Setinggi Angkasa

Seorang kawan bercerita soal kecemasannya saat akan menjalani ujian mengemudi.  Ketakutan akan segala macam kemungkinan yang akan terjadi saat ujian yang bahkan belum berlangsung itu.

Saya cuma bisa bingung, sambil berusaha menyampaikan kata bijak.
“Hey, buat apa takut, dan sama siapa ? Sama yang nguji ?  Yang toh juga tak lebih dari manusia juga, kan ?”

Intinya sih, ujian itu kan pada dasarnya hanyalah untuk apa ya, ya menguji lah.  Sejauhmana kita siap akan materi yag akan di ujikan. 
Dan kalau sudah dipersiapkan sedemikian rupa, dilatih, diasah, tinggal berusaha menjauhkan segala macam perasaan yang malah membikin konsentrasi buyar ambyar modyar.

Jadi teringat akan masa lalu.
ok ok sedikit nostalgila.

Ceritanya ada seorang lelaki yang pengen nembak seorang perempuan.
Nembak itu, halah tau sendiri lah definisi membak disini.

Segala macam cara, ekspresi dicoba, dilatih, dipersiapkan.
Tak lupa baca doa dan minta doa restu dari sana sini.

Dan pada akhirnya,
saat ada kesempatan berhadapan dengan perempuan yang tak pernah tahu bakal jadi target penembakan.  Yang terjadi ternyata adalah…

Diam, beku, tak bersuara, gugup dan bermacam ekspresi yang tak patut di buka dan di publish di depan umum.

Akhirnya ya kacaulah, tak terjadi apa-apa.
Ending yang tragis, memang.

Mungkin istilahnya ya demam panggung, gitu.
demam panggung tanpa panggung.

Padahal ya, cuma mengatakan apa yang perlu dikatakan,
dan itu hanya memerlukan waktu tak lebih lama dari nonton satu film India.

Dan kalau sudah dikatakan, pasti ada rasa lega luar biasa.
Jauh luar biasa dari rasa saat sesaat keluar dari wc.

begitu juga, kembali ke masalah ujian di awal narasi tadi,
toh tinggal katakan saja apa yang perlu dikatakan,
ngejawab apa yang ditanyakan,
sesimpel itu kan ternyata.

semua pasti bisa terlewati kalau sudah dipelajari, diyakini
dan tentu yang paling penting

teringat akan kata-kata seorang dosen saya dulu,
“kalau kau maju dalam satu ujian, yakinlah bahwa hanya kau dan Tuhan saja yang benar-benar tahu persis apa yang kau jabarkan”

Jadi intinya dari segala macam inti itu adalah
yakin pada diri sendiri,
tarik nafas dalam-dalam
lalu melangkahlah dengan rasa optimis setinggi angkasa.

 

Ok ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: