, pasti penuh coretan-coretan yang berisi cuplikan-cuplikan peristiwa secara acak.  Atau sekedar kutipan-kutipan kalimat yang menarik, yang didapat dari hasil membaca entah dimana, atau kelebatan kalimat-kalimat ajaib yang ingin ditulis.

Bagiku, halaman bagian belakang adalah bagaikan tempat ekspresi tanpa dibatasi hal-hal serius macam materi-materi kuliah yang seringkali terulang dan membosankan.

Dan tidak hanya bukuku saja, beberapa buku temanku yang pernah kurebut paksa, atau kupinjam secara paksa pula, untuk di potokopi, juga menjadikan halaman belakang buku sebagai tempat coretan bebas, bagai taman bermain saja mungkin.

Buku yang sedang kupegang ini, yang baru saja kulihat beberapa halaman pertamanya, ternyata memiliki halaman belakang yang menakjubkan.  Isinya adalah rangkaian kata-kata singkat, yang indah.  Cuma beberapa baris dan tak beraturan letaknya, sengaja ditulis sembarangan, kadang miring-miring, kadang terbalik, bahkan ada yang ditulis terbalik yang mengharuskan pembacanya meminta bantuan cermin untuk tahu apa isi tulisannya.

Satu kalimat saja yang terbaca untuk sementara, itu saja sudah menarik hatiku, sangat.
tertulis di bagian pinggir, dengan huruf yang kecil-kecil, tapi rapi dan penuh ornamen iseng.

..”adalah buih ombak yang mengusir mimpiku, bukan langkah yang tak pernah terarah
tapi sunset tetaplah berhasil melukiskan isi kepalaku akan tentang kau.. “

‘Sebuah kalimat yang mengambang, dan bikin penasaran’ Pikirku

Tak tahan lagi dengan penasaran akan rangkaian sketsa yang sekilas acak, namun dipikiranku berurutan.  Kulihat satu persatu, menikmati segala goresan yang ada dan menebak-nebak apa yang ada si pikiran tukang gambar berambut merah itu, saat menuangkan segala yang ada dia benaknya.

Dan, goresan-goresan itu terhenti di halaman dua puluh tujuh.  Aku baru sadar, selain tak pernah lupa membubuhkan sign-nya, selalu ada tertulis penanda halaman yang ditulis dalam bentuk angka dan di lingkari.

Halaman ke dua puluh tujuh itu, memperlihatkan gambar seorang lelaki, berambut panjang dan terikat seadanya, sedang memandang tak peduli ke arah keluar semacam jendela.  Entah apa yang ada dipikiran lelaki yang ada di gambar itu.

Tapi sejenak kemudian, melihat detil gambar yang ada, aku baru menyadari sesuatu.  Lelaki yang ada di gambar itu, adalah aku..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: