Buku

Semburat rasa hangat yang menerpa wajah, suara riuh beberapa titik keramaian, akhirnya berhasil mengembalikanku lagi ke alam nyata, yang sudah pagi rupanya.
Entah jam berapa tadi malam, dinihari mungkin, kembali ke alam tenang,ke dunia damai.  Setelah sempat bermimpi aneh dan minum air mineral, berdua,dengan sedikit kalimat saja.

Memandangke arah pintu gerbong, masih ada dua tiga orang yang menunggu giliran keluar.  ‘Baru berhenti rupanya’ Pikirku.  Mengalihkan pandang ke sisi kiri, kosong.  Tak ada lagi sosok indah tanpabanyak kata itu.  Tapi hey, sebentar apa itu.

Tepat di bagian lantai, di depan tempat duduk, bekas tempat duduk sosok ramping yang sepanjang malam tenang disampingnya,tergeletak sebuah buku.  Kuambil saja, ‘mungkin diperlukan, mungkin dicari empunya lain hari, atau lebih bagus lagi ada informasi tentang dirinya’  Pikirku sedemikian jauh.

Ternyata itu bukanlah buku yang dipegangnya sedari berangkat kemarin malam.  Buku ini lebar seperti buku tulis.  Bersampul hitam polos, dan setelah tiga menit, aku memutuskan untuk membuka saja buku yang sedari tadi cuma dilihat sampulnya saja.

Baru halaman pertama yang tampak, otakku memutuskan untuk takjub.  Memerintahkan mulutku untuk membeku, menyuruh tanganku untuk bergegas membuka lembaran-lembaran berikutnya.

Isinya adalah sketsa-sketsa yang sekilas terlihat acak, namun aku entah bagaimana, bisa melihat benang merah antara gambar-gambar yang tercipta begitu rapi, walau ada yang masih setengah jadi.

Sebagian besar dibuat dengan bolpoint, pilihan alat tulis yang menarik.  Sebagian digambar dengan spidol, sebagian yang sangat kecil dengan pensil. Tapi semua guratan-guratan yang tercipta memperlihatkan bahwa pemilik tangan dan jemari yang melukiskanapa yang ada dibenaknya, jelas memperlihatkan kepiawaian yang tidak semua orang punya.

Seperti layaknya pelukis profesional, selalu ada tanda jejak pembuatnya, inisial yang bertuliskan empat huruf yang masing-masing dipisahkan dengan tanda titik – n.i.e.t – di sisi kanan hasil karyanya, di tiap lembar begitu. Ya di sisi kanan, bukan di sudut, seperti yang biasanya aku lihat di lukisan-lukisan ataupun ilustrasi yang ada di koran langganan hari minggu.

Lima lembar yang sempat kubuka, sebelum memutuskan untuk turun saja dulu.  Buku menarik itu kumasukkan ke kantong di bagian depan ransel. Sepasang kakiku bergegas menuju pintu keluar, melompat.  Menjejakkan kaki ke tanah lagi.  Lalu memandang ke sekeliling stasiun tujuan yang bernuansa hijau. ‘Gambir yang tak berubah’ gumamku.

Aku pun memutuskan untuk duduk di bangku yang ada di bagian sisi stasiun.   Tak sabar melihat hasil lukisan tukang gambar yang menarik ini.  Tak sabar melihat halamanpaling akhir dari gambar-gambar yang saling membuat jalinan cerita itu.

Ya,  tak sabar..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: