Sexy part 6 – The tattoo

Al tak pernah sekalipun mengucap cinta
paling tidak langsung di depan Ve

tapi anehnya, justru itu yang Ve suka,
mungkin cukup merasakannya saja

dan seperti suatu ketika Al berucap, saat mereka berdua berteduh di bawah swietenia macrophlyla, suatu sore yang gerimis
“buat apa sih ucapan cinta..”
dan anehnya Ve tetap saja senang mendengarnya..

Ketidaksukaan Al mengucapkan kata yang malah diagungkan oleh sebagian orang itu, adalah unin bagi Ve. Semakin lelaki itu membantah, semakin suka dia.

Suatu sore, di emperan Malioboro, berjalan berdua saja, menyusuri dari ujung ke ujung.
Sampai di tengah-tengah, Al menghentikan langkahnya, sekilas tersenyum.

“Ada apa, mau beli batik ?”
Langsung nongkrong saja, di depan pembuat tattoo.

“Eh, bikin tattoo ?” Kening Ve mengernyit, heran.
Yang ditanya malah memilih-milih motif. tak ada yang cocok rupanya.
Al mngeluarkan notesnya dari saku depan ranselnya.
Corat coret sebentar, kalo bikin skets ngawur lumayan lah. Lalu mengangsurkannya ke pembuat tattoo.

“Ini tahan berapa hari, mas ? ” Tanyanya sambil menggulung lengan kaosnya, menunjukkan lokasi untuk di gambar.

“Semingguan, lah” Sambil mempersiapkan peralatannya. Bikin yang temporer cepat saja, bukan.

Ve jadi ikutan nongkrong.
“Bikin gambar apaan sih ? ” Tanya yang tanpa jawab itu menggantung saja.

“Udah tunggu saja, nanti dikasih liat ” Malah nyengir yang ditanya.

Tidak sampai lima belas menit, selesai. Sederhana saja rupanya motifnya.
Tak lama Al dengan konyol memamerkan hasil karya seniman gambar itu ke Ve, sambil memberikan bonus dua jempol tinggi-tinggi kepada si mas pembuat tattoo.

dan tiba-tiba saja Ve merasa semburat merah menghiasi lesung pipitnya, dan terasa hangat.
Entah hari apa itu, tapi kekonyolan yang sangan diingatnya.
Tatoo temporer itu sederhana saja sebenarnya, tapi rasanya mampu membuat seluruh emperan itu terasa cerah berbunga dari ujung ke ujung tiada berujung.

…….

“Jadi bikinnya, mbak ?”
Mas-mas pembuat tattoo di emperan Maliobor itu mengagetkannya.
Kembali membuatnya tersadar berada dalam keramaian.
Sore sudah beranjak malam.

Ve mengangguk pelan, sambil mengangsurkan lengannya.
Ingatannya akan Al menyeretnya untuk melakukan kekonyolan yang sama.
Tapi tanpa ada senyum, tanpa ada yang terkejut.

Tak sampai limabelas menit, motif yang dimintanya itu terlukis di pergelangan tangannya.
Persis seperti yang Al buat dulu.
tattoo temporer dengan motif sederhana, lima huruf dengan dua strip penghias

Al~O~Ve

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: